Friday, July 29, 2011

Pelayan Jutek dan Cuek......

Cerita I

Perjalanan ke Ternate Maluku Utara dari Jakarta berangkat pukul 01.00 malam.

Alhamdulillah dapat makan, secara saya dari sore belum sempat makan.

Pramugari dan Pramugaranya cakep-cakep seperti biasa.

Tapi setelah saya lihat-lihat kok ada yang aneh ya?

Pramugari dan Pramugara yang lewat sama sekali tidak senyum.

Bahkan ketika mereka menyerahkan makanan ke penumpang pun.

Saya pikir cuma saya yang sensitif.

Ternyata hampir semua penumpang mengeluhkan hal yang sama.

Sepulangnya saya dan rombongan naek pesawat yang sama.

Saya berharap Pramugari dan Pramugaranya tidak sejutek dan secuek saat berangkat.

Ya Tuhanku, ternyata sama saja.

Hahahaha.

Tidak biasanya ada Pramugari dan Pramugara yang demikian.

Padahal ini kelas pesawat lho ya, bukan angkutan umum darat yang tidak ber ac.


Cerita II

Pulang jengukin guru yang baru kecelakaan, saya diajak mampir ke warung makan terkenal.

Teman saya tersebut hendak membeli sop terkenal untuk dibawa pulang.

Sesampainya di warung makan tersebut saya hanya melihat dan tidak bermaksud membeli.

Maklum saya tidak begitu suka sop daging.

Tetapi setelah melihat sayur gado-gado di warung tersebut, saya memutuskan untuk membeli gado-gado.

Ibu pemilik warung terlihat sangat sibuk karena sedang melayani.

Si ibu terlihat lembek dan tidak cekatan.

Bahkan menurut saya termasuk sangat lambat dan lama dalam melayaninya.

Waktu berjalan sekitar 15menit dan si ibu belum ada tanda-tanda untuk menyentuh pesanan saya.

Saya: gado-gado ya bu?

Ibu: hanya senyum.

Saya biarkan si ibu tetap sibuk melayani pembeli sop.

Saya: gado-gado satu ya bu?

Ibu: iya.

Tetap saja si ibu tidak menyentuh sayur gado-gado yang sudah menunggu.

Saya: tidak ada yang melayani untuk gado-gado ya bu?

Ibu: belum ada mbak.

Saya: saya buru-buru soalnya bu, bisa dibuatkan nggak?

Ibu: kalau buru-buru tidak bisa mbak.

Saya: oalah, okeh dech kalau begitu, saya tidak jadi pesan.

Ibu: hanya senyum sinis.

Padahal saya berniat membeli es buah juga, tapi niat untuk membeli es buah saya gagalkan seiring gagalnya membeli gado-gado.


Cerita III

Di samping rumah saya ada mie ayam baru, karena baru saya memutuskan untuk mencoba.

Ternyata mie ayamnya sangat enak dan mantap.

Keesokan harinya saya sering banget makan mie ayam disitu.

Bapak penjualnya orang Jawa Tengah sehingga saya bisa ngobrol pakai bahasa jawa sama si bapak.

Berbeda dengan cerita di atas, si bapak penjual mie ayam ini sangat ramah dan baik hati.

Setiap pelanggan datang, dia langsung menyapa dan menanyakan kabar si pelanggan.

Setelah pelanggan duduk, si bapak dengan sigap melayani dan mengajak ngobrol si pelanggan.

Sungguh baik dan santun si bapak, sampai-sampai banyak pelanggan yang suka balik lagi untuk membeli mie ayam si bapak.

Alhamdulillah saya turut berbahagia, karena mie ayam si bapak sangat laku.

Otomatis pasti akan menambah rejeki buat si bapak dan keluarganya.

Amien.


Kesimpulan

Kalau saya secara pribagi, lebih suka membeli di tempat yang penjualnya ramah meskipun makanannya kurang enak.

Dari pada saya membeli ke tempat yang makanannya enak bahkan sangat enak tetapi penjualnya jutek dan cuek.

Tentu yang diharapkan oleh kita adalah makanannya enak dan penjualnya ramah dan santun.
Continue Reading...

Wednesday, July 27, 2011

Soft Launcing Posbakum ICRP


Continue Reading...

Saturday, July 23, 2011

Rakornas partai demokrat

Rakornas partai demokrat dilaksanakan di Sentul Bogor selama dua hari yaitu 23-24 Juli 2011.
Rakornas partai demokrat dihadiri oleh 5.000 lebih kader partai dari seluruh Indonesia.
Saking banyaknya peserta yang hadir, SICC diramaikan oleh warna biru.
Meskipun sangat padat dan ramai, situasi masih aman dan bisa di kontrol dengan baik.
Saat ini partai demokrat memang sedang diterpa isu-isu yang tidak mengenakkan.
Akibat dari isu-isu tersebut, banyak masyarakat yang kemudian menjadi sedikit kurang tertarik dengan partai besar pemenang pemilu 2009 itu.
Sebenarnya wajar, karena masyarakat kita secara umum adalah masyarakat yang telah sering dikecewakan, sehingga ketika ada isu-isu yang berhubungan dengan politik masyarakat menjadi sangat sensitif.

Dewan pembina partai demokrat yang tidak lain adalah Presiden RI berpesan, bahwa meskipun partai demokrat sedang diuji para kader demokrat harus tetap optimis, bangkit, tegar, dan bersatu.
SBY juga mengingatkan kepada kadernya agar jangan mudah terpengaruh dan saling menyalahkan.
Di pertegas oleh ketua umum partai demokrat Anas Urbaningrum, dia mengatakan bahwa layang-layang akan dapat terbang tinggi jika diterpa oleh angin.
Artinya bahwa jadikanlah cobaan yang menerpa partai demokrat sebagai ujian yang pasti akan bisa diselesaikan dengan baik dan berakhir kepada kebahagiaan.

Tidak banyak kejadian aneh, hanya ada satu kejadian yang sempat menarik perhatian yaitu kedatangan artis lama Pong Harjatmo dengan membawa spanduk yang bertuliskan: berantas korupsi atau bubarkan saja, jujur adil tegas.
Sempat ada sedikit keributan dengan petugas dan peserta rakornas yang tidak terima dengan ulah Pong, tetapi untung segera dapat diamankan dengan baik.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pong, karena bagaimanapun dia adalah rakyat yang punya hak untuk bersuara.
Yang kurang tepat adalah kehadiran Pong yang tiba-tiba dan tanpa membawa id card.

Semua orang pasti paham, bahwa partai tidak lepas dari kepentingan-kepentingan.
Yang harus kita jaga bersama adalah bagaimana agar kepentingan tersebut adalah kepentingan positif yang membawa banyak manfaat buat orang banyak.
Partai yang ada harus bisa memberi contoh yang baik kepada masyarakat.
Partai juga harus benar-benar menjadi wadah penyalur aspirasi masyarakat secara luas.
Jangan ada kesan bahwa keberadaan partai hanya memperjuangkan kepentingan anggotanya saja.

Selamat melaksanakan rakornas bagi partai demokrat.
Semoga demokrat bisa menjadi partai yang humanis.
Semoga partai demokrat bisa menjadi wadah bagi kaum tertindas.
Continue Reading...

Sunday, July 17, 2011

Belajar dari tuna netra.............

Kemaren punggung saya pegel banget, bahkan sangat sakit bila digerakin.

Saking sakitnya, saya nangis seperti anak kecil, hehehe.

Siangnya saya memutuskan mencari tukang pijat urut, tadinya pengen ke dokter tapi bingung ke dokter apa.

Masa iya sih ke dokter spesialis pegel linu? hehehe.

Alhamdulillah saya inget bahwa di Bayoran ada tukang pijat urut, akhirnya sama memutuskanlah untuk kesana.

Sampai di rumah pijat urut, pintu dalam keadaan tertutup tapi jendela terbuka.

Akhirnya saya mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, dan keluarlah perempuan berjilbab usianya sekitar 30an.

Dia mempersilahkan saya duduk terlebih dahulu.

Beberapa menit kemudian saya di suruh masuk dan tiduran di kasur berdipan dengan seprai dan sarung bantal berwarna putih.

Saya tidur dan bersiap-siap untuk di pijat urut oleh ahlinya.

Subhanallah, saya baru sadar bahwa si embak ternyata tidak dapat melihat.

Tapi saya mencoba bersikap biasa-biasa saja supaya dia tidak tersinggung.

Pijatannya subhanallah sangat enak dan terasa sekali, sambil memijat dia mengajak saya ngobrol.

Mbak: tinggal dimana mbak?

Saya: di pondok betung mbak.

Mbak: asli orang mana?

Saya: pekalongan jawa tengah.

Mbak: saya juga orang jawa tengah, saya pemalang mbak.

Saya: owh, sama dung klo begitu.

Mbak: iya sama-sama orang jawa tengah, hehehe.

Saya: sudah berapa lama disini mbak?

Mbak: baru dua bulan, saya sudah pindah kemana-mana mbak. saya pernah di semarang, pernah juga daerah bekasi.

Saya: owh, disini siapa yang bawa mbak?

Mbak: teman saya, sebelumnya saya pernah mau di ciputat tapi pas saya sampai jakarta yang punya tidak menjemput saya, akhirnya saya balik lagi ke kampung, soalnya baju saya ketuket mbak saya tas orang lain.

Saya: kok bisa ya mbak?

Mbak: bisa saja mbak, lha wong saya kan tidak bisa melihat mbak.

Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, bahwa pijat urut yang dia lakoni sekarang itu bukan otodidak.

Dia belajar profesional selama empat setengah tahun, belajar khusus tentang pijat urut di pemalang.

Di rumah itu ada tiga pemijat perempuan dan satu pemijat laki-laki dan semuanya tida bisa melihat.

Yang laki-laki tidak tinggal disitu tetapi tinggal bersama pemilik usaha pijat urut tersebut.

Si mbak bercerita bahwa di rumah yang dia tempati pernah terjadi kecolongan hp dan uang secara berturut-turut.

Maling masuk ke rumah lewat jendela, sehingga akhirnya jendelanya di teralis dengan kayu.

Si mbak juga cerita bahwa kadang ada pasien laki-laki yang mau kurang ajar.

Tapi si mbak nya buru-buru marah dan langsung ninggalin pasien laki-laki yang kurang ajar.

Pernah suatu kali pas ada pasien yang mau kurang ngajar si mbaknya marah-marah, eh malah pasiennya tersebut yang balik marah-marah, kata si pasien si mbak sok jual mahal dan sok munafik.

Si mbak bercerita berani sumpah, bahwa tidak semua tempat pijat itu digunakan untuk tempat mesum.

Tergantung prinsip si pemijat dan juga tergantung aturan yang diterapkan disitu.

Si mbak tidak terima kalau orang-orang umum berfikiran negatif tentang tempat pijat urut.

Karena pemijat tuna netra benar-benar belajar secara profesional dan mereka mempunyai ijazah.

Tarif pijat disitu Rp. 30.000 dan Rp. 50.000 jika si pemijat di undang ke rumah.

Tapi untuk yang di undang ke rumah harus mengantar dan menjemput si pemijatnya.

Si pemijat nanti bagi hasil dengan pemilik tempat pijat urut, biasanya lebih besar pemijatnya dari yang punya usaha.

Ternyata tukang pijat tuna netra sudah banyak jumlahnya dan banyak juga yang merantau ke luar daerah.

Mereka berani merantau karena ingin mendapatkan banyak uang untuk masa depan mereka.

Saya: usianya berapa mbak?

Mbak: 33 tahun saya.

Saya: sudah menikah mbak?

Mbak; saya belum menikah mbak, belum ada yang cocok sama saya, menikah itu kan tidak gampang.

Saya: iya juga ya mbak, tapi nanti kalau menikah kan bisa buat tempat usaha pijat urut bareng suaminya?

Mbak: insaya allah mbak, hehehe.

Saya: suka jalan-jalan ke luar?

Mbak: suka tapi saya disini tidak ada liburnya mbak? jadi saya jarang ke luar rumah, kecuali ada keperluan penting.

Saya: owh, kalau keluar sendirian tidak takut mbak? naik angkutan umumnya gimana mbak?

Mbak: saya suka ditolongin sama orang mbak, sudah biasa seperti ini, lagi mau diapain lagi mbak.

Saya: semangat ya mbak.

Saya dipijat selama hampir dua jam, karena dipijat agak lama saya bermaksud menambahi uang dari tarif aslinya.

Selesai di pijat urut saya mengeluarkan uang Rp. 50.000, karena berniat menjadi langganan kali itu saya hanya membayar Rp. 40.000 dan minta kembalian Rp. 10.000.

Tiba-tiba si mbak memanggil saya, dia bilang:

" mbak ini uang yang saya pegang yang lima ribuan yang mana terus yang sepuluh ribuan yang mana ya?"

Subhanallah, saya sedih banget ngelihatnya, saya baru sadar bahwa si mbak sama sekali tidak bisa melihat.

Dia benar-benar tidak tahu mana uang yang lima ribu dan mana uang yang sepuluh ribu.

Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa uang dari saya adalah uang lima puluh ribuan.

Saya jadi mikir, luar biasa si mbak.

Meskipun dia tidak bisa melihat indahnya dunia seperti kita, tetapi semangat hidupnya dan semangat nya mencari rejeki tidak kalah dengan kita yang normal bisa melihat.

Sepertinya kita harus banyakb belajar dari si mbak pemijat pijat urut.

Continue Reading...

Wednesday, June 29, 2011

Selamat Jalan Sahabatku Pak Ahmadi.....

Sekitar sebulan lalu ada seminar tentang transportasi di SMA Muhammadiyah 18 Jakarta Selatan tempat saya mengajar.

Selepas kegiatan saya membungkuskan dua nasi kotak buat Pak Ahmadi.

Saya inget kalau Pak Ahmadi mempunyai anak kecil, makanya saya pikir tidak salah kalau saya membungkuskan nasi buat Pak Ahmadi.

Kelar acara saya berbincang-bincang dengan Pak Ahmadi di parkiran, kami membincangkan tentang penerimaan siswa baru yang sebentar lagi akan dibuka.

Pak Ahmadi usul bahwa kalau bisa anak-anak IPM dan Tari Saman dilibatkan buat jadi tim sukses PSB.

Saya sebagai pembina Tari Saman sangat menyambut gembira jika sekolah percaya dengan anak-anak Saman.

Selesai ngobrol sama pamit dan bersalaman dengan Pak Ahmadi.

Di luar gerbang, secara tidak sengaja saya melihat Pak Ahmadi sedang memberikan dua kotak nasi yang saya bungkuskan buat dia kepada OB sekolah.

Saya benar-benar tercengang dan tanpa saya sadari tiba-tiba air mata saya mengalir dengan derasnya, saya menangis sesenggukan.

Saya benar-benar terharu dengan kebaikan Pak Ahmadi, padahal dia bilang bahwa nasi tersebut akan diberikan buat anak-anaknya, tapi ternyata nasi itu diberikan kepada orang lain yang sepertinya memang belum dapat bagian nasi kotak.

Saya tidak tahu kenapa saya menangis seperti anak kecil, yang saya ingat tiba-tiba saja saya ingin menangis saat itu.

Beberapa hari kemudian saya ngobrol dengan orang Muhamamdiyah di lingkungan sekitar sekolah.

Saya bilang bahwa saya senang Pak Ahmadi bisa menjadi Wakil Kepala Sekolah menggantikan almarhum Bu Mun.

Saya juga bilang bahwa Pak Ahmadi orangnya sangat baik, semangat, ceria, dan konsepnya cemerlang.

Si bapak setuju dengan pernyataan saya, bahkan dia yakin bahwa Pak Ahmadi memang mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi.

Saya juga alhamdulillah sudah beberapa kali main ke rumah Pak Ahmadi.

Saya senang dan nyaman ketika main ke rumah Pak Ahmadi.

Suasana rumahnya begitu damai meski ramai dengan anak-anaknya yang berjumlah lima orang.

Saya selalu melihat bahwa Pak Ahmadi selalu berusaha menyenangkan tamunya, meskipun sebenarnya di rumah tidak ada makanan.

Pernah saya dibelikan nasi goreng langganan Pak Ahmadi yang rasanya lumayan enak.

Pak Ahmadi juga tak henti-hentinya membicarakan tentang kemajuan sekolah kami tercinta.

Pak Ahmadi selalu tersenyum dan ceria dalam setiap pembicaraan.

Saya benar-benar betah main ke rumah Pak Ahmadi, anak-anaknya juga lucu-lucu dan cakep-cakep.

Seminggu sebelum Pak Ahmadi meninggal, tepatnya malam rabu saya main ke rumah Pak Ahmadi.

Saya janjian ke rumah Pak Ahmadi dari selasa siang saat kami di sekolah.

Pak Ahmadi mau mengajak saya ke rumah dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang yang kebetulan tetangga Pak Ahmadi.

Pak Ahmadi mau bantu saya supaya saya bisa mengajar di UMT.

Sore hari Pak Ahmadi telephone saya.

Pak Ahmadi; ibu jadi ke rumah saya nggak?

Saya; jadi pak, emang bapaknya ada di rumah nanti malam?

Pak Ahmadi; ada tapi malam jam 21.30an.

Saya; emang nggak kemalaman pak jam segitu?

Pak Ahmadi; enggak kok biasa saja, nanti ke rumah dulu aja sambil nunggu bapaknya pulang dari kampus UMT.

Saya; yaudah nanti setelah isya saya ke rumah bapak.

Pak Ahmadi; yaudah saya tunggu ya bu, nanti kalau lupa rumah saya ibu telephone saya saja pas di pasar bengkok.

Saya sampai di rumah Pak Ahmadi sekitar jam 20.30 WIB, Pak Ahmadi di rumah hanya dengan anak terakhirnya.

Anak terakhir Pak Ahmadi perempuan tetapi setelah saya lihat-lihat wajahnya mirip Irfan Bachdim.

Spontan saya bilang; dek wajahmu cakep dan mirip ma Irfan Bachdim tau.

Pak Ahmadi dan si adek tertawa dengan riangnya.

Saya datang ke rumah Pak Ahmadi dengan membawa pisang goreng Pontianak, tapi saya lihat pisangnya tidak langsung di makan tetapi malah dibiarkan begitu saja.

Anak yang lain pulang dari mengaji dan Pak Ahmadi menyuruh anaknya membelikan kacang buat cemilan saya.

Dia juga mengeluarkan kerupuk khas Cirebon yang disajikan dengan saos sambal.

Saya begitu tertarik untuk memakan kacang dan kerupuk tersebut karena melihat Pak Ahmadi yang juga semangat makan.

Kami ngobrol banyak tentang IPM, Ekskul, Sekolah, Murid baru, dan semua tentang sekolah.

Pukul 22.00 WIB saya diantar Pak Ahmadi ke rumah dosen UMT.

Kami ngobrol di rumah dosen tersebut sekitar satu jam lebih.

Dan kurang lebih jam 24.00 WIB saya pamitan untuk pulang.

Ternyata itu pertemuan terakhir saya dengan Pak Ahmadi.

Saat saya sia-siap pulang, Pak Ahmadi keluar rumah untuk mengantar saya, istrinya juga ikut keluar.

Pak Ahmadi; hati-hati dijalan bu.

Saya; iya pak santai saja.

Istri; nggak takut bu malam-malam begini?

Saya; ah saya ma udah biasa bu, wong temen-temen saya kan preman-preman Jakarta.

Pak Ahmadi; dia ma udah bisa pulang larut malam, hahaha.

Saya; tau ne pak, jadi kebal dengan rasa takut gara-gara nongkrong mulu ma anak-anak malam.

Pak Ahmadi; tapi sudah ada hasilnya kan penelitiannya?

Saya; alhamdulillah pak, tinggal nyusun saja.

Pak Ahmadi; baguslah, jangan sampai cuma cape doang bu.

Saya; iya pak, mohon doanya saja, saya pulang dulu ya pak?

Pak Ahmadi; iya bu hati-hati ya?

Saya; iya pak.

Malam Jum'at saya pulang kampung ke Pekalongan.

Malam senin saya melakukan perjalanan menuju Jakarta.

Malam senin pukul 24.00 ada telephone masuk dari Pak Ahmadi, tapi sayang tidak keangkat karena hp saya getar.

Subuh saya baru sampai di Cibitung, saya kontak balik Pak Ahmadi dan ternyata yang balas anaknya.

Anaknya cerita bahwa Pak Ahmadi sedang di rawat di Bhakti Asih dari semalam dan kondisinya koma.

Saya kaget dan tidak percaya, langsung saya sms semua guru-guru.

Saya terus berdo'a agar Pak Ahmadi bisa sembuh seperti sedia kala, saya percaya bahwa Pak Ahmadi mempunyai sugesti yang sangat bagus.

Buktinya dia bisa sembuh total dari struk yang sebelumnya.

Jam 10.00 WIB saya tiba di Hotel Bintang Menteng untuk ikut pelatihan BKKBN.

Jam 11.00 WIB saya dapat kabar dari Pak Jaeylani bahwa Pak Ahmadi telah wafat.

Lemes badan saya, pusing, nyilu, dan hampir pingsan.

Saya sudah tidak konsen lagi ikut pelatihan, tapi apa mau dikata saya tidak bisa keluar dari pelatihan tersebut karena saya satu-satunya perwakilan dari PPNA.

Saya langsung sms semua guru-guru dan semua murid-murid saya yang nomornya ada di HP saya.

Selamat jalan sahabatku Pak Ahmadi.

Semangatmu,

Keceriaanmu,

Senyummu,

Konsep-konsep cerdasmu,

Kebaikanmu,

Kesabaranmu,

Akan selalu menginspirasi kami,

Saya yakin, Allah begitu menyayangimu, sehingga Allah memanggilmu di usia 43 tahun.

Terima kasih atas masukan-masukannya.

Continue Reading...

Tuesday, June 21, 2011

Ternate Maluku Utara...

Waktu ada tawaran dari SE Nasyiah untuk ke Maluku Utara, saya langsung bersedia, maklum saya belum pernah berkunjung ke Provinsi Maluku.
Dengan senang hati saya menerima tawaran PP NA untuk ikut Rakernas KNPI.
Sebenarnya saya ada agenda mengajar yang tidak bisa ditinggalkan, lagi-lagi karena saya belum pernah ke Maluku, maka saya mengorbankan agenda mengajar saya di kampus Mampang.
Tidak apa-apa kok, karena belum tentu kesempatan ke Maluku datang untuk yang kedua kalinya.
Hehehehe.

Berangkat malam jumat pesawat pukul 01.30, gile malam banget berangkatnya.
Sore harinya saya masih ngajar di Pasar Kemis, malam hari saya siap-siap dan saya berangkat ke Bandara menggunakan Taksi.
Sampai di Bandara saya ketemu dengan beberapa teman-teman dari OKP lain.
Kebetulan sekali ada satu teman dari IPPNU yang sudah saya kenal, kami pernah bareng di Rakernas KNPI yang diadakan di Palembang.

Tiba di Ternate pukul 08.00 WIT, selisih dua jam dari Jakarta.
Hotelnya sangat menarik, karena langsung berhadapan dengan gunung di sebelah kanan, dan lautan disebelah depannya.
Daerahnya juga asri dan dingin, membuat saya merasa nyaman dan tentram.
Hari itu saya sibuk turun hotel untuk membeli pembalut, maklum karena buru-buru saya lupa membawa bekal pembalut.
Turun hotel saya langsung mencari warung kecil dan alhamdulillah ketemu.
Penjualnya mbak cantik yang ternyata orang Manado, dia bilang bahwa di Ternate banyak orang Manado.
Orang Manado banyak yang merantau ke Ternate karena jarak dari Manado ke Ternate luamayan dekat.

Siang hari sampai sore, saya tidur dengan nyenyaknya.
Saya sekamar sama Nihlah dari IPPNU, Nihlah juga tidur dengan antengnya.
Ternyata saat kami tidur, peserta Rakernas yang lain asyik jalan-jalan menikmati indahnya kota Ternate.
Tentu, saya sangat menyesal dan tidak enak hati.
Tapi mau bagaimana lagi, nyatanya saya sangat lelah hari itu, sehingga saya memilih tidur dari pada jalan-jalan.
Hahahaha.

Hari-hari saya nikmati di dalam hotel mengikuti jalannya Rakernas KNPI.
Hotelnya bagus sehingga saya cukup nyaman di dalamnya.
Alhamdulillah juga makanannya enak dan sesuai selera saya.
Saya juga kaget karena makanannya manis dan asin, saya pikir makanan di Ternate pedas.
Ternyata pas saya cek kepihak hotel, pihak hotel menyesuaikan dengan peserta Rakernas yang kebanyakan dari luar Ternate.

Malam terakhir sebelum esoknya harus balik ke Jakarta, teman dari PW NA dan PW M setempat mendatangi saya dan mengajak saya jalan.
Dengan senang hati saya menerima ajakan teman saya tersebut, tidak lupa saya mengajak Nihlah dan Bang Edy PP PM.
Kami diajak muter-muter kota Ternate, dan terakhir kami diajak ke pinggir pantai untuk menikmati jahe campur kenari, dan makanan cemilan khas Ternate.
Mengejutkan, makanan cemilan khas Ternate adalah keripik pisang setengah matang disertai dengan sambal pedas dan kacang asin goreng.
Hehehehe.
Unik dan lucu, karena sambalnya kebetulan lumayan pedas.
Tapi meskipun pedas, kami semua menikmati cemilan tersebut sambil memandang lautan lepas yang terlihat pekat oleh malam.

Tiba-tiba di jalan raya dekat kami duduk santai, ada serombongan mahasiswa sedang berdemo meneriakkan aspirasinya.
Demonya biasa dan saya tidak kaget, yang tidak biasa adalah demo yang dilaksanakan pada malam hari.
Dan demo tersebut ditujukan kepada para pengunjung pinggir pantai yang posisinya sebagai masyarakat.
Hahahaha, seru seru.

Keesokan harinya saya harus kembali ke Jakarta bersama sebagian perserta Rakernas.
Maklum sebagian peserta masih ingin tinggal di Ternate, mereka masih ingin jalan-jalan di kota Ternate.
Saya dan sebagian teman yang pulang terlebih dahulu sebenarnya ingin ikut jalan-jalan, tapi kebetulan ada beberapa kegiatan yang harus kami lakukan di Jakarta.
Minggu dini hari saya dan sebagian teman sudah tiba di Bandara Ternate.
Pesawat agak terlambat datang, tapi kami tidak begitu gelisah.
Kami mencoba memahami cuaca di Ternate yang waktu itu lumayan mendung.

Pukul 10.00 WIB kami tiba di Jakarta.
Alhamdulillah kami semua tiba dalam keadaan selamat.
Beberapa teman ada yang naik taksi, ada juga yang naik damri, dan ada yang dijemput sama keluarganya.
Saya memutuskan naik damri jurusan gambir bareng dengan sahabat saya dari IPPNU Nihlah.
Tiba di gambir saya dan Nihlah langsung berlari menuju grobak mie ayam.
Maklum, kami kelaparan.
Hahahaha.
Continue Reading...

Sunday, June 19, 2011

Belajar dari sebuah kejadian.....

Saya punya sebuah cerita, semoga cerita saya nanti bisa diambil hikmahnya oleh semua yang membaca, amien.

Cerita I
Tadi sore saya membeli sate Madura langganan saya, seperti biasa saya membeli cuma satu porsi.

Ternyata yang jaga bukan bapak ibu yang biasanya, melainkan menantu perempuannya karena kebetulan si bapak dan ibu sedang tidak enak badan.

Saya langsung pesen sate satu porsi dan menegaskan pake bumbu kecap bukan kacang.

Karena kebetulan saya tidak begitu suka dengan bumbu kacang.

Lima belas menit kemudian sate sudah matang dan saya minta di bungkusin nasi, karena di rumah tidak ada nasi.

Saya; mbak nasinya satu bungkus ya?

Mbak; iya mbak.

Saya; eh ada lontong ya mbak?

Mbak; ada mbak, mau?

Saya; ehm, enaknya nasi apa lontong ya?

Mbak; lha saya tidak tahu, kan yang mau makan mbak bukan saya.


Saya bengong melihat si mbaknya, bengong karena mendapat jawaban yang tidak saya sangka-sangka.

Saya berharap si mbak akan memberikan saya solusi untuk memilih nasi atau lontong.

Ternyata si mbak gk begitu respon dengan pertanyaan saya.

Yah tapi apa mau dikata, jawaban si mbak juga ada benarnya.

Karena memang benar, yang mau makan kan saya bukan dia.

Jadi dia tidak perlu repot-repot memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya.

Cerita II

Pernah nggak curhat sama teman? pasti hampir sebagian kita senang curhat sama teman kita.

Tapi teman yang bagaimana dulu ne? kalau sahabat pasti akan cocok dan menarik.

Tapi kalau sekedar teman biasa, mungkin tidak akan sebaik curhat dengan sahabat.

Saya; adek saya kan lulus SMP, dia pengen masuk SMK (STM), saya sih boleh-boleh saja, tapi ibu saya nggak boleh.

Teman; owh.

Saya; ibu saya bilang, anak cewek nggak pantes masuk STM.

Teman; ehm.

Saya; padahal kan cowok dan cewek sama saja, anak cewek juga boleh kok sekolah di STM.

Teman; iya.

Saya; menurut kamu gimana?

Teman; nggak tau dech.


Sumpah, gokil banget, empet banget rasanya.

Kecewa setengah mati sama tu teman, berharap diberi solusi malah dibikin kecewa, hahaha.

Pernah nggak ngalamin kayak begitu? pasti pernah dech.

Tapi lagi-lagi nggak bisa nyalahin orang, karena karakter orang memang unik.

Mungkin salah kita karena curhat tidak pada orang yang tepat.

Saya punya sebuah cerita, semoga cerita saya nanti bisa diambil hikmahnya oleh semua yang membaca, amien.


Cerita I

Tadi sore saya membeli sate Madura langganan saya, seperti biasa saya membeli cuma satu porsi.

Ternyata yang jaga bukan bapak ibu yang biasanya, melainkan menantu perempuannya karena kebetulan si bapak dan ibu sedang tidak enak badan.

Saya langsung pesen sate satu porsi dan menegaskan pake bumbu kecap bukan kacang.

Karena kebetulan saya tidak begitu suka dengan bumbu kacang.

Lima belas menit kemudian sate sudah matang dan saya minta di bungkusin nasi, karena di rumah tidak ada nasi.

Saya; mbak nasinya satu bungkus ya?

Mbak; iya mbak.

Saya; eh ada lontong ya mbak?

Mbak; ada mbak, mau?

Saya; ehm, enaknya nasi apa lontong ya?

Mbak; lha saya tidak tahu, kan yang mau makan mbak bukan saya.


Saya bengong melihat si mbaknya, bengong karena mendapat jawaban yang tidak saya sangka-sangka.

Saya berharap si mbak akan memberikan saya solusi untuk memilih nasi atau lontong.

Ternyata si mbak gk begitu respon dengan pertanyaan saya.

Yah tapi apa mau dikata, jawaban si mbak juga ada benarnya.

Karena memang benar, yang mau makan kan saya bukan dia.

Jadi dia tidak perlu repot-repot memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya.


Cerita II

Pernah nggak curhat sama teman? pasti hampir sebagian kita senang curhat sama teman kita.

Tapi teman yang bagaimana dulu ne? kalau sahabat pasti akan cocok dan menarik.

Tapi kalau sekedar teman biasa, mungkin tidak akan sebaik curhat dengan sahabat.

Saya; adek saya kan lulus SMP, dia pengen masuk SMK (STM), saya sih boleh-boleh saja, tapi ibu saya nggak boleh.

Teman; owh.

Saya; ibu saya bilang, anak cewek nggak pantes masuk STM.

Teman; ehm.

Saya; padahal kan cowok dan cewek sama saja, anak cewek juga boleh kok sekolah di STM.

Teman; iya.

Saya; menurut kamu gimana?

Teman; nggak tau dech.


Sumpah, gokil banget, empet banget rasanya.

Kecewa setengah mati sama tu teman, berharap diberi solusi malah dibikin kecewa, hahaha.

Pernah nggak ngalamin kayak begitu? pasti pernah dech.

Tapi lagi-lagi nggak bisa nyalahin orang, karena karakter orang memang unik.

Mungkin salah kita karena curhat tidak pada orang yang tepat.


Cerita III

Waktu ngajar di kelas, saya pernah bertanya kepada murid saya tentang materi yang sedang saya jelaskan.

Kala itu saya menjelaskan tentang fenomena yang terjadi di negara Indonesia.

Saya; tingkat korupsi di Indonesia bukan semakin turun tapi semakin meningkat.

Murid; betul banget bu.

Saya; padahal kita sudah punya hukum, tapi belum memberikan efek jera kepada para koruptor.

Murid; hukum mati saja bu yang korupsi.

Saya; usul yang bagus, ada lagi usulan lain? budi?

Budi; iya bu?

Saya; menurut kamu, bagaimana agar para koruptor bisa jera sehingga korupsi bisa ditanggulangi?

Budi; nggak tahu bu.


Ya Allah, kok bisa ya dia jawab nggak tahu?

Padahal pertanyaannya sangat gampang dan jawabannyapun nggak perlu pakai hitungan.

Tapi ternyata murid saya nggak mau berusaha untuk sekedar kreatif dalam menjawab.

Seharusnya sebagai pelajar, dia berani berupaya untuk menjawab meskipun kurang tepat.

Karena guru saya pastikan akan menghargai jawaban muridnya yang mau berusaha.

Ketimbang cuma menjawab; nggak tahu bu.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog