Tuesday, February 12, 2013

Damai Dalam Ego...

Dalam suatu forum formal, dihadiri oleh mayoritas ibu-ibu yang cerdas dan berpendidikan.
Kala itu forum sedang membahas tentang bakal calon untuk presidium.
Kebetulan dari organisasi yang saya wakili tidak ada calonnya dikarenakan telat mengirim kesediaan.
Secara aturan jelas tidak boleh menyusul, karena jika dibolehkan maka semua yang telat akan meminta untuk dibolehkan mencalonkan diri.

Saya sudah tidak menjadi masalah dan tidak ngoyo untuk tetap mencalonkan atas nama organisasi yang saya wakili.
Karena toh memang organisasi saya yang salah.
Bagaimanapun dalam berorganisasi harus tertib organisasi.
Tiba-tiba pimpinan sidang teriak-teriak tidak jelas yang kesannya sangat sensi dengan organisasi saya.

Pimpinan sidang; tidak bisa lagi untuk organisasi anda masuk bakal calon, karena sudah terlambat.
Saya; iya saya dan teman-teman tidak apa-apa kok.
Pimpinan sidang; ini coba kita cek lagi suratnya, takut anda tidak percaya bahwa surat mandat yang sekretaris anda kirim sangat terlambat.
Saya; iya bu, tidak usah dibahas lagi, toh kami tidak masalah nama kami tidak masuk dalam bakal calon presidium.
Pimpinan sidang; bagaimana coba? organisasi anda kan organisasi besar di negeri ini, sudah terlambat mengirim mandat kesediaan ditambah nulis tanggal saja salah, sekarang kan baru awal februari, kenapa disini ditulis tanggal 30 februari? lagipula sejak kapan ada tanggal 30 februari?

Spontan (saya berdiri sambil menggebrak meja sangat keras; "bisa diam tidak ibu? tidak usah ribet dan bawa-bawa nama organisasi saya untuk kesalahan ini, dan tidak usah bikin masalah, saya sebagai kader tidak terima atas semua yang ibu sampaikan tadi, mohon jaga omongan ibu....!!!!!").

Semua orang di forum yang jumlahnya kurang lebih 80 ibu-ibu sontak diam dan tidak bergeming, mereka seolah kaget semuanya dan tidak menyangka bakal ada kejadian seperti itu.
Apalagi saya termasuk peserta dari golongan anak muda yang secara culture seharusnya sopan dan tunduk dengan orang yang lebih tua.
Setelah suasana diam beberapa saat, ada ibu-ibu yang istighfar, ada yang terisak menangis, ada yang tetap diam di tempat.
Kebetulan suasana memang sedang tidak mengenakkan, tidak hanya masalah organisasi saya, tetapi juga masalah-masalah kepanitiaan dan lain-lain yang mengakumulasi jadi satu di waktu itu.

Saya diam dan terduduk.
Saya merasa sangat canggung dan tidak enak.
Saya merasa telah melukai hati para ibu-ibu di forum itu.
Tiba-tiba pimpinan sidang tersebut mengahampiri saya dan berkata;
"maafkan saya ya mbak, saya demi Allah tidak bermaksud menjelekkan organisasi mbak, tadi hanya kondisi emosi yang terakumulasi dan memuncak, sehingga hasilnya sangat kacau dan menyakitkan hati".

Saya langsung menimpali;
"ibu, saya yang harus meminta maaf kepada ibu, tidak semestinya saya begitu sama orang yang lebih tua, bagaimanapun ibu adalah ibu kami semuanya, sehingga saya yang harusnya meminta maaf kepada ibu-ibu semuanya".

Saya dan si ibupun akhirnya berpelukan, dan saya lihat si ibu meneteskan air mata tanda haru yang begitu mendalam.
Sayapun merasa sangat tidak enak hati, meskipun dalam hati saya berkata; ("tidak apa-apalah, sekali-kali ibu-ibu juga musti di beri pengalaman yang berbeda, bahwa di luar sana hampir mayoritas anak-anak muda bersifat keras dan sering anarkis dalam bertindak, itu semua karena akumulasi kekecewaan dan kebencian terhadap sistem yang ada di masyarakat Indonesia").
Supaya orang tua juga tidak selalu arogan ketika menghadapi kaum muda, bahwa kaum muda itu mempunyai dunia sendiri yang unik dan lucu, sehingga tidak pas jika orang tua selalu memaksakan kehendaknya kepada para anak muda.


Continue Reading...

Sunday, February 10, 2013

Jangan Memaksakan Kehendak...

Cerita I

Suatu hari saya di telephone oleh sebuah kampus di Jakarta, pihak kampus mengabarkan ke saya bahwa saya diterima mengajar di kampus tersebut dengan mata kuliah Nasionalisme.
Demi Allah, saya tidak begitu mendengar jelas nama kampusnya apa, dan sombongnya saya sama sekali saya tidak mencari tahu tentang kampus tersebut.
Ketika di telephone saya hanya bilang; "okeh, saya menerima tawaran kampus bapak dan saya bersedia mengajar mata kuliah Nasionalisme".
Beberapa hari kemudian pihak kampus kembali menelephone saya dan memberitahukan bahwa beberapa hari kedepan akan ada rapat untuk dosen baru dan saya diwajibkan untuk datang.
Jika tidak datang, maka saya akan digantikan oleh dosen cadangan yang telah dipersiapkan oleh pihak kampus.

Hari itu rabu, mustinya saya sudah sampai kampus tersebut sejak pukul 17.00 WIB.
Tetapi hingga maghrib saya masih bersama dengan teman-teman saya anak stm yang kebetulan sedang membutuhkan kehadiran saya disitu.
Setelah urusan dengan teman-teman saya kelar, saya langsung meluncur ke daerah Pulomas untuk mengikuti rapat dosen baru mata kuliah Nasionalisme.
Di jalan hujan turun sangat deras disertai angin dan petir.
Selain itu jalanan juga banjir cukup tinggi sehingga mengakibatkan kemacetan panjang di daerah gatot subroto.
Karena macet saya memutuskan ambil kiri dan mengambil jalur dukuh atas, ternyata sama saja dalam keadaan macet total karena banjir.


Saya sudah siap dengan segala konsekuensinya jika ternyata tidak boleh terlambat untuk dosen baru.
Dan songongnya saya, sampai detik itu saya masih tidak paham dengan kampus yang mengundang saya untuk bergabung menjadi dosen disitu.
Yang saya pikirkan saat itu adalah bahwa saya tidak akan ngoyo dengan tempat kerja baru, toh saya sudah menjadi dosen tetap di UMJ.
Ketika saya harus mengajar di tempat lainpun, saya tetap musti mengutamakan yang UMJ.

Pukul 19.30 saya tiba di kampus tersebut daerah Pulomas dekat dengan kampus Jaya Baya.
Saya sebenarnya tertegun alias kaget ketika melihat kampus di depan saya begitu megah dan besar.
Tidak kalah besar dengan kampus Jaya Baya yang sudah lama eksis.
Meski gedung masih baru, tapi tata letak gedungnya menarik perhatian saya dan membuat saya nyaman berada disitu.
Saya langsung menemui satpam dengan kondisi badan basah kuyup, dan satpam tersebut sangat ramah dan segera mempersilahkan saya memarkir motor untuk kemudian naik keatas bergabung dengan dosen yang lainnya.
Karena benar, rapat sudah dimulai sejak jam 17.00 sore.

Tiba diatas saya malu dengan dosen yang lain, terutama dengan pimpinan saya kelak yang sedang memberi pengarahan kepada dosen-dosen baru.
Saya segera duduk dengan keadaan baju basah kuyup bagian bawahnya dan wajah belepotan dengan air hujan.
Bedak dan lisptik juga saya yakin sudah pada luntur semuanya, tinggal sisa kepercayaan diri saya yang begitu tinggi dan besar.
Selesai pengarahan saya meminta maaf kepada pimpinan tersebut dan menjelaskan kenapa saya terlambat.
Alhamdulillah tidak apa-apa dan beliau bisa memakluminya.
Akhirnya beliau memberitahukan kepada saya bahwa saya mengajar mata kuliah Nasionalisme mulai minggu kedua februari.

Cerita II

Sore itu sekitar pukul 17.30 saya memutuskan keluar rumah untuk membeli cap cay di depan gerbang Kahuripan.
Cap cay langganan saya yang sangat sederhana tapi sehat, karena cap cay tersebut tidak menggunakan minyak goreng, daging, sosis, dan telur.
Pembuatnya sudah paham dengan pesanan saya dan tidak pernah lagi bertanya akan komposisi si cap cay tersebut.
Keadaan sore itu hujan lebat disertai angin dan petir yang lumayan bersahutan.
Saking pengennya makan si cap cay itu, saya memutukan untuk tetap keluar rumah dengan menggunakan mantel.
Kebetulan jaran rumah saya ke warung cap cay tersebut lumayan jauh, kurang lebih 4-5 kilo meter.
Kata orang sih, apa yang saya lakukan sangat kurang kerjaan dan ngoyo.
Lha bagaimana tidak, wong timbang cap cay saja kok dibela-belain hingga sedemikian rupanya.

Setiba di warung cap cay, si bapak sangat sigap membuatkan cap cay kesukaan saya.
Setelah selesai saya langsung pamit untuk segera pulang karena hujan makin deras dan petir semakin banyak rasanya.
Saya kembali menggunakan mantel/jas hujan dan menjalankan motor butut saya.
Kurang lebih jalan baru 500 meter, saya tersadar bahwa cap cay saya hilang dari plastiknya beserta kerupuknya.
Ternyata pas saya cek plastik kreseknya bolong di bagian bawah, sehingga si cap cay dan kerupuk melorot keluar dari sangkarnya.
Ehm, sedih sih dan sebenarnya berniat untuk balik lagi dan membeli cap cay yang baru lagi.
Tapi saya sudah malu dan merasa tidak etis jika harus membeli cap cay dalam waktu bersamaan sebanyak dua kali.
Tetapi saya memutuskan untuk tidak kembali dan singgah di perumahan candra loka bermaksud membeli gado-gado tanpa nasi/tanpa lontong.

Alhamdulillah warung gado-gadonya masih buka dan masih melayani pembeli, soalnya terkadang menjelang maghrib warung gado-gado suka tutup.
Kebetulan pemilik warung (suami-istri) sedang ada di rumah, tidak seperti biasanya saya hanya ketemu dengan pelayannya.
Oya warung disitu menggunakan pernak-pernik serba khas Bali, dari meja, kursi, lukisan, dan hiasan lainnya.
Karena kebetulan ketemu dengan pemilik warungnya saya langsung menanyakan kenapa modelnya khas Bali.
Ternyata pasangan suami-istri tersebut sangat mencintai kebudayaan Bali dan pernah tinggal di Bali kurang lebih delapan tahun.
Akhirnya saya bisa memahami kenapda style rumah makannya style Bali yang sangat keren, meski pemiliknya asli orang Jawa Timur.

Karena hujan tambah deras, saya memutuskan untuk singgah dulu dan menunggu hujan agak redaan.
Dan saat menunggu tersebut saya bertemu dengan laki-laki muda asli orang kampung situ.
Cowok tersebut sedang ada perlu dengan pemilik warung gado-gado tersebut makanya dia singgah.
Tiba-tiba setelah agak lama, dia menggabungkan diri dalam diskusi ringan antara saya dengan pemilik warung gado-gado.
Ternyata cowok tersebut adalah teman dekat Dany pelaku bom bunuh diri  JW Marriot yang tubuhnya ditemukan hancur berantakan.
Cowok tersebut cerita banyak tentang dirinya dan kedekatannya dengan korban meninggal yang bernama Dany.
Dia juga memanjatkan syukur atas petunjuk Allah, karena dirinya akhirnya bisa melarikan diri dari komunitas ekstrimnya tersebut, dan tidak meninggal secara sia-sia.

Beberapa menit kemudian hujanpun reda dan saya memutuskan untuk pulang ke rumah, takut malam semakin larut dan sayapun pasti enggan pulang, karena saya orangnya suka ngobrol panjang lebar bla bla bla.
Selama perjalanan saya berpikir bahwa meskipun saya tidak jadi makan cap cay, tapi saya yakin ini semua sudah jalan Allah SWT.
Karena toh akhirnya saya bisa ketemu sama pemilik warung gado-gado dan bisa ketemu dengan cowok istimewa yang ternayata adalah teman dekat Dany pelaku bom bunuh diri JW MARIOT.
Kedua hal tersebut saya rasa jauh lebih berharga dibandingkan sekedar makan cap cay.

Hikmah dari cerita diatas

Bahwa apa yang kita inginkan dan kita mau, belum tentu yang terbaik untuk kita dan hidup kita.
Bahwa apa yang kita cintai dan sayangi, belum tentu baik di mata Allah.
Yakinlah bahwa Allah sangat adil, Dia akan selalu membimbing umatnya menuju jalan yang paling lurus dan jalan yang paling sempurna dari yang tidak sempurna.
So, jangan pernah memaksakan kehendak kepada orang lain dan jangan pernah sedikitpun terpikir di otaknya bahwa segala sesuatu itu kebetulan dan bukan kehendak dari Allah SWT.
Continue Reading...

Tuesday, February 05, 2013

Kurikulum Baru 2013...


Pemberlakuan kurikulum 2013 harusnya di uji coba terlebih dahulu paling tidak satu hingga dua tahun baru diputuskan akankah diganti atau tidak. Sistim pendidikan di Indonesia terlalu ribet dan banyak aturannya, tidak jarang menjadikan siswa sebagai korbannya. Persoalan Ujian Nasional saja hingga kini tidak kunjung usai, padahal banyak pihak yang sejatinya tidak sepakat dengan pelaksanaan Ujian Nasional. Pada kurikulum baru ada penambahan jam pelajaran agama dari dua jam menjadi empat jam, alasannya yaitu adanya anggapan bahwa rusaknya moral generasi muda/pelajar karena kurangnya materi pelajaran agama di sekolah, padahal belum tentu juga karena pelajaran agama yang kurang. Banyak faktor yang membuat pelajar terjerembab pada persoalan moralitas misalnya seperti; kurangnya perhatian dari kedua orang tua, kurangnya perhatian dari guru di sekolah, pengaruh lingkungan sekitar, pengaruh teman sebaya, dan tidak adanya prinsip hidup dalam diri anak tersebut.

Yang dimaksud dengan mutu sesungguhnya adalah bagaimana output dari sekolah, adanya standart kelulusan yang dibuat oleh sekolah, dan adanya quality control serta quality assurance). Para siswa yang mengerjakan soal Ujian Nasional lebih banyak yang tidak tahu dari pada yang tahu dan paham tentang soal tersebut. Guru di sekolah masih mengajar dengan cara-cara lama (tekstual) sehingga siswa mengalami kebosanan tingkat tinggi. Wajar jika siswa lebih tertarik dengan HP nya saat guru menerangkan di depan kelas. Karena yang diterangkan oleh guru sudah using, dan siswa bisa mendapatkan yang lebih menarik dari HP nya.

Standart pendidikan tingkat nasional mustinya harus memiliki; examination authority and assessment center, metode teknologi, dan manajemen system pengujian yang valid. Di Negara luar kurikulum disempurnakan setelah lima tahun itupun jika kurikulum sebelumnya dianggap sudah usang dan harus diganti. Semestinya Indonesia juga jangan terlalu sering mengganti kurikulum, jika kurikulum yang lama belum efektif pelaksanaannya. Jangan sampai ada labelisasi kepada pemerintah bahwa setiap ganti menteri pasti akan ganti kurikulumnya. Kurikulum yang baru adalah memang amanah dari Presiden RI untuk menyempurnakan kurikulum yang sudah ada sebelumnya. Dalam kurikulum yang baru tersebut fokus kelulusan tidak hanya dari teks nilai melainkan juga berdasarkan penilaian menyeluruh yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pendidikan adalah episentrum (titik getar), bagaimana agar siswa bisa menjadi sosok manusia yang berkualitas setelah mereka kelak lulus dari bangku sekolahnya. Kenyataannya sistem pendidikan yang sekarang ada masih seperti setting pada masa Kolonial Belanda yaitu menghasilkan mentalitas pekerja (model pabrikan). Idealnya jangan sampai pendidikan menjadi kepentingan politik pendidikan, uji coba tentang pendidikan, dan proyek pendidikan yang menguntungkan segelintir orang tapi merugikan banyak orang. Substansi pendidikan yang objektif yaitu mengandung; substansi, normative, fokus untuk perubahan pendidikan, dan fokus untuk memajukan pendidikan Indonesia. Jika kurikulum yang baru dipaksakan jalan maka akan terjadilan ketidak seimbangan kurikulum dan kurikulum tersebut dirasa belum bisa menjawab kegundahan-kegundahan yang ada.

Tidak ada jaminan pasti bahwa perubahan kurikulum 2013 akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indoensia. Mustinya di cari dahulu apakah sesungguhnya yang menjadi persoalan penting dalam pendidikan di Indoensia? Apakah guru, system, murid, metode, atau lingkungan sekitar yang kurang mendukung? Jangan-jangan permasalahan pokoknya justru pada gurunya, bahwa secerdas apapun siswa dan selengkap apapun sarana prasarana, jika gurunya tidak berkualitas dan tidak kompeten makan akan gagallah sebuh proses belajar mengajar di kelas. Kenyataannya banyak guru di Indonesia yang kurang berkualitas dan tidak mampu menguasai kelas saat dirinya mengajar, sehingga siswa lebih autis dengan HP nya dari pada harus memperhatikan guru saat guru mengajarkan materi/ilmu. Boleh dilakukan perubahan terhadap kurikulum tetapi hendaknya dilakukan dulu penelitian yang mendalam dan serius, sehingga perubahan yang terjadi tidak sia-sia.

Perubahan kurikulum yang ada fokus pada; pengurangan mata pelajaran karena mata pelajaran di Indonesia dirasa sangat banyak sekali, pengurangan materi pelajaran pada mata pelajaran tertentu seperti IPA dan IPS, penambahan jam pelajaran mata pelajaran agama, dan penerapan kembali cara belajar siswa aktif (CBSA). Yang paling penting dari semuanya yaitu bahwa perubahan jangan sampai atas dasar kepentingan dan jangan juga merugikan siswa di Indonesia, bagaimanapun para siswa di Indonesia adalah manusia dan bukan barang untuk uji coba.


Continue Reading...

Friday, February 01, 2013

Curhat Siswa Tentang UN...

Curhat I

Lo pikir lo Tuhan..??
Yang musti ditakutin,.!!
Yaelah lo cuma selembar kertas yang ada tulisannya doang,.
Mending lo gak ada dech,.
Dari pada lo bikin stress teman-teman gw,.
Semua pada stress mikirin lo,.
Lo itu siapa..??
Pacar bukan, teman bukan, keluarga juga bukan,.!!
Kasihan tau teman-teman gw yang pada mikirin lo,.
Teman-teman gw pada takut gak lulus tu gara-gara lo,.
Sebenarnya sih gw takut juga sama lo,.
Tapi gw bikin relax saja,.
Yasudah UN tinggal UN saja,.
Tidak usah diambil pusing,.
Dari pada gw stress,.!!

Curhat II

Saya sangat membenci UN,.
Coba tolong kaji ulang dan dipikirkan baik-baik tentang U,.
Pikirkan baik-baik bahwa UN itu merugikan para pelajar,.
PIKIRKAN BAIK-BAIK..!!
Apalah arti sebuah kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun..??
Jika kelulusannya ditentukan oleh UN,.
Kami ini generasi muda yang akan menggantikan petinggi negara lho..!!
Benar bukan..??
Harusnya pemerintah membuat sistem pendidikan yang tepat,.
Bukan mempersulit kami para pelajar,.
Jika seperti cara pemerintah memperlakukan pelajar,.
Saya takut kedepannya Indonesia akan hancur terutama dalam bidang pendidikan,.
Sudah banyak pelajar yang jadi tumbal UN,.
Tolonglah Pak Menteri Pendidikan dan DPR RI yang terhormat..??
Berikanlah yang terbaik untuk kami para pelajar,.
Gimanapun kamilah pengganti para pejabat kelak,.

Continue Reading...

Sunday, January 20, 2013

Cerita Masa Kecil....


Cerita I
Waktu saya kecil, saya suka sekali dengan bau minyak tanah.
Saking sukanya dengan bau minyak tanah, saya suka ke dapur hanya buat nyelupin kedua tangan saya ke wadah yang ada minyak tanahnya dan kemudian diciumin.
Setelah tangan saya kering, saya masukkan lagi tangan saya ke wadah yang ada minyak tanahnya kemudian saya ciumin lagi tangan saya hingga tangan saya kering.
Hal itu akan saya ulang sampai ibu atau nenek saya menemukan saya dan memarahi saya karena melakukan hal yang menurut mereka konyol.

Tidak hanya di rumah, saya suka kabur main ke rumah pakde saya yang kebetulan punya warung kelontong.
Nah di warung pakde saya ada drum besar yang isinya minyak tanah, namanya juga jualan.
Nah disitu saya lebih puas lagi, karena tangan saya bisa berendam di drum yang berisi minyak tanah.
Artinya saya bisa lebih lama lagi menciumi tangan saya yang berlumuran minyak tanah.
Hohoho, baunya menurut saya kala itu sangat nikmat sekali.
Nikmat yang tiada taranya.

Cerita II
Waktu kecil, saya suka sekali memanjat pohon.
Dari pohon jambu biji, pohon jambu air, dan pohon mangga.
Semua pohon yang ada buahnya pasti bisa saya panjat.
Yang sering banget saya panjat yaitu pohon jambu biji dan jambu air.
Kalau sudah di atas pohon, saya bisa berjam-jam.
Kegiatan saya di atas makan jambu-jambu dan sambil bengong kadang tiduran.
Sampai kadang ibu atau nenek saya suka nyariin saya tapi tidak ketemu.
Wakakakak.

Suatu ketika pulang sekolah MI saya buru-buru naik pohon jambu air.
Dan saya nongkrong lama disitu untuk makan jambu di atas.
Setelah lama nongkrong di atas dan kenyang saya bermaksud turun segera karena dipanggil sama nenek.
Saya kaget kalau ternyata di batang dimana untuk lewat saya turun, banyak ulat bulu.
Saya tidak tahu ulat itu datang dari mana, yang pasti jumlahnya lumayan banyak.
Meski saya suka manjat pohon, tapi sebenarnya saya takut akan ulat-ulatan.
Akhirnya saya teriak-teriak minta tolong sambil nangis.
Eh nenek saya bilang gini; "syukurin kamu, hahaha".
Kesel banget saya sama nenek saya, bukannya ditolong malah di syukurin.


Cerita III
Ketika kecil saya juga suka main sama anak-anak cowok.
Hampir semua teman dekat saya cowok.
Kita main sepeda-sepedaan, main masak-masakan, dan main rumah-rumahan pakai kain punya nenek.
Kita seru-seruan bareng dan juga bertengkar bareng.
Mereka tidak memperlakukan saya dengan beda.
Kita melakukan aktivitas bareng-bareng meskipun secara culture cewek beda sama cowok.
Tapi teman-teman saya ini melihat saya sebagai cewek yang berbeda.
Makanya mereka menghormati kapasitas saya sebagai cewek yang perkasa.
Hehehehe.

Suatu ketika saya dan teman-teman cowok saya memutuskan main ke laut.
Jarak dari rumah kami ke laut kurang lebih 8 kilo meter.
Jumalh kami kurang lebih ada 10 orang anak-anak kecil.
Sepeda hanya ada satu alhamdulillah ada boncengannya.
Sehingga kami membagi rata menjadi lima pasangan, satu pasangan dua orang.
Sepeda itu kami naikin secara bergantian.
Hingga kami tiba di laut, karena teman-teman saya menganggap saya sama dengan mereka, saya juga dapat giliran untuk membonceng teman cowok saya.
Artinya teman-teman cowok saya tidak ada yang memanjakan saya.
Malahan seingat saya, sayalah yang paling galak dan sok berkuasa di kelompok itu.

Cerita IV
Eh saya bingung dech, kok waktu kecil saya banyak kutu ya?
Hahahaha.
Jadi karena banyak kutu, saya suka dipetani sama nenek kadang ibu saya.
Atau kalau kakek saya gemes, sehabis keramas rambut saya di uyek-uyek sama kain putih supaya kutunya kelihatan.
Parah dech pokoknya.
Dan bukan cuma saya yang kutuan, sepertinya hampir semua teman kecil saya berkutu dech.
Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu, apa karena shampoo jaman itu belum ada ya?
Sehingga kutu merasa enjoy dan senang di rambut kami.

Cerita V
Saat kecil saya suka main ke hutan sama anak-anak dan kadang ikut ibu saya.
Ibu saya suka mencari kayu bakar ke hutan untuk dijual.
Maklum ibu saya orang tidak punya, bapak saya sudah meninggal dari saya umur 7 tahun.
Jadi beliau biasa mandiri untuk menghidupi saya dan almarhum adek saya.
Nah saat di hutan, saya suka ngambil coklat sama teman-teman saya.
Sebenarnya sih tidak ijin, karena kita langsung ambil tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Hanya coklat itu kan punya pemerintah, makanya kami menganggap bahwa kami tengah mengambil buah coklat punya pemerintah.

Tidak hanya buah coklat, saya dan teman-teman juga suka makan tebu di ladang tebu.
Ladang tebu itu punya salah satu warga kampung saya.
Kami langsung memakan tebunya disitu sampai kenyang dan haus kami hilang.
Kadang kalau ketauan mandornya kami dikejar-kejar sampai kami ngos-ngosan lari.
Hehehehe.
Tapi kami tidak pernah kapok untuk mengulanginya lagi.
Benar-benar ketagihan makan tebu di ladang tebunya sekalian.
Rasanya begitu nikmat dan luar biasa lezat.

Cerita VI
Waktu itu ibu saya kan janda, dan ibu saya hanya sebagai buruh tani.
Saya punya adek cowok satu.
Nah karena penghasilan ibu saya sangat pas-pasan, saya sering makan tapi tidak pakai lauk.
Kadang makan pakai air garam.
Kadang makan pakai gorengan satu dibagi berdua sama adek saya.
Kadang makan pakai sambal kecap dicabein.
Hahahaha, ngenes banget ya?
Tapi tidak mengapa, saya bahagia dan saya bangga dengan ibu saya.

Saya sering melihat ibu saya menangis sendirian di kamar.
Mungkin dia sedih melihat dua anaknya tanpa bapak.
Atau mungkin dia takut melihat masa depan kami berdua?
Tapi saya dan adek saya sayang banget sama ibu saya.
Makanya kami mencoba menerima keadaan dengan ikhlas.
Meski kadang kami iri dengan teman-teman kami yang jauh lebih sejahtera.
Tidak jarang juga kami tidak diberi uang saku untuk sekolah.
Parahnya lagi pagi kami kadang tidak sarapan.
Tapi tidak apa-apa, bisa sekolah saja sudah membanggakan buat saya dan adek saya.
I Love You Mother.
Continue Reading...

Monday, January 14, 2013

Sebuah Kisah Dari Hujan...

Hujan I
Saya sebenarnya tidak begitu takut dengan air hujan, karena sewaktu kecil saya suka mandi air hujan sama teman-teman masa kecil saya.
Tetapi kala itu saya bersama adek saya almarhum sedang jalan keliling daerah Batang untuk masang baliho dan spanduk photo saya.
Saya berangkat pagi buta menggunakan motor, berharap bisa menjelajahi daerah Batang.
Saya berangkat dari rumah empat orang dengan dua motor.
Di tengah jalan tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya, dan kami akhirnya berteduh.
Karena hujan cukup lama dan tidak kunjung reda, akhirnya kami berempat hujan-hujanan sambil memasang beberapa spanduk dan baliho.
Kami berempat basah kuyup karena air hujan, dan kami tetap menikmatinya.
Awalnya sih sangat seru, dan kami tetap melanjutkan pekerjaan kami, berharap bisa tuntas hari itu juga.
Hujan berlangsung cukup lama, hingga pukul 13.00 hujan masih saja mengguyur dengan santainya.
Karena lapar, saya mengajak ketiga saudara saya untuk mampir di warung sate.
Kami makan siang sambil kedinginan, tetapi kami masih mencoba menikmatinya tanpa ada yang mengeluh.
Selesai makan kami melanjutkan pekerjaan kami yang masih tersisa, kami memutuskan menjamak sholat dzuhur kami karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Pukul 16.00 alhamdulillah hujan mulai agak reda, tinggal tersisa gerimisnya saja.
Badan kami benar-benar nyilu oleh guyuran air hujan, baju luar dan dalam kami sudah basah kuyup.
Kamipun menggigil karena kedinginan.
Sejak kejadian itulah, saya tiba-tiba menjadi trauma dengan air, entah air hujan maupun air biasa.
Setiap kali terkena air dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama, saya tiba-tiba menggigil yang berlebihan dan ingin segera lari dari air itu.

Hujan II
Malam kamis kala itu, saya diantar oleh adek saya almarhum ke pangkalan bus Sinar Jaya.
Malam itu saya bermaksud pulang ke Jakarta.
Tiba-tiba di tengah jalan turun hujan agak lebat, akhirnya adek saya meminggirkan motornya untuk berteduh.
Setelah hujan agak reda, kamipun melanjutkan perjalanan kembali.
Baru jalan kurang lebih lima menit, tiba-tiba hujan turun lagi tapi kali ini hanya gerimis dan tidak begitu lebat.
Karena takut ketinggalan bus, kami tetap melanjutkan perjalanan.
Ternyata di depan keadaan tidak hujan sama sekali, kamipun agak lega karena tidak jadi basah kuyup.
Tiba-tiba selang lima menit kami jalan lagi, hujan turun lagi dan tidak begitu lebat.
Kejadian itu berulang-ulang hingga kami sampai di tujuan.
Almarhum adek saya sempat bingung dengan keadaan tersebut, keadaan dimana hujan turun tapi berselang-seling.
Tapi kita yakin bahwa itu adalah tanda kebesaran Allah SWT.
Hari jumatnya adek saya yang mengantar saya meninggal kecelakaan motor habis sholat jumat.

Hujan III
Waktu itu saya masih berusia 5 tahun, hari itu hujan turun begitu derasnya.
Kebetulan hari itu kakak sepupu saya namanya Tanti sedang main ke rumah.
Karena sudah sore Tanti minta dianterin pulang ke rumah pakai payung.
Dia tidak berani pulang sendirian karena banyak petir.
Akhirnya saya mengantar kakak sepupu saya tersebut sampai rumahnya.
Setiba di rumahnya hujan masih deras, dan karena takut pulang sendiri saya gantian minta diantar pulang sama Tanti.
Akhirnya Tanti mengantar saya pulang pakai payung yang saya bawa dari rumah.
Sesampai di rumah Tanti kembali minta diantar saya pulang, karena dia tidak berani pulang sendiri.
Akhirnya sayapun kembali mengantar Tanti pulang ke rumahnya.
Tiba di rumahnya Tanti untung ada ibunya Tanti, yaitu budhe saya.
Budhe saya sadar bahwa dari tadi kami saling antar satu sama lain.
Akhirnya saya pulang diantar sama budhe saya.
Hahaha.

Hujan IV
Ketika kecil saya sangat suka dengan hujan, karena saat hujan saya bisa mandi air hujan di lapangan sama teman-teman kecil saya.
Orang tua kami di kampung sangat santai dan tidak pernah melarang anak-anaknya main air hujan.
Kami mandi air hujan sambil main perahu kertas yang kami lombakan di got yang airnya penuh.
Kami juga main guling-gulingan di lapangan hingga baju kami basah dan kotor semua.
Setelah puas main air hujan, kamipun pulang ke rumah masing-masing.
Kala itu saya ingat sekali bahwa teman-teman kecil saya rata-rata laki-laki.
Dan kebetulan kanan kiri saya kebanyakan anak laki-laki dari pada anak perempuannya.
Setiba di rumah keadaan lebih menyenangkan karena nenek saya membuatkan saya teh manis panas dan pisang goreng.
Kalau tidak ada pisang goreng, nenek saya suka menggorengkan saya singkong, atau merebuskan ubi.
Kami minum teh panas dan makan gorengan bersama-sama sambil duduk di depan rumah.
Sambil melihat halaman rumah yang digenangi oleh air hujan.
Subhanallah indah sekali keadaan kala itu, ingin rasanya kembali ke masa lalu.
Kondisi ketika kecil, dimana tidak banyak beban dan masalah yang menyelimuti.
Tapi semua sangat tidak mungkin, toh hidup ini terus berjalan.
Dan tidak ada hidup yang jalannya mundur ke belakang.
Continue Reading...

Wednesday, January 09, 2013

Subhanallah...

Hari ini saya pertama kali masuk ngajar, karena hari senin kemaren saya tidak ada jam ngajar.
Hari ini saya harus membayar hutang ke teman saya guru sejumlah 600.000.
Setelah saya membayar hutang, sisa uang di dompet saya tinggal 25.000.
Setelah dari ngajar saya musti ke Mahkamah Konstitusi untuk ikut seminar tentang Toleransi Beragama di Indonesia.
Pukul 13.00 WIB saya tiba di gedung MK dan segera masuk ke Aula lantai dasar.
Karena sepatu dan baju sedikit kotor, saya putuskan untuk ke toilet terlebih dahulu untuk membersihkannya.
Lepas dari toilet saya langsung masuk ke Aula.
Dan disitu saya ketemu dengan sahabat saya aktivis perempuan sebut namanya Lini.

Lini; hai kawan.
Saya; hai sayang, sombong kau?
Lini; saya gak pernah sombong ma kamu cinta.
Saya; gimana gak sombong, di kontak susah banget.
Lini; haha, sorry cinta saya sedang banyak kerjaan.
Saya; tau dech yang lagi banyak proyek, bagi-bagilah.
Lini; hahaha, gampang.

Kurang lebih saya menikmati seminar hingga pukul 15.30 WIB.
Bosen dan ngantuk karena jawaban dari pembicara sangat normatif dan sudah biasa.
Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah praktiknya bukan sekedar teori belaka.
Tapi ada satu peserta yang menarik perhatian saya, dia kebetulan Gay, dia menceritakan diskriminasi yang dialaminya.
Bla bla bla, bahwa aparat sering tidak memihak kepada kaum Gay.
Bukan hanya aparat, masyarakatpun masih mengklaim kaum gay dengan mengatasnamakan agama.

Saya memutuskan untuk pulang dan mengambil motor di parkiran.
Gerimis tak di undang mengiringi langkahku menuju parkiran, hehehe.
Parkiran penuh total sehingga susah mengeluarkan motor saya.
Alhamdulillah dibantu sama abang parkir, dan saya memberikan uang 3.000 untuk si abang.
Kasihan sudah sangat susah usahanya mengeluarkan motor saya.
Jadi sisa uang saya tinggal 22.000

Saya jalan sambil hujan-hujanan.
Tiba di daerah Seskoal saya berhenti di warteg langganan saya.
Saya berhenti sekedar untuk makan sayur-sayuran dan es teh tawar.
Yah sambil makan kerupuk tidak masalah kali ya?
Hahaha, takut banget gemuk saya.
Selesai makan saya membayar sebanyak 9.000, sehingga sisa uang saya adalah 13.000.
Dari warteg saya beli bensin eceran seharga 6.000, sisa uang saya sekarang 7.000.

Agak panik juga megang uang segitu sementara perjalanan saya masih sangat jauh.
Jakarta menuju Parung paling tidak membutuhkan waktu sekitar dua jam jika santai.
Tapi bismillah, yang penting masih ada 7.000 untuk jaga-jaga ban bocor.
Eh tiba-tiba sampai Ulujami rantai motor saya lepas, untuk ada anak muda cowok yang membantu.
Setelah itu saya ke bengkel untuk mengencangkan gir dan rantai motor saya.
Ternyata saya harus membayar 5.000, sisa uang saya adalah 2.000.
Ditambah lacher motor pecah, kata abang bengkelnya bahaya jika lacher tidak diganti.

Akhirnya saya sms teman saya bermaksud pinjam uang 100.000.
Eh dia bilang sedang tidak punya uang karena habis pulang kampung.
Lha mau diapain lagi coba, wong teman saya tidak pernah bohong.
Akhirnya saya tidak ganti lacher dan memutuskan untuk langsung pulang ke Parung.
Hanya dengan modal uang 2.000 dan modal bismillah.

Tidak berani jalan kencang takut rantai putus.
Sedih lagi setelah lihat bensin minim banget dan jarum sudah di posisi merah.
Tapi saya tetap berusaha untuk berbaik sangka dengan semuanya.
Saya masih yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur.
Dan saya masih yakin bahwa akan ada banyak jalan menuju roma.

Setelah dua jam jalan, akhirnya saya tiba di rumah.
Alhamdulillah rantai tidak putus, ban juga tidak bocor, dan bensin subhanallah masih cukup dan motor tidak mogok.
Maha suci Allah dengan segala keagungannya.
Maka bersyukurlah wahai manusia dengan syukur yang sungguh-sungguh.
Karena Allah juga sungguh-sungguh dalam menciptakan kita ke dunia ini.

Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan banyak melakukan kebaikan.
Amien ya Allah.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog