Friday, November 30, 2012

Pendidikan Lingkungan Hidup...


Bicara lingkungan tidak boleh abstrak tetapi harus nyata. UMJ FIP akan mengadakan diklat kepada guru-gurunya dalam rangka sosialisasi kurikulum PKLH, kenapa gurunya karena yang bersinggungan langsung dengan murid adalah guru-gurunya.

Guru tidak boleh bau badan, kasihan murid-muridnya yang bersinggungan langsung dengan kita sebagai guru. Bau badan seolah sepele, tetapi sangat mengganggu secara pendidikan. Artinya seorang guru harus benar-benar memperhatikan kebersihan dan kerapian penampilannya.

Kurikulum boleh bagus, tetapi yang paling penting adalah kompetisi gurunya. Kata Soekarno; tidak penting siapa pemerintahnya tetapi gurulah yang akan melahirkan tunas-tunas bangsa dan tunas-tunas bangsa itulah yang akan mengisi kemerdekaan di Negara Indonesia.

Memodifikasi pelajaran dengan lingkunga alam sekitar, sehingga siswa bisa langsung praktek ke lapangan secara langsung. Guru harus lebih banyak lagi ke luar ruangan dalam proses belajar mengajar, supaya siswa tidak merasa bosan hanya belajar di kelas.

Kepala sekolah yang bijaksana mustinya sangat memperhatikan kesejahteraan dan kualitas guru-gurunya. Semakin guru-gurunya berkualitas, maka sekolah juga akan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena yang bisa mengembangkan kualitas sekolah adalah guru-guru. Kedepan mustinya diusulkan kepada pemerintah agar dalam menilai sekolah sebagai sekolah Adiwiyata, juga memperhatikan kualitas dan kapasitas para guru-gurunya.

Guru tidak perlu menerangkan tentang materi PKLH secara detail, tetapi bagaimana siswa bisa merasakan bahwa apa yang sedang disampaikan oleh guru adalah sebuah pembahasan tentang bagaimana siswa peduli terhadap lingkungan disekitarnya. Ajaklah siswa-siswi untuk sering praktek keluar, sehingga mereka bisa merasakan langsung betapa indahnya alam sekitar sehingga perlu dijaga dan dilestarikan dengan baik.

Guru adalah pengganti Rasulullah, masuk syurga dahulu dibandingkan dengan Hakim, karena guru adalah pekerjaan mulia yang menyampaikan ilmu yang bermanfaat. Pekerjaan guru itu tidak mudah dan tidak gampang, harus benar-benar professional dan komitmen. Guru harus benar-benar mempunyai kompetensi kepribadian dan sosial sebagai seorang guru.

Nilai itu bukan hal yang sangat penting, yang paling penting adalah proses dan output yang berkualitas. Guru yang paling berat adalah ketika mengajar di Sekolah Dasar dan PAUD, karena mereka adalah anak-anak kecil yang masih butuh banyak pendampingan ekstra. Guru Sekolah Dasar dan PAUD musti mempunyai kesabaran yang luar biasa.

Beban tas anak Sekolah Dasar terlalu berat dan berlebihan, sehingga anak-anak lelah membawa beban tas yang terlalu berat. Mustinya ada loker untuk siswa, sehingga buku anak-anak tidak perlu dibawa pulang tetapi cukup ditinggal di sekolah saja. System yang memang kurang baik mustinya mulai dipangkas dan dibenahi, harus dimulai dari sekarang dan dari yang paling kecil sekalipun.

Guru itu harus pintar, cerdas, kreativ, inovatif, dan menyenangkan, karena guru itu adalah pusat perhatian para murid-murid. Sebelum masuk kelas guru musti mengecek dirinya secara keseluruhan, sehingga interaksi yang berlangsung di kelas menjadi menyenangkan. Jadilah guru yang menyenangkan, sehingga ketika guru tidak datang murid merindukan kita.

Pemerintah mulai merangkul sekolah dengan program MBS, mampu tidak sekolah mengelola sekolahnya dengan baik dan benar dengan berbasis manajemen sekolah yang modern. Sekolah harus menyambut baik kepercayaan dari pemerintah untuk dapat dimanfaatkan dengan baik dan sungguh-sungguh.


Continue Reading...

Thursday, November 29, 2012

Rasa unik....

Cerita I
Chatting sama teman lama, sebut saja namanya Nur. Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengannya, ternyata dia sudah menikah sekitar lima bulan yang lalu. Betapa bahagianya saya mendengar Nur telah menikah, setelah sekian lama pernikahan itu dia nantikan. Lama Nur chatting dengan saya hingga akhirnya Nur cerita bahwa pernikahannya yang baru berumur lima bulan harus berakhir karena alasan bla bla bal dan bla. Salah satunya adalah ego suami Nur yang menurut Nur begitu tinggi, hingga susah untuk dikompromikan. Apa yang dilakukan Nur dari masak, mencuci, berbicara, bekerja, dan lain-lainnya seolah salah di mata suaminya. Bahkan di akhir ceritanya, suami Nur mengusir Nur dari rumah kontrakannya di Jakarta supaya Nur kembali ke Jawa Tengah. Saya terus terang kaget sekaget kagetnya, hingga tiba-tiba saya berucap; "eh mbak, tu suami kamu sekarang di Jakarta mana? biar saya samperin dan saya maki-maki tu orang, kurang ngajar banget memperlakukan perempuan dengan semena-mena". Nur teman saya langsung kaget dan bilang; "mbak, sudahlah biarin saja, tidak usah juga menghakimi dia, mungkin ini sudah jalan hidup saya harus begini, saya ikhlas kok menerima semuanya". Waduh, bahaya ini kalau semua perempuan berpikiran seperti Nur, lama-lama para laki-laki pasti akan tambah nglunjak sama kaum perempuan.

Cerita II
Saya sedang mengambil laundry di komplek rumah saya, tiba-tiba saya tergelitik untuk sekedar mengobrol dengan pegawai laundry nya, sebut saja namanya mbak Emi. Mbak Emi adalah perempuan berusia 33 tahun, dia telah mempunyai anak yang telah duduk di bangku SMP kelas dua. Mbak Emi sedang pusing dan sedih memikirkan nasib anak pertamanya yang baru berusia 12 tahun tetapi sudah mempunyai pacar, dan pacarannya sudah sangat intim seperti orang dewasa. Bahkan orang tua dari cowoknya sudah datang untuk melamarkan anaknya mbak Emi, padahal usia si cowok juga relative masih muda yaitu 17 tahun. Mbak Emi dan suaminya menolak dengan baik-baik, karena Mbak Emi dan suaminya masih ingin melihat anak perempuan pertamanya sekolah minimal hingga bangku SMA.Tetapi si cowok dan pihak keluarganya kekeh meminta agar setelah lulus SMP si cewek tersebut agar bisa dinikahkan dengan anaknya. Anehnya, si cewek tersebut bersedia menikah dengan kekasihnya tersebut. Padahal orang tuanya sudah mengingatkan supaya sekolah yang tinggi dan jangan dulu menikah. Karena menikah di usia muda kurang bagus dalam banyak hal seperti; kesiapan psikis, mental, fisik, dan religi. Bahkan tidak jarang yang meninggal dunia bagi si perempuannya ketika melahirkan anaknya, meninggalnya ibu muda tersebut dikarenakan ketidaksiapan fisik dan psikis untuk melahirkan seorang bayi. Tapi mbak Emi cerita bahwa culture yang terbangun di kampung itu adalah bahwa perempuan yang lulus SD atau SMP sudah layak untuk menikah, jika ada perempuan yang berusia lebih dari 17 tahun tetapi masih single, berarti perempuan tersebut dianggap tidak laku.

Cerita III
Saya suka makan tutut di daerah Parung, nah suatu ketika penjaganya sebut saja namanya mbak Een curhat sama saya. Usia mbak Een sudah lewat 40 tahun, tetapi dia belum juga menikah. Saya bilang kalau memang tidak mau menikah yah tidak apa-apa, tapi kalau ingin menikah yah musti cepat dan tepat. Karena perempuan maksimal bisa hamil rata-rata adalah pada usia 40 tahun. Mbak Een akhirnya cerita detail kepada saya bahwa dulu dia sempat mau menikah dengan seorang laki-laki sebut saja Yono. Yono sudah menjanjikan hal-hal yang manis kepada mbak Een setelah mereka menikah nanti, dan mbak Een begitu percaya dengan apa saja yang disampaikan oleh Yono. Pada hari perkawinan si Yono tidak kunjung datang tanpa keterangan apapun, akhirnya keluarga mbak Een mencari tahu sesungguhnya apa yang terjadi dengan Yono. Ternyata usut punya usut si Yono telah mempunyai istri dan anak, itu karena kenapa Yono tidak datang pada acara perkawinanya dengan mbak Een. Pupus sudah harapan dan angan mbak Een untuk berumah tangga dan hidup bahagia dengan Yono. Tanpa pikir panjang mbak Een langsung membatalkan perkawinannya dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa dirinya tidak jadi kawin. Itulah kenapa hingga sekarang mbak Een masih lajang dan belum memutuskan untuk kembali menjalin rumah tangga.
Continue Reading...

Wednesday, November 21, 2012

Jambret Budiman...

Malam itu saya tiba di depan gerbang kurang lebih pukul 01.00 malam, saya tidak tahu kenapa malam itu agak ragu dan sedikit takut untuk melangkahkan motor saya, padahal hari-hari saya sering banget pulang malam karena memang ada urusan di Jakarta, yah bagaimanapun jarak dari gerbang utama ke rumah saya kurang lebih lima kilo meter, maklum rumah saya adanya di komplek paling ujung. Ketakutan itu semakin bertambah saat saya ingat cerita satpam dan anak-anak muda setempat yang bilang bahwa di dalam komplek itu sering terjadi penjambretan (Hp, tas, dan motor), pelaku juga tidak segan-segan melukai korbannya. Sebenarnya sih semua itu kan nasib saja, artinya saya yakin bahwa Allah itu pasti punya rencana tertentu untuk hidup manusia, sehingga mustinya tidak patut terlalu takut dengan keadaan, karena yang patut kita takuti hanyalah Allah semata.


Akhirnya saya tetap masuk gerbang dan membawa motor saya dengan kencang, tiba-tiba setelah jalan kurang lebih dua kilo di depan saya ada motor jalan pelan di sebelah kiri jalan (dua orang laki-laki muda), saya tidak berpikir aneh-aneh ketika itu, justru saya merasa senang karena ada barengan, lumayan kan dari pada jalan sendirian, sementara rumah saya masih jauh. Saya kemudian menyalip motor tersebut dan tepat berada di depan motor tersebut, selang beberapa menit kemudian tiba-tiba motor tersebut menyalip motor saya dan langsung menghadang/memalang motor saya, sehingga mau tidak mau saya pun harus menghentikan motor saya dengan segera. Saya lepas airphone tanpa mematikan lagu, karena saya khawatir dua orang laki-laki tersebut mengincar HP saya. Oya saat itu yang ada di otak saya hanya satu, saya yakin bahwa Allah akan menolong saya, dan keyakinan itu begitu kuat luar biasa. Beginilah dialog saya dengan jambret tersebut:

Saya: iya mas kenapa? (dag dig dug der jantung saya)
Laki-laki yang di depan masih di motor, dan laki-laki yang belakang turun dan nyamperin saya, sebenarnya bukan nyamper karena jarak saya dengan mereka begitu dekat kurang lebih setengah meter.

Laki-Laki: saya mau tanya ke arah Cibeteung kemana ya?
Saya: owh, mas nya lurus terus saja nanti ketemu pos satpam di belakang, kalau masih bingung tanya saja sama satpam, atau masnya mau bareng sama saya?
Laki-laki: memangnya teteh mau arah kemana?
Saya: saya kebetulan tinggal di Beranda Ganesha bagian paling ujung.
Laki-laki yang depan memberikan pisau ke laki-laki yang sedang ngobrol dengan saya, saya benar-benar melihat dengan mata saya pisau tersebut, tapi alhamdulillah sama orang yang sedang ngobrol dengan saya pisau itu disakuin di jaketnya, demi Allah jantung serasa mau copot.

Laki-laki: (melihat ke arah HP saya yang terletak di saku kanan jaket, dan laki-laki yang di motor menoleh berkali-kali ke arah saya seraya melototot)
Saya: maaf ya mas, mas nya bukan orang jahat kan? maaf ya mas, saya guru lho di SMA Muhammadiyah 18, saya pulang malam karena habis rapat dari STM Boedot karena besok mau ada aksi damai stop tawuran pelajar di bundaran HI, kebetulan saya panitia inti, makanya saya pulang malam mas.

Laki-laki: owh enggak teh, saya cuma, ehm saya cuma mau nanya arah Cibeteung kok, emang teteh guru apa?
Saya: saya kebetulan guru PKn mas, emang mas nya dulu sekolah dimana?
Laki-laki: saya lulusan Tedhe teh, dua tahun yang lalu.
Saya: owh anak stm to? anak stm jawa (adek-adekkan) saya juga suka main ke rumah tau, terus anak stm bizher basis gunung sindur juga suka ke rumah nginep, terus saya juga kenal sama anak-anak muda yang rumahnya di kampung anyar atas komplek Beranda Ganesha.
Laki-laki: owh teteh kenal sama anak-anak sini juga?
Saya: alhamdulillah saya dekat sama anak sini mas, mereka teman-teman saya kok.

Pisau masih di saku jaket alhamdulillah tidak dikeluarkan, laki-laki yang duduk di motor terlihat panik dan kesal, seolah ngasih kode untuk cepat beraksi ke temannya yang sedang asyik ngobrol dengan saya, tiba-tiba ada motor lewat saya sungguh ingin sekali berteriak minta tolong, tapi nalas logis saya masih jalan, saya takut saja jika itu jambret pura-pura kenal dengan saya, otomatis pasti motor yang lewat tidak mau mengganggu urusan saya sama jambret tersebut.

Saya: jadi gimana mas? mau bareng ke belakang? nanti saya kasih tau ke mas nya arah ke desa Cibeteung? (sumpah Demi Allah, panik dan takut yang saya rasakan)
Laki-laki: ehm, tidak jadi teh, kami mau ke depan dulu nyamper teman disana, teteh silahkan jalan.
Saya: okeh dech kalau begitu, oya saya minta maaf ya mas tadi sempat berburuk sangka sama mas nya, Demi Allah saya tidak ada niat begitu, karena dalam hidup saya, saya selalu berusaha berbaik sangka sama semua orang, meskipun orang tersebut berniat jahat sama saya. (sambil tersenyum)
Laki-laki: iya teh saya ngerti.
Saya: saya duluan ya mas? makasih (sambil ngegas motor/ngebut benar-benar ngebut) dari kejauhan saya lihat motor tersebut berbalik arah dan semakin menjauh dari spion motor saya.

Subhanallah, maha suci Allah yang selalu menolong hambanya ketika dalam keadaan suka maupun duka. Meski kadang kita sebagai hambanya seringkali lalai dengan keberadaan Allah. Tiba di rumah saya langsung diam dan gemetar, saya bersyukur karena masih di tolong oleh Allah, dan satu hal yang ingin saya sampaikan ke teman-teman bahwa dalam keadaan seperti apapun usahakan untuk tetap tenang, tidak panik, dan yakin akan pertolongan Allah. Keep smile.
Continue Reading...

Monday, October 29, 2012

Sumpah Pemuda...

Saya punya mahasiswa sebut saja namanya Budi, setiap saya mengajar dia selalu duduk di paling depan. Tidak hanya di depan si Budi juga sangat respons dengan semua yang saya sampaikan, hampir setiap sesi dia selalu bertanya dan memberikan pendapatnya tentang materi yang sedang dibahas. Kebetulan saya mengajar mata kuliah IAD, ISD, dan IBD, mata kuliah yang membahas tentang ilmu alam dan ilmu sosial masyarakat. Tidak hanya aktif si Budi juga selalu membantu setiap kali saya membutuhkan sesuatu misalnya dia selalu membawakan saya laptop untuk saya mengajar. Belakangan saya tahu bahwa ternyata dia adalah ketua kelas di kelas itu, wajar jika dia begitu care sama saya dan care sama teman-teman satu kelasnya.


Suatu hari saya mengusulkan ke kelas itu untuk mengadakan observasi ke Taman Ismail Marzuki Cikini Jakpus, kebetulan ada planetarium yang bisa digunakan untuk penelitian IAD, dan untuk observasi ISD dan IBD nya saya menyarankan agar mahasiswa menggunakan lingkungan sekitar TIM seperti pengamen, pedagang asongan, tukang bajaj, tukang ojek, mahasiswa IKJ, dan pengunjung XXI. Karena si Budi ketua kelas, saya banyak berhubungan dan berdiskusi dengan Budi untuk mempersiapkan observasi tersebut. Dari situlah saya mulai tahu siapa Budi dan seperti apa latar belakang kehidupan Budi.

Budi asli berasal dari daerah di Jawa Tengah yaitu Cilacap, Budi lulusan salah satu STM di daerah Purwokerto Banyumas Jawa Tengah. Tahun 2008 Budi ke Jakarta bermaksud mengadu nasib dan peruntungannya di Jakarta. Awalnya dia ikut tetangganya jualan cilok di Jakarta, selama tiga tahun dari 2008 hingga 2010 dia jualan cilok keliling di Jakarta. Budi bercerita bahwa dia harus menurunkan harga dirinya untuk terus bisa jualan dan supaya tidak malu jika dicemooh sama orang. Bagaimanapun Budi punya ijazah STM jurusan Teknik, mustinya dia kerja di kantor atau perusahaan dan bukan malah jualan cilok. Tetapi bagi Budi bekerja apapun tidak masalah yang penting halal, lagi pula Budi merasa mempunyai bakat untuk jualan makanya dia menjalani profesinya sebagai pedagang cilok keliling hingga tiga tahun lamanya.

Sekarang Budi tidak lagi berprofesi sebagai penjual cilok keliling, saat ini Budi telah menyewa rumah lumayan besar di komplek perumahan daerah Tangerang. Dua tahun terakhir ini budi telah menjadi pengusaha cilok dengan beberapa anak buah dan beberapa gerobak cilok. Budi sudah bisa menghidupi dirinya, adiknya, dan keluarganya di kampung. Salah satu adik perempuannya ikut ke Jakarta tinggal bersama Budi, bermaksud akan di kuliahkan oleh Budi. Budi juga sudah bisa memberikan pekerjaan dan gaji kepada orang lain yang membutuhkan. Meski sudah sukses Budi tetap memegang satu gerobak cilok untuk sesekali berjualan di pasar malam/pasar kaget di daerah Tangerang dan sekitarnya.

Suatu kali saya pernah menyempatkan diri untuk ikut Budi jualan di salah satu pasar malam di daerah Tangerang, saya menunggui Budi jualan kurang lebih ada satu jam. Subhanallah, begitu bangganya saya mempunyai mahasiswa seperti Budi, di sela kesibukannya melayani pembeli yang kebanyakan anak-anak kecil Budi bercerita kenapa dia tertarik untuk kuliah? Budi awalnya tidak minat kuliah karena dia sudah mempunyai cukup uang untuk hidupnya, tetapi karena seringnya lewat kampus tempat saya mengajar, Budi tiba-tiba berpikir untuk kuliah, karena dia sadar bahwa mencari ilmu itu harus terus dilakukannya hingga nyawa terlepas dari badannya. Di sela-sela kesibukannya juga dia mengenalkan saya kepada beberapa teman-temannya yang kebetulan berdagang disitu bahwa saya adalah dosennya di kampus. Rata-rata orang tersenyum melihat saya duduk di samping Budi seorang pengusaha cilok yang usianya masih relatif muda. Dan sebagai dosen/gurunya saya sangat bangga melihat mahasiswa/murid saya menjadi seorang PEMUDA TANGGUH dan PEMBERANI.

Sosok Budi saya pikir perlu dicontoh oleh para generasi muda saat ini yang mohon maaf lebih senang berpangku tangan kepada orang tuanya dari pada berusaha sendiri untuk maju dan mandiri. Pemuda/remaja sekarang tidak begitu suka dengan sebuah tantangan hidup, mereka terlalu pasrah oleh keadaan dan terlalu takut menghadapi hidup yang memang rumit dan berat. Sedikit dari mereka yang mempunyai optimisme tinggi dan kreatif dalam menjalani hidupnya. Padahal dalam teori kehidupan musti diyakini bahwa apa yang kita lakukan pasti akan berbuah sesuai yang kita inginkan dan masalah apapun dalam hidup harus dihadapi karena semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalau dalam teori Islam nya yaitu bahwa Tuhan pasti memberikan jalan atas semua masalah yang diberikan kepada hambanya, bagi hambanya yang mau bersabar dan mau berusaha mencari jalan keluar.

Hidup pemuda Indonesia.
Bangkitlan untuk membangun bangsa.
Di tanganmulah negeri ini berharap banyak.
Tunjukkan bahwa kalian pasti bisa.
Continue Reading...

Monday, October 15, 2012

Tepati Janjimu....

Kisah 1
Hari ini saya ke Jakarta tepatnya di Kemendiknas daerah senayan, saya telah janjian dengan Mbak Lilis salah seorang pegawai Kemendiknas bagian beasiswa unggulan. Saya sebenarnya agak berat turun ke Jakarta dari Parung Bogor, karena waktu telah menunjukkan pukul 13.30. Sedangkan semua orang tahu bahwa jarak Parung ke Jakarta tidaklah dekat, paling tidak butuh dua jam untuk bisa sampai ke Kemendiknas Jakarta. Saya hampir memutuskan untuk datang lusanya dan membatalkan janji hari ini dengan Mbak Lilis, tetapi tiba-tiba saya ingat bahwa sebelumnya saya pernah janji juga dengan Mbak Lilis tetapi saya batalkan karena ada tamu dari Philipina yang datang ke tempat dimana saya bekerja. Akhirnya dengan bismillah saya turun ke Jakarta berniat menepati janji saya bertemu dengan Mbak Lilis dengan maksud menyerahkan berkas beasiswa. Jam 15.00 saya tiba di Kemendiknas dan langsung bertemu dengan Mbak Lilis setelah menunggu kurang lebih 15 menit. Ternyata berkas yang saya bawa kurang lengkap dan musti diberesin lagi, sehingga Mbak Lilis meminta saya datang kembali esok harinya. Subhanallah, benar-benar nyesek karena sudah datang jauh-jauh dari Parung Bogor, tapi tidak mengapa yang penting saya bangga karena telah menepati janji bertemu dengan Mbak Lilis, meskipun sedikit kecewa karena berkas belum lengkap.

Kisah 2
Selepas dari Kemendiknas ketemu Mbak Lilis saya langsung ngacir ke Sawangan lewat Bojongsari, bermaksud mengikuti sebuah pelatihan mubalighot untuk aktivis gerakan Islam tingkat pusat. Pukul 17.30 saya tiba di pertigaan Margonda Raya, sepanjang jalan saya mencari hotel yang dimaksud di undangan tetapi tidak ketemu. Karena nyerah dan kelelahan mencari akhirnya saya memutuskan bertanya kepada orang yang berada disitu, tetapi aneh tidak ada satupun yang tahu hotel yang saya cari. Akhirnya saya telephone panitia ke HP nya tetapi tidak diangkat, saya telephone ke sekretariat tetapi juga tidak diangkat. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit pas maghrib, saya berhasil menelephone panitianya, dan ternyata kegiatannya dipindah ke Puncak Bogor tidak lagi di Sawangan Depok, dan saya sudah telat lama karena mulai acara dari siang setelah dzuhur. Subahanallah maha suci Allah dengan segala kekuatannya, mana kehujanan sore itu ditambah kebelet ingin pipis tapi tidak ada wc umum. Ehm tapi tidak apa-apa, anggap saja jalan-jalan ke daerah Sawangan sembari refreshing melihat daerah Sawangan. Tapi saya cukup bangga dan senang, karena saya telah menepati janji saya kepada organisasi untuk menjadi peserta pelatihan tersebut.

Kisah 3
Suatu ketika saya janji sama teman anak stm di daerah Serpong ingin bisa nongkrong sama mereka pas malam minggunya, tetapi karena saya kelelahan habis jadi MC saya tidak jadi datang ke tongkrongan tersebut. Sebenarnya saya sangat tidak enak karena sudah berjanji, dan karena sudah tidak menepati janji saya, saya akhirnya memutuskan main ke sekolah stm tersebut. Kala itu saya janji hari senin, tetapi karena acara saya belum kelar hingga pukul 14.00 saya berniat cancel untuk janji saya tersebut, karena anak-anak itu pulang pukul 12.30. Alhamdulillah saya punya jalan lain yaitu menyusul mereka yang kebetulan sedang nyekar di daerah Tiga Raksa, kebetulan acara saya waktu itu tidak jauh dari Tiga Raksa. Habis ashar alhamdulillah saya bertemu dengan anak-anak tersebut, dan kurang lebih satu jam saya ngobrol sama meraka kebetulan ada beberapa yang sudah saya kenal sebelumnya. Ketika pulang saya memutuskan untuk naik kereta bareng sama mereka, sedangkan motor saya dibawa sama salah satu anak stm itu. Pas tiba di stasisun kereta juga tiba, tidak berapa lama kereta tiba-tiba jalan, sontak saya kaget dan ikut mengejar kereta seperti anak-anak stm itu. Setengah jalan saya berniat menaiki kereta tersebut, dan saya agak kerepotan karena saya menggunakan sepati hak tinggi. Tangan saya ditarik-tarik oleh orang-orang yang ada di dalam kereta dan alhamdulillah saya berhasil naik ke atas kereta dengan selamat. Pas saya naik saya baru sadar bahwa yang berhasil naik kereta hanya setengah anak-anak, yang setengahnya masih tertinggal di stasiun dan pulang menggunakan kereta berikutnya. Dua hari setelah itu saya baru sadar bahwa tangan kanan saya ternyata terkilir agak parah, langsung saya pijat urut kebeberapa orang berharap bisa sembuh dan pulih. Sekarang sudah dua minggu lebih, tetapi tangan kanan saya masih nyeri dan sangat sakit. Tapi tidak mengapa, meski tangan saya terkilir tapi saya bahagia bisa menepati janji saya yaitu main bareng dengan anak stm di daerah Serpong.
Continue Reading...

Ketegaran Perempuan...

Suatu ketika saya  berhenti di warung tutut di daerah Parung Bogor, beberapa kali saya mampir ke warung itu. Saya senang sekali kesitu dikarenakan pemiliknya seorang ibu-ibu asal Solo yang luar biasa santun dan keibuan. Karena merasa sendiri di perantauan saya mencoba mendekatkan diri dengan si ibu, atau boleh dibilang pengen sekali bisa menjadikannya sebagai ibu angkat. Hehehe. Meski ibu angkat pasti beda dengan ibu kandug sendiri, tetapi kan minimal ada pelabuhan untuk sharring atau curhat tentang persoalan hidup yang sedang kita jalani.

Suatu hari saya lumayan lama berada disitu sembari menemani si ibu melayani pelanggan, kita banyak bercerita kesana kemari, bercerita tentang hidup dan kehidupan yang unik dan menarik tetapi penuh tantangan dan cobaan. Kami sepakat menyimpulkan bahwa selama nafas masih ditenggorokan, Allah pasti akan selalu ngasih ujian kepada hambanya, karena Allah yakin bahwa manusia itu kuat dan cerdas. Sehingga masalah apapun manusia pasti bisa menyelesaikannya dengan sempurna.

Semakin lama kita bercerita semakin lama kita larut dalam lautan emosi, hingga akhirnya si ibu curhat tentang hidupnya yang penuh aroma bumbu kehidupan. Sebagai anak yang lebih muda saya mendengarkan si ibu dengan khusyuk dan serius. Si ibu bercerita tentang masalahnya dengan suaminya dan betapa beratnya menghadapi cobaan hidup. Tapi kata si ibu seberat apapun masalah yang dihadapi, kita musti kuat dan tegar menjalaninya. Karena Allah sungguh membenci orang-orang yang pasrah dengan keadaan terpuruk.

Jadi ingat beberapa perempuan lain seperti ibu saya, ibu saya ditinggal meninggal oleh bapak saya dari saya kelas 3 sekolah dasar. Tapi alhamdulillah meskipun janda ibu saya bisa menguliahkan saya dan almarhum adek saya hingga tinggi, itu bukti betapa kuatnya ibu saya sebagai seorang perempuan. Dia melakukan apapun yang bisa dia lakukan demi menyekolahkan anak-anaknya hingga tinggi. Dia tidak peduli dengan hinaan dan cemoohan dari orang-orang disekitarnya yang tidak pernah menghargai kapasitas orang. Tapi toh ibu saya bisa membuktikan ke semua orang bahwa usahanya berhasil luar biasa.

Masih banyak perempuan-perempuan lain yang lebih hebat dari ibu saya, saudara saya ditinggal meninggal suaminya dengan ditinggalkan empat orang anak, dan juga tanpa harta warisan. Awalnya saudara saya tersebut sangat pesimis dan takut menatap hari esok, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, dia senantiasa berdoa dan berusaha agar masalahnya dapat diatasi dengan sempurna. Alhamdulillah banyak orang-orang kaya yang membantu kehidupan saudara saya tersebut, dengan menyekolahkan anak-anaknya.

Bukan laki-laki tidak sekuat perempuan, tetapi dalam kasus yang saya alami dan lihat perempuan terlihat jauh lebih tegar dan berani menatap masa depan meskipun hidup sendiri tanpa seorang suami yang mendapingi. Cek dalam kehidupan nyata di masyarakat, perempuan lebih kuat hidup sendiri pasca ditinggal meninggal atau dicerai suaminya dibandingkan laki-laki. Laki-laki akan memilih menikah lagi jika istrinya telah tiada entah karena sakit ataupun karena perceraian. Dan tidak sedikit perempuan sendiri berhasil membesarkan dan memberikan kesuksesan kepada anak-anaknya.

Salut untuk perempuan Indonesia yang begitu tangguh dan luar biasa, salut juga untuk ibu saya yang begitu penuh tanggung jawab membesarkan saya hingga saya dewasa dan mengerti tentang kerasnya hidup dan kehidupan. Jasamu tidak akan terbayarkan oleh apapun bunda, dan maafkan saya yang belum bisa memberimu apa-apa. Saya akan selalu mengenang pengorbanan dan kesungguhanmu mendidik saya, dan tidak akan pernah saya lupakan hingga saya meninggal dunia nanti. Senantiasa saya berdoa kepada Allah agar bunda dipanjangkan usianya, sehingga saya bisa lebih lama menatap lembutnya tangan bunda membelai rambut saya sambil berkata: "nak, teruslah mencari ilmu dan teruslah menggapai sukses, ibu tidak bisa memberi kamu harta warisan, yang bisa ibu berikan hanya nasehat dan nasehat". I Love You Bunda tercinta.
Continue Reading...

Tuesday, October 02, 2012

Alawi Yusianto & Deny Yanuar, selamat jalan...

Kehilangan seseorang yang disayang begitu menyayat hati, sayatan itu melebihi sayatan fisik. Pada dasarnya hampir tidak ada manusia yang suka akan kehilangan, apalagi kehilangan untuk selama-lamanya. Meskipun sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menampik datangnya takdir dari Tuhan. Karena kita semua musti sepakat bahwa kematian pasti akan datang menghampiri sesuai dengan kehendak Tuhan. Walau idealnya kepergian itu harus dengan jalan yang tidak menyedihkan misalnya meninggal karena sakit, meninggal dalam keadaan sehat, dan meninggal dalam keadaan di dalam rumah.

Terlalu menyakitkan jika orang yang kita sayang meninggal dengan cara yang tragis seperti kecelakaan, bunuh diri, dibunuh, atau meninggal dalam tawuran/ribut antar kampung. Tetapi inilah yang belakangan terakhir terjadi di Ibu Kota Jakarta, dalam waktu berdekatan dua pelajar tewas dalam tawuran pelajar. Dedy pelajar dari SMK Bhaskara Depok dan Alawi pelajar dari SMA N 6 Jakarta Selatan, menjadi korban dalam tawuran pelajar. Nyawa keduanya tidak sempat terselamatkan, dua pelajar tersebut tewas di tempat kejadian perkara sebelum sempat di bawa ke Rumah Sakit oleh teman-temannya.

Kita sebagai orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kedua pelajar tersebut sangat miris dan bersedih hati mendengar berita itu, coba bayangkan bagaimana perasaan dan keadaan kejiwaan keluarga kedua korban setelah tau bahwa anaknya tewas secara mengenaskan dalam tawuran pelajar? Anak kecilpun pasti tahu jawabannya bahwa keluarga kedua korban tersebut pastinya sangat sedih, marah, kesal, gondok, tidak terima, belum percaya seolah seperti mimpi, dan pasti terbersit dendam dihatinya meskipun hanya sedikit. Bagaimana tidak, anak yang telah diurusnya dari bayi hingga tumbuh menjadi laki-laki remaja tewas secara mengenaskan dan tidak disangka-sangka. Orang tua mana yang rela anaknya tewas dengan cara demikian?

Tidak hanya orang tua yang sesungguhnya merasa sedih dan kehilangan, saudara-saudara terdekatnya, sahabat-sahabatnya, guru-gurunya, tetangganya, dan orang lainpun pasti ikut prihatin atas meninggalnya kedua pelajar tersebut, apalagi jelas keduanya meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. Jika sudah demikian, ibarat nasi sudah berubah menjadi bubur sama artinya bahwa keduanya tidak mungkin lagi dihidupkan. Kira-kira, apakah yang dipikirkan oleh para pelaku pembunuhan yang statusnya juga sama yaitu sebagai pelajar? Ikut sedihkah, ikut menangiskah, ikut prihatinkah, atau menyesal atas apa yang sudah dilakukannya? Memang benar istilah yang mengatakan bahwa penyesalan selalu datang belakangan/terlambat. Tetapi untuk kategori kasus ini mustinya prinsip yang dibangun adalah mending terlambat dari pada tidak sama sekali.

Ada yang menghujat, ada yang bertanya-tanya mengapa, ada juga yang mengklaim, ada yang sekedar prihatin, ada yang menyalahkan guru-guru, ada yang menyalahkan polisi, ada yang menyalahkan orang tua, ada yang menyalahkan lingkungan, ada yang menyalahkan teman sebaya, ada yang menyalahkan seniornya, dan ada juga yang menyalahkan semua pihak atas maraknya tawuran pelajar di Ibu Kota Jakarta yang kerap kali menimbulkan korban luka-luka ringan, luka-luka parah, dan korban tewas. Tidak hanya peserta tawuran yang bisa menjadi korban, pengguna jalan, kendaraan yang lalu lalang, dan bangunan-bangunan disekitar lokasi tawuran juga kerap menjadi korban dari aksi tawuran. Jika sudah demikian, sesungguhnya siapakah yang musti disalahkan dan siapakah pula yang harus bertanggung jawab?

Tidak patut menyalahkan pelaku secara ekstrim, karena bagaimanapun mereka adalah anak-anak remaja yang masih labil dan butuh pendampingan ekstra dari orang-orang terdekatnya. Meskipun secara nilai substansial, tidak ada yang membenarkan tentang apa yang mereka lakukan, karena yang mereka lakukan adalah perbuatan pidana (menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja). Jika kita telaah lebih dalam, mustinya tidak hanya menyalahkan satu pihak saja dalam kasus tawuran pelajar, melainkan semua pihak harus ikut bertanggung jawab secara dewasa. Pihak-pihak tersebut yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, teman sebaya, aparat penegak hukum, dan senior-seniornya yang kerap kali masih ikut campur dalam proses terjadinya tawuran pelajar.

Tawuran pelajar adalah aktivitas turun temurun dari jaman dahulu hingga sekarang, sehingga untuk menghapuskan tradisi tawuran pelajar musti mengetahui mata rantainya. Tidak ada tradisi yang abstrak, tradisi yang dilakukan turun temurun pastilah ada ujung pangkalnya. Sehingga jika di observasi secara serius dan teliti, tradisi tawuran pelajar pasti bisa dihapuskan dengan sebersih-bersihnya. Tentunya musti ada kerjasama yang kompak dari semua pihak, tidak boleh saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Merasa dirinya paling benar dan memojokkan pihak lain secara ekstrim tanpa kompromi sama sekali.

Perlu kita sadari bersama-sama, bahwa para pelaku tawuran adalah anak-anak remaja usia labil yang masih mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, bagi remaja yang mempunyai prinsip hidup kuat maka dia akan berusaha tetap komitmen di jalan kebaikan, tetapi bagi remaja yang tidak mempunyai prinsip hidup maka akan mudah terpengaruh dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya terutama teman-teman sebayanya. Untuk remaja labil yang tidak mempunyai prinsip hidup jangankan mengerti tentang sebuah obsesi, karir, masa depan, pengembangan potensi dan bakat, tentang keberadaan dirinya saja mereka masih suka bingung dan bertanya-tanya, untuk apa sesungguhnya mereka hidup? Jika yang ikut tawuran adalah remaja-remaja labil yang tidak mempunyai prinsip hidup, sudah sepatutnya bagi keluarga dan guru untuk mendampingi remaja-remaja tersebut secara lebih sabar, lebih teliti, dan lebih advokatif. Supaya para remaja tersebut pada akhirnya mengerti bahwa hidupnya terlalu sia-sia jika tidak digunakan untuk berbuat kebaikan kepada orang lain.

Tokoh agama juga musti ikut bertanggung jawab atas bobroknya moral generasi muda yang mustinya menjadi penerus dari generasi tua, karena bagaimanapun generasi tua akan lengser keprabon dan digantikan oleh para generasi muda yang kuat, komitmen, mempunyai prinsip, tangguh, dan serius dalam mengurusi negara tercinta Indonesia. Bagaimanapun agama harus bisa memberikan pencerahan kepada para remaja-remaja tersebut tentang hakikat hidup dan kehidupan, bahwa agama apapun tidak ada yang mengajarkan kekerasan, bahwa agama manapun tidak ada yang membolehkan pembunuhan, bahwa agama siapapun pasti menginginkan sebuah kedamaian dan kenyamanan dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kita mustinya adalah orang pertama yang akan membela anak-anak pelajar yang tawuran tentu dengan pendampingan ekstra sabar dan berkelanjutan, jika orang-orang dan masyarakat hanya bisa mengklaim/menyalahkan anak-anak tawuran tanpa pernah bertanya kenapa mereka tawuran?

Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog