Tuesday, December 17, 2013

Tanpa Judul...

Hidup kita memang hanya satu kali, hendaklah kita pergunakan untuk berbuat kebaikan kepada banyak orang.
Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Memang terkadang kita tidak bermaksud menyinggung orang lain, tetapi ternyata orang lain tersinggung dengan apa yang kita lakukan.
Bagaimanapun hidup kita bersinggungan dengan banyak orang, sehingga kita harus selalu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.
Jangan berfikir menjadi orang jahat, karena menjadi orang baikpun masih banyak yang tidak suka dengan kita.

Jangan berharap orang mengerti keadaan kita, karena sesungguhnya hanya kitalah yang bisa mengerti dan memahami diri kita sendiri.
Orang lain hanya mampu memahami kita secara fisik/kasat mata, tanpa bisa memahami dengan sempurna.
Selalu tersenyum dalam keadaan apapun, karena senyum tulus kita bisa mengobati orang-orang disekitar kita yang sedang terluka oleh masalah-masalahnya sendiri.
Berbahagialah bagi kita yang mampu memberi dan memberi kepada orang lain yang membutuhkan.
Karena memberi itu sesungguhnya adalah sebuah keindahan.

Bercita-citalah setinggi langit, karena diatas langit masih ada langit.
Jangan bangga dengan prestasi yang telah diraih, karena masih banyak di luar sana orang yang lebih hebat dari pada kita.
Manusia hampir tidak ada yang sempurna, yang ada adalah manusia yang selalu berusaha mendekati kesempurnaan.
Tidak masalah dengan ketidaksempurnaan, yang penting kita selalu belajar dan belajar disetiap nafas kita.

Kematian adalah rahasia Allah yang tidak bisa diprediksi oleh kita.
Dan kita harus bersiap-siap menghadapi sebuah kematian.
Boleh takut dengan kematian, tapi lebih bagus jika kita takut jika mati dalam keadaan tidak dikenang oleh banyak orang.
Karena kematian yang indah adalah kematian yang meninggalkan banyak kesan di mata orang.
Continue Reading...

Saturday, November 30, 2013

Yakin Berbuat...

Suatu ketika saya sedang ngobrol dengan senior di organisasi tentang banyak hal, salah satunya tentang kedekatan saya dengan anak-anak SMK/STM di DKI Jakarta.
Saya bercerita panjang tentang kondisi teman-teman SMK/STM yang telah lama menjadi sahabat baik saya.
Saya berani bilang sahabat baik karena hubungan diantara kami benar-benar erat dan terjalin.
Kami saling tahu satu sama lain, dari masalah sekolah, masalah rumah, masalah di tongkrongan, dan masalah dengan lawan jenisnya.
Kami juga selalu menyempatkan waktu untuk bersama dan sekedar berbagi cerita satu sama lain.

Bagi saya keberadaan teman-teman SMK/STM sangat penting.
Karena dari merekalah saya belajar tentang 'nilai' dalam hidup dan kehidupan.
Dari merekalah saya paham betapa pentingnya sebuah keberanian dan persahabatan.
Dari mereka juga saya belajar tentang keberanian berkorban untuk orang lain.
Insya Allah sampai kapanpun saya akan selalu ada untuk mereka sahabat-sahabat baik saya.
Hingga kelak mereka menjadi orang-orang hebat di negeri yang indah ini.

Di tengah lamunan itu tiba-tiba senior saya berkata panjang lebar:
"Dek menurut saya kamu sudah berlebihan dan kebablasan, kamu terlalu mengorbankan diri dan hidup kamu untuk mereka anak-anak SMK/STM yang bukan saudara kandung kamu. Saya sih bukannya tidak boleh atau tidak suka, tapi lebih tepatnya menurut saya yang kamu lakukan cenderung merugikan diri kamu sendiri. Kenapa saya bilang begitu, karena saya lihat kamu hampir tidak bisa menabung karena sering mengurusi keperluan mereka. Padahal sesungguhnya uang itu bisa kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu yang saya pikir sangat banyak sekali. Jadi menurut saya mulai sekarang kamu harus sudah berubah dan tidak lagi menghabiskan waktu kamu untuk mereka, toh mereka juga mempunyai sanak saudara, jadi kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab penuh terhadap keberadaan mereka. Saya takut kamu hanya berhenti diputaran ini dan tidak bisa berkembang lebih pesat lagi, sayang sekali jika demikian dikarenakan usia kamu masih relative muda dan masih bisa melakukan banyak hal".

Masya Allah, sungguh saya tertohok dan tersinggung atas apa yang disampaikan oleh senior saya tersebut. Saya merasa telah diacak-acak hati saya, hati yang sudah saya bangun benar-benar supaya menjadi hati yang putih dan suci. Karena perkataan dari senior saya tersebut, prinsip saya hampir goyah dan buyar. Saya sempat berfikir begini: "iya juga ya, ada benarnya juga yang disampaikan oleh senior saya tersebut, sepertinya selama ini saya terlalu berlebihan mengurusi anak-anak, sehingga saya hampir lupa mengurusi diri saya sendiri".

Hingga akhirnya saya berdiskusi dengan mahasiswa saya perihal persoalan diatas, dan alhamdulillah menemukan sebuah jawaban yang gemilang dan cerdas. Kata mahasiswa saya begini: "lho ibu, kenapa ibu musti gentar dan goyah? bagi kami ibu adalah orang hebat dan orang baik, kami saja iri lho sama ibu, setiap kali ibu cerita tentang teman-teman ibu anak-anak SMK/STM kami selalu berfikir kapan bisa seperti ibu, kapan bisa meluangkan waktu untuk ikut serta mendampingi mereka? bagi kami ibu sangat luar biasa, karena ditengah kesibukan ibu yang luar biasa masih mempunyai waktu untuk mendampingi dan menyayangi anak-anak SMK/STM, jadi menurut kami ibu tidak usah gentar, dan kami yakin dari hati yang paling dalam ibu pasti sepakat dengan kami dan menolak pendapat senior ibu di organisasi, yakin saja bu bahwa rejeki itu dari Allah SWT, yakin juga bahwa semakin banyak kita berbuat baik kepada orang lain maka Allah akan semakin sayang dan ingat dengan keberadaan kita, amien".

Subhanallah, terima kasih mahasiswa saya yang sungguh mulia dan cerdas. Terima kasih telah mengembalikan hati saya untuk kembali suci dan bersih. Dan terima kasih pula untuk senior saya di organisasi yang telah mengingatkan saya untuk hidup hemat. Nasehatmu sungguh berarti dan ada baiknya juga, bahwa hidup hemat itu penting, dan bahwa dalam memilih sesuatu harus berdasarkan skala prioritas mana yang paling penting untuk didahulukan.

Pesan saya untuk semuanaya adalah: yakinlah dalam berbuat sesuatu apalagi sesuatu itu bernilai baik.
Continue Reading...

Friday, November 29, 2013

Beda...

Waktu aku kecil, aku ingat ibuku bilang begini:
"Kamu harus manggil Dian itu Mbak meskipun kamu lebih tua dari Dian".

Sahutku:
"Lho memangnya kenapa bu?, mustinya Dian dong yang manggil aku Mbak?"

Jawab ibuku:
"Karena dia orang kaya, dan kita orang biasa-biasa saja".

Sangat tidak logis mendengar nasehat ibuku tentang hal diatas.
Tapi mau bagaimana lagi, akupun mengikuti yang ibu katakan tanpa melawan.
Meski hati kecilku sesungguhnya tidak sepakat dengan hal tersebut.

Suatu ketika ibuku berkata lagi begini:
"Kamu manggil ibu 'Emak' saja ya nak, karena tidak enak jika ibu".

Kataku dengan heran:
"Memangnya kenapa lagi bu?"

Jawab ibuku:
"Karena kita orang biasa-biasa saja berbeda dengan mereka yang kaya".

Kesal sekali kala itu, tapi aku tak mampu menterjemahkan kekesalanku.
Karena kala itu aku masih terlalu kecil untuk paham tentang yang namanya 'kasta'.
Yang aku tahu adalah aku harus mengikuti nasehat dari ibuku tercinta.
Karena bagiku kala itu ibuku adalah segalanya.

Ketika lulus SMK aku diterima di kampus Universitas Negeri Semarang Jawa Tengah.
Aku lolos jalur PMDK (raport), alhamdulillah karena nilaiku bagus dan memuaskan.
Dengan sangat senang aku melaporkan kabar gembira itu kepada ibuku.Dengan harap ibuku akan ikut bersuka cita.

Keinginanku untuk bahagia belum tercapai ketika ibuku bilang:
"Ibu senang kamu lolos PMDK, tapi ibu takut nak, sungguh-sungguh takut berspekulasi".

Timpalku:
"Ibu takut kenapa?"

Jawab ibuku tegas:
"Kamu harus ingat dan sadar, bahwa kita bukan orang kaya, jadi ibu takut tidak mampu membiayai kuliahmu hingga lulus Sarjana".

Ya Tuhan, ternyata sangat tidak enak sekali menjadi orang biasa-biasa saja.
Seolah orang biasa-biasa saja itu tidak bisa melakukan banyak hal.
Seolah orang biasa-biasa saja itu tidak layak untuk dihormati dan dihargai.
Padahal bukannya manusia itu sama saja.
Yang membedakan hanyalah kualitas keimanan dan kecerdasannya saja.
Sehingga semestinya tidak layak melihat orang dari fisik bukan dari hatinya.

Alhamdulillah dengan yang biasa-biasa tersebutlah aku bisa menyelesaikan S1.
Dan bisa merampungkan S2.
Sekarang tinggal menyelesaikan S3.
Insya Allah tinggal selangkah lagi.

Jadi tidak sepatutnya kita menyepelekan yang biasa-biasa saja.
Karena tidak ada jaminan bahwa yang tidak biasa itu bisa lebih sukse dari yang biasa-biasa saja.

Jadi, hari gini masih ngomongin 'kasta'?
Tidak jaman lagi.
Continue Reading...

Thursday, November 28, 2013

My Profile...

I want to deliver my presentation on my profile in front of audiens.

My name is Immawati.
Please call me Imma.
My date of birth is 16 maret 19...
I am from Batang Central Java.
I am Indonesian citizen.
I am proud of being Indonesian people.

I am Imma, i am short, only 153 cm.
My weight is about 57 Kgs.
My skin is brown with short hair.
I have brown eyes, my nose is not sharp.

Every day i am wearing a long dress.
I like blue color swits to my hijab.
I also wearing wrist watch, bracelet, and glasses.
Sometimes i wear a scarf.

I am calm, cool, and critical.
And my principle is "life is only one, and me spend only for kindness".

My strong behavior shows me as a brave women and determind.
I like something done perfectly, i don't respect to someone who works not good accouplished.

My profession is a lecturer at faculty of education sciences at Muhammadiyah University of Jakarta.

My life is flat but i am happy.
I always thank to Allah SWT.
Due to "as good as human beings, those are thankful to Allah".

Thanks for all.
Greet for kindness.
Continue Reading...

Thursday, October 10, 2013

Kematian Pasti Datang...

Ketika bapakku meninggal dunia, umurku tengah jalan 7 tahun.
Sehingga aku belum begitu paham betapa sakitnya ditinggal oleh bapak untuk selama-lamanya.
Tapi aku ingat bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, bapakku sakit-sakitan terlebih dahulu baru meninggal dunia di rumah orang tua kandungnya di Desa Kalimanggis Kecamatan Subah Kabupaten Batang.
Bapakku meninggal karena sakit komplikasi, badannya kurus sekali saat meninggal.
Meski tidak lama mempunyai bapak, aku masih ingat betapa sayangnya bapak terhadapku dan almarhum adekku.
Bapak sering membawaku dan adekku ke pantai untuk berjalan-jalan.
Dan bapak juga sering membelikanku dan adekku jajanan.
Yang pasti bapak bagiku dan adekku adalah orang yang sangat baik dan sabar terhadap anak-anaknya.

Mantanku juga pernah ada yang meninggal dunia.
Seminggu sebelum meninggal aku bareng satu kegiatan dengan dia.
Dia orang yang sangat baik, sopan, dan sabar.
Banyak memberikan siraman rohani untuk aku.
Dan sering datang ke Semarang hanya untuk meminjamiku buku-buku Islam.
Setelah dia meninggal, aku baru sadar bahwa masih banyak buku-buku dia yang di tempatku.
Seperti sudah mempunyai firasat, seminggu sebelum meninggal saat bareng satu kegiatan dia berpamitan dengaku dan menitipkan salam untuk keluargaku.
Satu yang aku baru tahu setelah dia meninggal yaitu bahwa ternyata dia adalah anak yatik piatu yang selama hidupnya tinggal di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah.
Bahkan dia bisa sekolah hingga Perguruan Tinggi karena beasiswa dari Muhammadiyah.

Adek kandungku juga akhirnya meninggal dunia.
10 hari sebelum dia meninggal alhamdulillah aku bersama dia di rumah.
Sehingga aku merasa cukup puas dan berterima kasih kepada Allah karena telah memberiku waktu untuk melihatnya selama 10 hari penuh.
Tidak ada yang mengira bahwa dia akan meninggal secepat itu.
Karena sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
Semua kaget dan semua yang mengenalnya sangat sedih atas kematiannya yang mendadak.Tapi akhirnya semua yakin bahwa itu sudah merupakan jalan Allah.
Yakin bahwa Allah sayang dengan adekku sehingga memanggilnya lebih dahulu.

Teman-teman, kematian itu datang tiba-tiba dan tidak mengenal kompromi.
Sehingga terkadang kita tidak cukup waktu untuk bersiap-siap.
Kematian adalah rahasis Allah mutlak.
Manusia hanya bisa berhati-hati dan selalu waspada agar meninggal dalam keadaan baik.Karena jangan sampai meninggal dalam keadaan berbuat maksiat.
Oleh karena itu, mari bersama-sama selalu koreksi diri agar dijauhkan oleh Allah dari hal-hal yang negatif.
Bagaimanapun hidup hanya satu kali, mari kita gunakan untuk berbuat kebaikan dan kemanfaatan.
Jadilah orang baik yang selalu bisa membuat orang lain tersenyum dan merindukan kehadiran kita.
Semoga.
Amien.
Continue Reading...

Thursday, July 25, 2013

Tidur di motor....

Dari kuliah saya mulai terbiasa bawa motor dan hingga sekarang saya masih bawa motor.
Inginnya sih bawa mobil, tapi belum ada mobil yang bisa dibawa.
Hahahaha.
Bagi saya mengendarai motor sangat menarik dan mengasyikkan.
Saya bisa melewati banyak keunikan-keunikan di jalanan.
Ada saja tingkah polah manusia yang berada di kanan kiri jalan yang saya lewati.
Ada pejalan kaki, ada penjual makanan, ada kerumunan orang, dan masih banyak hal lain yang berseliweran di kanan kiri jalan.
Oleh karena itulah saya lebih senang mencari jalan yang membuat saya nyaman.
Meskipun jalan tersebut sesungguhnya sangat jauh atau lebih jauh kata orang-orang.

Saya tidak peduli jika orang bilang begitu.
Toh jauh dan dekat itu bisa jadi sangat relative.
Dekat jika jalanan jelek dan kanan kiri tidak menarik untuk apa?
Mending lebih jauh tapi jalanannya bagus dan kanan kirinya unik serta menarik perhatian.
Pasti dilaluinya menjadi dalam waktu yang sama.
Hehehehe.

Saya termasuk yang suka berpetualang dengan motor.
Lagi-lagi karena punyanya motor, hihihihi.
Semarang dan Jawa Tengah yang begitu luas hampir sudah saya jelajahi dengan menggunakan motor.
Luar biasa menarik bisa keliling Jawa Tengah menggunakan motor.
Pasti semua tahu betapa indah alam Jawa Tengah yang terdiri dari daerah Pantura dan beberapa jalur-jalur perbukitan hampir menyerupai gunung-gunung pendek.
Wow pasti semua orang yang menikmati indahnya alam Jawa Tengah akan berdecak kagum.
Seperti jalur dari Semarang menuju Purwokerto, kita harus melewati Ungaran, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga baru tiba di Purwokerto.
Jalur tersebut sungguh memukau mata yang memandang.
Membuat kita takjub kepada alam ciptaan Tuhan yang sungguh luar biasa bagus dan anggun.

Sekarang hampir 8,5 tahun saya tinggal di Jakarta.
Dan selama itu pula saya telah menjelajahi Jakarta dan sekitarnya dengan motor saya.
Ehm mungkin kanan kiri Jakarta dan sekitarnya tidak semenarik di Jawa Tengah.
Karena menurut saya lebih unik alam alami dari pada gedung-gedung bertingkat.
Meski saya juga salut kepada para manusia yang sanggup menciptakan gedung-gedung pencakar langit tersebut.
Bagaimana tidak kagum, wong saya itu orang kampung yang merantau.
Dan di kampung saya tidak ada gedung-gedung seperti di Jakarta.
Adanya hanya sawah, kali, laut, jalan pedesaan, lapangan, dan hutan asri.

Tapi tidak ada kekosongan dalam ruang manapun.
Dimanapun kita berada disitulah kita harus mengais nilai kehidupan.
Sehingga kita tidak miskin dengan nilai dan pengetahuan.
Dengan prinsip itulah saya selalu mencoba menikmati ibu kota Jakarta dengan subjektifitas saya.
Supaya saya tidak kelelahan berkendara motor di jalan raya Jakarta dan sekitarnya.
Maaf ya, kenyataannya banyak orang yang tidak sanggup naik motor keliling Jakarta dikarenakan tidak kuat dengan keadaan lingkungan Jakarta yang macet, pengap, polusi, dan terlalu sesak oleh kendaraan.
Meskipun masih banyak juga orang yang bertahan dengan motornya.
Sebagian nyaman, sebagian biasa saja, dan sebagian lain sangat menikmati berkendara motor di Jakarta.

Tidak tahu mengapa sebabnya?
Akhir-akhir ini saya mulai kelelahan berkendara motor seorang diri, dan lebih senang ketika dibonceng dari pada membonceng orang lain.
Lebih nikmat di belakang dari pada harus mengendari motor.
Meski menurut adek saya lebih seru di depan dari pada di belakang.
Kata dia di belakang/membonceng bikin pegel pinggang dan membosankan.
Hahahaha, begitulan adek saya.

Lain adek saya lain pula dengan saya.
Bagi saya hal terenak ketika naik motor adalah saat di belakang/di bonceng.
Karena saya merasa lebih rileks dan enak.
Nyaman dan juga tidak tegang karena takut jatuh.
Bagaimanapun memboncengkan orang itu musti disertai dengan tanggung jawab yang tinggi.
Karena memboncengkan orang adalah bagian dari amanah.
Sehingga jika terjadi apa-apa dengan yang di bonceng maka kitalah yang seharusnya bertanggung jawab.

Ehm ada satu hal lagi yang membuat saya sangat suka di bonceng motor yaitu saya bisa tidur.
Tidak tahu kenapa, setiap saya di bonceng motor pasti saya tertidur.
Bukan tertidur biasa lho, bahkan sampai pulas tidurnya.
Hahahaha, sangat parah dan bahaya.
Tapi saya santai dan seolah nikmat saja.
Meski pihak yang membonceng saya sering protes karena takut saya jatuh gara-gara tidur.
Kata pihak yang membonceng tidur itu tidak sadar, sehingga kemungkinan jatuhnya besar.
Jadi saya dilarang tidur ketika di motor.
Hehehehe, saya cuma bilang iya insya allah dan tetap melanjutkan tidur saya di motor.

Percaya tidak?
Saking seringnya tidur di motor saat di bonceng, saya seolah bisa menyeimbangkan diri.
Dan tidur saya posisinya bisa aman dan tenang.
Ketika ada gangguan jalan rusak misalnya, saya pasti langsung terbangun dan waspada.
Apalagi ada razia sepeda motor oleh polisi, pasti saya langsung segar bugar bahkan mata saya sampai melotot.
Hihihihi.

Jangan ditiru ya kebiasaan saya tidur di motor saat di bonceng.
Karena tidak semua orang bisa seimbang saat tertidur.
Karena kondisi tertidur itu kondisi dimana kita dalam keadaan tidak sadar secara sempurna.
Saya pribadi juga menyadari bahayanya tidur di motor.
Meski sampai saat ini saya masih bandel dan masih merasakan nikmatnya tidur di motor.
Dan bahkan saya merasa ketika kurang istirahat malam harinya, di motorlah saya akan tertidur.
Memenuhi hak tidur saya yang terkurangi oleh pekerjaan-pekerjaan.

Tapi hanya boleh ketika di bonceng ya teman?
Tidak berlaku bagi yang membawa/mengendarai motor di depan.
Karena sangat berbahaya jika kita tidur sambil membawa motor.
Continue Reading...

Monday, July 08, 2013

Baik...

Naik Gunung
Dia menemani peserta yang kelelahan dan tertinggal di belakang, peserta tersebut baru pertama naik gunung sehingga belum terbiasa oleh medan pegunungan yang sangat terjal dan curam.
Dia mungkin menjalankan tugasnya sebagai panitia, yang memang harus bertanggung jawab atas keselamatan para peserta.
Tapi sepertinya dia memang sangat baik dan nothing tulus.
Sehingga dalam peristiwa tersebut ada seseorang yang merasa berhutang budi oleh dia, seseorang tersebut merasa terselamatkan oleh kebaikan dia.
Bagaimana tidak, hampir-hampir seseorang tersebut lunglai oleh sugesti negatifnya.
Sugesti negatifnya mengatakan bahwa dirinya seolah tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.
Fisiknya mungkin kuat, tetapi sugesti negatif itu terus bergelayut mesra di support oleh derasnya air hujan yang turun dan dinginnya suasana dipegunungan yang sangat mencekam.
Sungguh beruntung seseorang tersebut, ditemani oleh dia dan seolah diberi kekuatan lewat energi positif dari si dia.
Dengan energi positif tersebut, seseorang itu kemudian mencoba untuk bersugesti positif dan terus bangkit menatap kedepan dengan keyakinan penuh bahwa dirinya mampu menggapai puncak gunung dengan selamat dan sehat.

Nganterin Pulang
Beberapa waktu kemudian dia berkomunikasi dengan seseorang itu, biasalah untuk menjalin silaturahmi.
Toh hidup ini kan sejatinya untuk saling bersilaturahmi satu sama lainnya, karena manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dan support dari orang lain.
Suatu hari seseorang tersebut sedang melayat di rumah temannya yang kebetulan bapaknya meninggal dunia karena sakit.
Seseorang tersebut kebetulan bodynya kurang fit karena pasca kecelakaan motor, dengan suka rela si dia datang  untuk ikut melayat dan akhirnya menemani/mengantarkan seseorang tersebut untuk pulang ke rumah yang jaraknya luamayan jauh dari ibu kota Jakarta.
Hohoho, "baik banget ini bocah, dengan riang gembira mau menemani".
Tapi sebenarnya biasa saja, karena memang tugas manusia itu untuk berbuat baik.
Justru yang aneh adalah jika ada manusia yang hobby berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini.

Nemenin Jalan Di Jalanan
Beberapa waktu kemudian lagi dia janji akan main ke rumah seseorang itu, malam itu hujan turun begitu lebatnya sehingga seseorang itu berfikir bahwa si dia pasti tidak jadi datang.
Ternyata di luar dugaan, si dia datang menepati janjinya mesti harus menembus hujan yang begitu lebat dan deras.
Keesokan harinya dia menemani seseorang itu jalan-jalan keliling Jakarta mendampingi teman-teman muda seseorang itu.
Teman-teman muda dari seseorang itu kebetulan sedang merayakan kelulusan pasca ujian nasional.
Sebenarnya sih tidak perlu dirayakan, tapi sepertinya itu semua sudah menjadi tradisi di Jakarta.
Sehingga dengan penuh resiko seseorang tersebut memutuskan mendampingi teman-teman mudanya, supaya bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.
Subhanallah, si dia begitu setia menemani seharian penuh tanpa mengeluh.
Senantiasa senyum dan senyum dengan tulus ikhlas.

Nemenin Pas Ada Korban
Sore itu seseorang itu mengajar di daerah Jakarta Timur, karena di telephone oleh adek-adekkan bahwa ada temannya yang juga adek-adekkan dari seseorang itu terluka oleh pelajar sekolah lain, seseorang itu langsung meluncur ke lokasi kejadian.
Ketika seseorang itu tiba di lokasi korban sudah dibawa ke rumah sakit oleh temannya dibantu sama orang lain yang kebetulan lewat di lokasi kejadian.
Tiba di rumah sakit kurang lebih pukul 17.00 Wib dan ternyata korban telah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu.
Seseorang itu lunglai dan lemah, hilang semua kekuatan body nya.
Sungguh memilukan dan membuatnya sangat-sangat sedih tidak berdaya.
Seseorang itu hanya sanggup menangis dan berdo'a di Masjid Rumah Sakit hanya untuk menenangkan dirinya yang kala itu sungguh pilu yang luar biasa.
Hingga malam hari seseorang tersebut tiba di rumah korban bersama dengan semua teman-teman korban.
Karena butuh pendamping dan butuh support seseorang meminta si dia untuk datang menemani.
Dan benar saja seperti biasanya, si dia datang menghampiri seseorang tersebut untuk membantu memulihkan kepiluan di malam itu.
Meski jarak yang ditempuh lumayan jauh, si dia tidak keberatan dan merasa biasa saja.
Bagi si dia, bisa memberi support kepada seseorang itu jauh lebih berharga dari segalanya.

Mimpi
Dia cerita kepada seseorang;
Semalam aku mimpi tau kurang lebih jam 02.00 malam, aku mimpi kalau kamu itu dikejar-kejar sama polisi terus ditembak.
Karena aku panik aku langsung bangun dari tidur dan langsung siap-siap mau ke rumah kamu.
Aku pikir itu bukan mimpi tapi kenyataan, makanya aku langsung pakai jaket dan siap-siap mau mengeluarkan motor dari rumah.
Aku takut kamu kenpa-kenapa dan saat itu aku sangat khawatir sekali dengan keadaan kamu.
Pas aku mau keluar tiba-tiba bapakku menyadarkanku bahwa saat itu jam menunjukkan angka 02.00 malam, sehingga sepertinya aku hanya mimpi belaka, itu kata bapakku.
Akhirnya aku melihat jam dan akhirnya melihat hp, ternyata ada sms dari kamu yang isinya kamu baik-baik saja dan kata kamu alhamdulillah panas badannya sudah lumayan turun.
Kebetulan malam itu kamu sakit, makanya aku kepikiran dan sampai kebawa ke dalam alam mimpi.

Helm
Seseorang sedang nonton bersama si dia, dan tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya.
Bukan nonton film di bioskop ya, tetapi nonton bola di gelora bung karno.
Si dia teringat bahwa salah satu helmnya tidak tertutup alias kebuka, otomatis pasti akan basah kena air hujan.
Si dia bilang gini;
Eh itu hel kita satunya lagi kebuka dech, tar basah dung ya?
Ehm yaudh dech tidak apa-apa, nanti yang basah aku yang pakai, kamu pakai helm yang masih kering saja.
Biar kamu tidak sakit karena helmnya basah.

Jaket
Beberapa kali jalan dengan si dia, seseorang banyak merepotkan si dia.
Seseorang sering bawa jaket tipis yang sebenarnya tidak cocok untuk udara malam hari.
Dan alhamdulillahnya si dia selalu bawa jaket yang luamyan tebal sehingga lebih hangat dan nyaman.
Nah karena keadaannya begitu, seseorang sering memakai jaket si dia untuk digunakannya.
Dan si dia memilih tidak memakai jaket, karena memakai jaket seseorang terlalu tipis dan terkadang terlalu kecil.
Padahal mustinya keduanya harus sama-sama menjaga body, supaya sama-sama tidak sakit.
Kan tidak lucu jika salah satu sakit demi berkorban untuk salah satunya.
Hahaha, seperti sinetron saja keliahatannya, lucu sekali.

Nemenin Pas Sedih
Si dia memang baik dan pengertian, ketika suatu saat seseorang sedang ada masalah besar, si dia bersedia hadir di samping seseorang dengan setia.
Memberikan support positif dan memberi masukan-masukan agar seseorang bisa menyelesaikan masalahnya.
Merasakan yang dirasakan oleh seseorang.
Ternyata benar, kehadiran si dia sungguh berarti bagi seseorang.
Karena yang paling dibutuhkan orang dalam keadaan pelik adalah seorang teman baik yang mau mendengarkan dan memberinya saran.

Sabar Mencari Alamat
Tidak semua orang sabar mencari alamat baru.
Karena mencari alamat baru begitu rumit dan membuat kepala puyeng.
Apalagi alamatnya terkadang tidak jelas dan abstrak.
Sehingga sepertinya hanya orang-orang yang sabarlah yang bisa mencari alamat baru.
Dan ternyata si dia termasuk orang yang sabar mencari alamat baru hanya untuk menemui seseorang tersebut.
Dimanapun dan sesulit apapun, si dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari alamat baru dan alamat baru.
Dan pasti selalu ketemu dan tidak ribet.
Luar biasa si dia, benar-benar hebat dan siap melakukan apa saja untuk seseorang tersebut.
Semoga yang terlihat benar adanya, bukan hanya isapan jempol atau hanya sekedar lipstik belaka.
Misalnya hanya untuk kepentingan sunjektifnya.
Akan menjadi naif jika hal itu benar adanya.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog