Friday, September 25, 2009

Dialog...

Saya sedang bercerita kepada teman saya anak IMM tentang mudik, bagi saya mudik hanya fenomena biasa yang akhirnya dibudayakan. Karena dibudayakan mudik seolah-olah menjadi sesuatu yang sifatnya wajib dan jika orang punya kampung tapi dia tidak mudik maka menurut teman saya dia punya masalah di rumah. Nah saya jadi teringat kenapa saya tidak buru-buru mudik padahal sudah mendekati lebaran, saya bilang ke teman saya bahwa saya tidak pulang karena males. Kemalasan saya disebabkan oleh kegagalan pencalegan saya pada pemilu legislatif kemaren. Meskipun sebenarnya saya sudah santai dan mengikhlaskan semuanya, karena bagaimanapun segala yang kita lakukan pasti ada resikonya. Dan resiko itu bisa baik dan bisa juga sangat tidak baik alias akan menyakitkan diri kita baik secara fisik maupaun secara psikis.

Tiba-tiba murid saya nimbrung dan bilang: ibu tidak usah malu bu, ibu harus biasa-biasa saja dan tetap semangat, karena ibu masih punya pekerjaan mulia yaitu sebagai seorang guru. Tanggapan yang sangat luar biasa dan sangat menggembirakan hati saya. Sebagai seorang guru saya mengharapkan murid saya menganggap saya sebagai patnernya dalam belajar. Saya ingin semua murid saya bisa senang dan nyaman dengan kehadiran saya. Saya ingin mereka mengharap kehadiran saya ketika saya tidak masuk sekolah.

Bagi saya pribadi, murid adalah aset masa depan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Murid adalah anugrah dari Tuhan yang harus didampingi hingga mencapai keberhasilan awal. Murid adalah manusia yang punya karakter unik dan harus dipahami pola berfikirnya. Tentu ini tidak menafikkan kapasitas guru yang juga harus dihargai dan dihormati oleh murid-muridnya. Atau lebih pantas dan adilnya yaitu saling menghormati dan menghargai antara guru dan murid.

0 comments:

Post a Comment

 

Blogroll

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog