Sunday, June 19, 2011

Belajar dari sebuah kejadian.....

Saya punya sebuah cerita, semoga cerita saya nanti bisa diambil hikmahnya oleh semua yang membaca, amien.

Cerita I
Tadi sore saya membeli sate Madura langganan saya, seperti biasa saya membeli cuma satu porsi.

Ternyata yang jaga bukan bapak ibu yang biasanya, melainkan menantu perempuannya karena kebetulan si bapak dan ibu sedang tidak enak badan.

Saya langsung pesen sate satu porsi dan menegaskan pake bumbu kecap bukan kacang.

Karena kebetulan saya tidak begitu suka dengan bumbu kacang.

Lima belas menit kemudian sate sudah matang dan saya minta di bungkusin nasi, karena di rumah tidak ada nasi.

Saya; mbak nasinya satu bungkus ya?

Mbak; iya mbak.

Saya; eh ada lontong ya mbak?

Mbak; ada mbak, mau?

Saya; ehm, enaknya nasi apa lontong ya?

Mbak; lha saya tidak tahu, kan yang mau makan mbak bukan saya.


Saya bengong melihat si mbaknya, bengong karena mendapat jawaban yang tidak saya sangka-sangka.

Saya berharap si mbak akan memberikan saya solusi untuk memilih nasi atau lontong.

Ternyata si mbak gk begitu respon dengan pertanyaan saya.

Yah tapi apa mau dikata, jawaban si mbak juga ada benarnya.

Karena memang benar, yang mau makan kan saya bukan dia.

Jadi dia tidak perlu repot-repot memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya.

Cerita II

Pernah nggak curhat sama teman? pasti hampir sebagian kita senang curhat sama teman kita.

Tapi teman yang bagaimana dulu ne? kalau sahabat pasti akan cocok dan menarik.

Tapi kalau sekedar teman biasa, mungkin tidak akan sebaik curhat dengan sahabat.

Saya; adek saya kan lulus SMP, dia pengen masuk SMK (STM), saya sih boleh-boleh saja, tapi ibu saya nggak boleh.

Teman; owh.

Saya; ibu saya bilang, anak cewek nggak pantes masuk STM.

Teman; ehm.

Saya; padahal kan cowok dan cewek sama saja, anak cewek juga boleh kok sekolah di STM.

Teman; iya.

Saya; menurut kamu gimana?

Teman; nggak tau dech.


Sumpah, gokil banget, empet banget rasanya.

Kecewa setengah mati sama tu teman, berharap diberi solusi malah dibikin kecewa, hahaha.

Pernah nggak ngalamin kayak begitu? pasti pernah dech.

Tapi lagi-lagi nggak bisa nyalahin orang, karena karakter orang memang unik.

Mungkin salah kita karena curhat tidak pada orang yang tepat.

Saya punya sebuah cerita, semoga cerita saya nanti bisa diambil hikmahnya oleh semua yang membaca, amien.


Cerita I

Tadi sore saya membeli sate Madura langganan saya, seperti biasa saya membeli cuma satu porsi.

Ternyata yang jaga bukan bapak ibu yang biasanya, melainkan menantu perempuannya karena kebetulan si bapak dan ibu sedang tidak enak badan.

Saya langsung pesen sate satu porsi dan menegaskan pake bumbu kecap bukan kacang.

Karena kebetulan saya tidak begitu suka dengan bumbu kacang.

Lima belas menit kemudian sate sudah matang dan saya minta di bungkusin nasi, karena di rumah tidak ada nasi.

Saya; mbak nasinya satu bungkus ya?

Mbak; iya mbak.

Saya; eh ada lontong ya mbak?

Mbak; ada mbak, mau?

Saya; ehm, enaknya nasi apa lontong ya?

Mbak; lha saya tidak tahu, kan yang mau makan mbak bukan saya.


Saya bengong melihat si mbaknya, bengong karena mendapat jawaban yang tidak saya sangka-sangka.

Saya berharap si mbak akan memberikan saya solusi untuk memilih nasi atau lontong.

Ternyata si mbak gk begitu respon dengan pertanyaan saya.

Yah tapi apa mau dikata, jawaban si mbak juga ada benarnya.

Karena memang benar, yang mau makan kan saya bukan dia.

Jadi dia tidak perlu repot-repot memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya.


Cerita II

Pernah nggak curhat sama teman? pasti hampir sebagian kita senang curhat sama teman kita.

Tapi teman yang bagaimana dulu ne? kalau sahabat pasti akan cocok dan menarik.

Tapi kalau sekedar teman biasa, mungkin tidak akan sebaik curhat dengan sahabat.

Saya; adek saya kan lulus SMP, dia pengen masuk SMK (STM), saya sih boleh-boleh saja, tapi ibu saya nggak boleh.

Teman; owh.

Saya; ibu saya bilang, anak cewek nggak pantes masuk STM.

Teman; ehm.

Saya; padahal kan cowok dan cewek sama saja, anak cewek juga boleh kok sekolah di STM.

Teman; iya.

Saya; menurut kamu gimana?

Teman; nggak tau dech.


Sumpah, gokil banget, empet banget rasanya.

Kecewa setengah mati sama tu teman, berharap diberi solusi malah dibikin kecewa, hahaha.

Pernah nggak ngalamin kayak begitu? pasti pernah dech.

Tapi lagi-lagi nggak bisa nyalahin orang, karena karakter orang memang unik.

Mungkin salah kita karena curhat tidak pada orang yang tepat.


Cerita III

Waktu ngajar di kelas, saya pernah bertanya kepada murid saya tentang materi yang sedang saya jelaskan.

Kala itu saya menjelaskan tentang fenomena yang terjadi di negara Indonesia.

Saya; tingkat korupsi di Indonesia bukan semakin turun tapi semakin meningkat.

Murid; betul banget bu.

Saya; padahal kita sudah punya hukum, tapi belum memberikan efek jera kepada para koruptor.

Murid; hukum mati saja bu yang korupsi.

Saya; usul yang bagus, ada lagi usulan lain? budi?

Budi; iya bu?

Saya; menurut kamu, bagaimana agar para koruptor bisa jera sehingga korupsi bisa ditanggulangi?

Budi; nggak tahu bu.


Ya Allah, kok bisa ya dia jawab nggak tahu?

Padahal pertanyaannya sangat gampang dan jawabannyapun nggak perlu pakai hitungan.

Tapi ternyata murid saya nggak mau berusaha untuk sekedar kreatif dalam menjawab.

Seharusnya sebagai pelajar, dia berani berupaya untuk menjawab meskipun kurang tepat.

Karena guru saya pastikan akan menghargai jawaban muridnya yang mau berusaha.

Ketimbang cuma menjawab; nggak tahu bu.
Continue Reading...

Monday, June 06, 2011

Kangen Mbak-Mbak Rohis--

Waktu kuliah di Semarang, saya sempat bergabung dengan Rohis/kerohanian Islam.

Sebenarnya saya nggak sengaja masuk ke kelompok Rohis.

Waktu daftar ulang saya di datangi mbak-mbak yang kebetulan anak Rohis.

Mbak-mbak tersebut menawarkan saya kost-kostan.

Karena saya belum dapat kost, akhirnya saya terima tawaran mbak-mbak tersebut.


Saya bertahan kost bareng mereka selama tiga semester.

Saya nggak berniat memperpanjang tinggal disitu karena beberapa alasan.

Saya memang tidak begitu sepakat dengan aturan-aturan yang diterapkan mbak-mbak di kost.

Menurut saya terlalu ketat dan mengekang kebebasan saya.


Tapi meskipun saya kurang cocok, saya harus akui bahwa banyak hal baik yang sebenarnya bisa kita contoh.

Beberapa hal tersebut yaitu:

1. Mbak-mbak senior saya membiasakan kepada penghuni kost untuk sholat lail.

2. Kami dibiasakan tadarus al-qur'an selepas sholat maghrib.

3. Membaca al-ma'tsurat setelah sholat subuh.

4. Kami adek-adeknya diajak puasa senin kamis bahkan ada yang puasa daud.

5. Mbak-mbak mencontohi kami tentang bagaimana berbusana muslimah yang benar.

6. Kami dilarang pacaran, bersalaman dengan cowok, berboncengan dengan cowok, dan bicara langsung dengan cowok.

7. Saat berbicara dengan lawan jenis, kami diajarkan untuk menggunakan hijab.

8. Kami tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis kecuali ada teman ketiga.

9. Kami dibiasakan untuk bertutur kata lembut dan santun.

10. Tidak dibolehkan menggunjing dan berbohong.

11. Menyalami sesama muslimah ketika ketemu di jalan.

12. dll--


Menarik sebenarnya, juga sangat baik.

Tetapi sayang, persepsi baik saya kurang sama dengan persepsi baik mereka.

Saya merasa bahwa hidup ini akan indah jika tidak dibatasi seperti di atas.

Saya ingin berekspresi dan menunjukkan bakat saya kala itu.

Dan akhirnya saya merasa harus keluar dari komunitas mereka.


Kini, kadang saya kangen dengan suasana seperti di atas.

Suasana hangat penuh kekeluargaan.

Kehidupan di kost laksana hidup dalam keluarga kandung.

Saling menasehati, membimbing, memberi, membantu, dan mendukung.

Suka dan duka dijalani bersama-sama.

Semua berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir perbuatan dosa.


Mbak-mbak Rohis adalah sosok perempuan santun, manis, dan sangat alim.

Mereka komitmen dengan aqidah Islamiyah.

Mereka menghindari sesuatu yang mendekati zinah seperti pacaran.

Bukan tidak mau menikah, mereka manusia normal yang ingin melangsungkan kehidupan.

Mereka menikah tidak melalui pacaran tetapi melalui ta'aruf yang dijembatani oleh para murabbi mereka.


Sayang, saya sudah nggak tahu dimana keberadaan mereka.

Selepas dari UNNES saya langsung kabur merantau ke Jakarta.

Dan ketika ke Semarang, saya sudah tidak menemukan jejak mereka.

Maklum, hampir sebagian besar mbak-mbak saya sudah lulus kuliahnya.

Dan hampir dari mereka sudah berkeluarga dan meninggalkan Semarang.


Meskipun saya sering membantah mbak-mbak saya pada waktu itu.

Tapi saya sangat sayang dengan mereka semuanya.

Saya membantah bukan benci, tetapi karena saya ingin tahu semuanya secara detail dan logis.

Saya tidak hanya membantah, tetapi kadang juga tidak menuruti apa kata mereka.

Bahkan saya tahu bahwa mbak-mbak saya tersebut sering sedih melihat tingkah saya yang bandel.


Ehm, saya cuma ingin bilang bahwa meskipun saya kurang sepakat dengan prinsip mbak-mbak saya.

Tetapi sepertinya metode di atas bisa digunakan untuk mengatasi persoalan remaja di ibu kota.

Beberapa persoalan remaja di ibu kota seperti:

1. Free seks

2. Narkoba

3. Tawuran

4. Judi

5. Mabok

6. dll--

Sepertinya bisa dikurangi, jika remaja kita menjalankan agama dengan benar.

Jika remaja kita takut akan dosa.

Jika remaja kita takut akan potret buram masa depannya.


Nyilu melihat kondisi remaja saat ini yang posisinya sebagai generasi muda penerus bangsa.

Tentu ini tanggung jawab kita secara bersama-sama.
Continue Reading...

Sunday, May 22, 2011

Cerita Tentang Pak Polisi...

Saya kok jadi parno sama POLISI ya?
Nggak logis sebenarnya, apalagi saya ngajar PKn yang nggak bakal lepas ama HUKUM di Indonesia.
Saya trauma dengan polisi setelah mengalami beberapa KEJADIAN.


Almarhum adek saya ketika SMA pernah di tonjok PERUTnya sama POLISI.
Gara-garanya dia MENTERTAWAKAN polisi yang jatuh dari MOTOR pasca MENILANG adek saya.
Adek saya ditilang karena teman yang diboncengnya tidak memakai HELM.
Setelah menilang POLISI itu jatuh dan ditertawakan oleh adek saya.
Karena malu dan TIDAK TERIMA di tertawakan, dia menghampiri adek saya dan teman adek saya.
Adek saya ditonjok di bagian PERUT sedangkan temannya di TAMPAR di pipi kiri dan kanan.


Waktu kuliah di SEMARANG, saya sering ketilang POLISI gara-gara belum punya SIM.
Semarang termasuk sangat sering terjadi RAZIA polisi.
Saya kerap NGUMPET-NGUMPET ketika melihat RAZIA polisi, tapi sepertinya saya kalah PINTER sama tu POLISI.
Seolah saya memang sudah di takdirkan KETILANG sama polisi.
Saya memang salah karena belum membuat SIM tetapi sudah berani naik MOTOR.
Tapi saya tidak penrah mau kalah sama polisi, meski salah saya tetap NGOTOT setiap kali ketilang.


Saya juga pernah dengan cerita teman kuliah saya, yang ketilang POLISI karena menerobos LAMPU MERAH.
Dia buru-buru karena ada wawancara kerja, waktu itu kami baru saja LULUS Sarjana.
Polisi tidak mau tahu alasan Ruhadi dan tetap MENILANGnya.
Padahal teman saya sedang BURU-BURU dan tidak mempunyai UANG.
Uang yang dia pegang hanya cukup untuk membeli BENSIN.


Tapi kakak sepupu saya menikah dengan POLISI.
Tentu saya tidak MEMBENCI kakak ipar saya itu, hehehe.
Saya juga sempat disukai sama polisi, tapi saya MENOLAK dengan baik-baik.
Mohon maaf, bukannya anti POLISI, tetapi waktu itu belum MAU saja.
Padahal polisi yang SUKA sama saya baik banget orangnya, pendiam dan RAMAH.


Di Jakarta saya juga beberapa kali KETILANG karena melanggar LAMPU MERAH.
Beneran, pelanggaran itu tidak saya sengaja dan lebih karena SAYA meleng tidak NGEH sama LAMPU MERAH yang sudah nyala.
Tapi saya masih BERUNTUNG, beberapa kali ditilang tersebut saya DIBEBASKAN karena saya guru PKn.
Terima kasih ya BAPAK POLISI, ternyata engkau masih MEMIHAK kepada kaum GURU.
Tentu tidak akan saya ULANGI lagi, dan saya akan lebih cermat terhadap LAMPU LALU LINTAS dan RAMBU jalan raya.


Terakhir motor saya KETILANG setelah WISUDA murid-murid saya yang kelas XII.
Saya punya SIM dan STNK, tapi saya kurang beruntung karena ketika kena RAZIA, SIM dan STNK tidak kebawa.
Akhirnya saya memutuskan untuk DITILANG dan tidak mau DAMAI, hahaha.
Seumur-umur selama bawa motor, baru kali ini mau menghadapi SIDANG tilang motor.
Nikmati sajalah dan jadikan PENGALAMAN hidup, biar ngerasain gimana rasanya SIDANG tilang motor.


Selain kasus TILANG, saya juga sering berhadapan dengan POLISI baik di JALAN maupun di KANTOR POLISI.
Kebetulan saya sedang penelitian yang subjek PENELITIANNYA berhubungan sama POLISI.
Beberapa kali saya keluar masuk kantor polisi sekedar jadi SAKSI atau menjenguk beberapa teman muda saya.
Terakhir, KTP saya sempat diminta sama polisi karena ketika polisi mendatangi TONGKRONGAN saya sedang berada disitu.
Polisi yang saya hadapi sering KASAR dan MENAKUTKAN, wajar mungkin yang saya tongkrongi menurut persepsi polisi adalah tongkrongan yang tidak BAIK.
Mungkin KETEGASAN polisi tersebut sebenarnya bukan untuk saya.
Tapi karena saya berada disitu, saya merasa itu ditujukan kepada saya.


Padahal saya pernah beberapa kali mengajar POLISI.
Tapi memang beda tempat beda RASA.
Ketika saya mengajar POLISI saya begitu enjoy dan SANTAI.
Tapi dalam sisi lain saya benar-benar TRAUMA dengan polisi.


Mungkin pembelajaran buat kita adalah:
Jangan menilai SESEORANG secara subjektif (menurut pendapat kita), karena SUBJEKTIFITAS tidak selalu benar.
Dan ketika kita TIDAK SUKA dengan sesuatu HAL, jangan sekali-kali kita mengeneralisir yang lainnya.
Continue Reading...

Friday, May 06, 2011

Fenomena Poligami..........

Sebelum menikah untuk yang kedua kali, A’a Gym adalah seorang da’i kondang di Indonesia. A’a Gym di elu-elukan oleh umat Islam di seluruh pelosok negeri terutama oleh ibu-ibu. Kesederhanaannya, kelembutannya, kesantunannya, kelucuannya, dan metode dakwahnya yang ringan dan mudah dicerna menjadi alasan kenapa banyak umat Islam di Indonesia tertarik dengan sosok A’a Gym. Saya termasuk salah satu penggemar A’a Gym, saya menyukai A’a Gym karena ceramahnya terkesan bersahabat dan tidak menggurui.

Tahun 2006 A’a Gym menikahi Teh Rini sebagai istri keduanya, dan secara tiba-tiba euforia masyarakat terhadap A’a Gym menjadi berkurang, terutama euforia dari para ibu-ibu yang sebelumnya begitu mengelu-elukan A’a Gym. Tidak usah orang lain, saya pun secara pribadi menjadi kurang simpatik terhadap sosok A’a Gym. Bagaimana tidak, saya tiba-tiba seolah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Teh Ninih. Meskipun secara publik, Teh Ninih merasa biasa-biasa saja dan tidak terganggu dengan kehadiran istri kedua A’a Gym yaitu Teh Rini.

Saya masih meyakini secara subjektifitas saya, bahwa manusia itu tidak akan mampu berbuat adil dengan seadil-adilnya. Kalaupun dia merasa mampu berbuat adil, saya yakin bahwa keadilan tersebut keadilan yang sangat subjektif (personal). Mungkin akan banyak yang menanyakan Nabi kita Muhammad saja melakukan poligami? Menurut saya Nabi Muhammad berbeda dengan manusia biasa seperti kita. Nabi Muhammad diberikan kelebihan oleh Allah untuk bisa berbuat adil kepada semua istri-istrinya. Dan kita semua pasti tahu bahwa istri-istri Nabi Muhammad dinikahi karena alasan kepentingan Islam di kala itu.

Satu lagi tentang Nabi Muhammad, kita semua pasti ingat bahwa sebelum berpoligami Nabi Muhammad bermonogami dengan Khadijah. Beliau begitu menyayangi dan mencintai Khadijah hingga akhir hayat Khadijah. Nabi Muhammad sangat kehilangan dan sangat sedih ketika ditinggal meninggal oleh istrinya Khadijah. Bagaimanapun Khadijah adalah perempuan sempurna dan perempuan kaya yang berhati mulia. Khadijah adalah istri yang begitu mendukung aktivitas dagang dan aktivitas dakwah Nabi Muhammad.

Secara sangat personal, saya adalah orang yang tidak sepakat dengan poligami, apalagi poligami untuk alasan masuk syurga. Mohon maaf, jalan untuk menuju syurga itu sangat banyak seperti; berwakaf, memberi makan fakir miskin, infaq untuk musholla/masjid, menyantuni anak yatim, berzakat, menyantuni orang panti-panti jompo, memberikan beasiswa untuk anak yang tidak mampu sekolah, membuat rumah singgah untuk anak jalanan, membuat sekolah gratis dan masih banyak aktivitas amal lainnya sebagai jalan menuju syurga.

Secara logika subjektif saya, cinta itu tidak bisa dibagi secara bersamaan. Ketika pacaran saja, masing-masing pasangan berjanji untuk komitmen dan tidak akan berselingkuh. Sekalinya ada kasus misalnya salah satu selingkuh, pasti pasangannya sangat geram dan tidak terima. Dan tidak jarang yang akhirnya mengambil jalan untuk putus/pisah dari status pacarannya, putusnya tersebut jelas karena alasan merasa dikhianati oleh pasangannya. Bagaimana jika itu terjadi dalam rumah tangga, sang suami tiba-tiba minta ijin kepada istrinya untuk menikah lagi? Coba sekarang kita balik, bagaimana perasaan suami jika tiba-tiba istrinya bilang bahwa dia mencintai laki-laki lain? Saya yakin, pasti si suami sangat berang dan sangat murka, bisa jadi dia langsung menceraikan istrinya karena kecewa dengan pilihan istrinya yang sangat tidak setia.

Perasaan laki-laki dan perempuan menurut saya sama, laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai cinta dan sama-sama tidak suka jika pasangannya membagi cintanya kepada orang lain. Atas dasar itulah saya tidak sepakat dengan poligami, bagaimanapun perempuan adalah manusia biasa yang juga bisa sakit hati dan bersedih. Coba bayangkan jika anda jadi perempuan yang suaminya menikah lagi, bayangkan ketika sang suami sedang berada di rumah istri keduanya, kira-kira bagaimana perasaan anda saat itu?

Dari kecil saya tinggal seatap sama nenek kandung saya yang biasa saya panggil Mbah Ju, setelah masuk Sekolah Dasar saya baru tahu bahwa ternyata Mbah Ju adalah istri kedua dari kakek saya yang biasa saya panggil Mbah Dul. Mbah Dul ternyata bukan kakek kandung saya, karena anak Mbah Ju dari Mbah Dul meninggal dunia waktu masih kecil. Kakek kandung saya sudah meninggal saat saya belum lahir, sehingga saya tidak pernah melihat wajah kakek kandung saya. Tetapi meskipun bukan kakek kandung, Mbah Dul sangat menyayangi saya seperti layaknya cucu kandungnya. Saya tidak pernah kenal dengan istri pertama Mbah Dul. Tapi kata Mbah Ju istri pertama Mbah Dul sangat galak dan sadis. Bahkan nenek saya pernah mau dibunuh sama istri pertama Mbah Dul.

Saya tidak menyalahkan istri pertama Mbah Dul, karena dia pasti sangat sakit hati atas kehadiran Mbah Ju. Saya masih ingat, ketika pulang kerja dari Jakarta Mbah Dul pasti ke rumah Mbah Ju dulu baru ke rumah istri pertamanya. Mbah Dul terlihat lebih menyayangi Mbah Ju dari pada istri pertamanya. Mbah Dul selalu memberi kesempatan kepada Mbah Ju untuk memilih oleh-oleh terlebih dahulu baru sisanya diberikan kepada istri pertamanya. Mbah Dul juga terlihat lebih sering dan lebih lama di rumah Mbah Ju dari pada di rumah istri pertamanya.

Terakhir saya hanya ingin berpesan kepada para laki-laki dan perempuan, sayangilah pasangan kita dengan sepenuh hati kita. Karena pasangan kita adalah manusia yang punya perasaan sakit jika dikecewakan. Bagi laki-laki yang ingin menikah lagi, itu tandanya dia sudah tidak mencintai pasangannya. Jika memang sudah tidak mencintai pasangannya jangan asal menikah lagi, selesaikan dulu dengan pasangannya baru kemudian menikah lagi. Sehingga tidak banyak perempuan-perempuan yang menjadi korban poligami.

Tidak usah takut dengan jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki. Perempuan lebih banyak karena daya tahan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki, sehingga masih banyak perempuan usia tua/lanjut yang masih bertahan hidup. Jika laki-laki ingin berpoligami silahkan, tapi nikahi perempuan-perempuan yang usia tua/lanjut. Karena jumlah perempuan yang masih muda jumlahnya hampir sama dengan jumlah laki-laki yang juga masih muda. Atau tidak usah beralasan tentang nafsu laki-laki yang katanya lebih tinggi dari nafsu perempuan, menurut saya laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai nafsu syahwat yang harus disalurkan, tentu dengan jalur yang benar yaitu pernikahan.
Continue Reading...

Friday, April 29, 2011

Kematian Untuk Pelajaran....

Mbak Lela


Sahabat yang ku sayang tidak kusangka meninggalkan saya.

Mbak Lela adalah sahabat terbaik saya.

Dia selalu ada buat saya dan selalu siap menjadi teman curhat saya.

Dia adalah teman baik ketika saya kuliah di semarang.

Saya sering main ke rumahnya di Kudus dan menginap beberapa hari disana.

Dia juga sering nginep di kos saya di Semarang.

Kita sering jalan berdua untuk menghadiri acara-acara di PD IRM Jawa Tengah.

Kadang kita muter-muter ke kantor-kantor di Semarang untuk mengecek dana untuk acara organisasi.

Dia bendahara ketika kami sama-sama duduk di PW IRM Jawa tengah.

Dan ketika saya menjadi Ketua Umum PW IRM Jawa Tengah, dia pindah ke bidang.

Katanya lelah mengurusi keuangan organisasi.


Selepas kuliah dia menikah dengan kader IRM dari Pekalongan.

Dia menetap di Pekalongan bersama suaminya.

Setahun setelah menikah, dia hamil dan kabar itu sangat membahagiakan saya.

Dalam keadaan hamil, dia sempat beberapa kali telephone dan sms saya.

Dia curhat tentang keadaan kehamilannya.

Dan dia sempat curhat bahwa pinggulnya kecil dan agak susah jika harus melahirkan normal.

Saya menyarankan untuk operasi supaya lancar.

Tetapi dia nekat dan akan berusaha melahirkan secara normal.

Seminggu sebelum lahiran, dia menelephone saya dan mengabarkan tentang dirinya.


Pagi dini hari sekitar pukul 03.00 Wib saya dapat sms dari teman saya yang rumahnya di Pekalongan.

Sms itu sangat mengagetkan saya dan membuat dada saya sesak.

Mbak Lela dikabarkan meninggal dunia setelah melahirkan anak perempuannya.

Alhamdulillah anaknya selamat.

Dia melahirkan di rumah dengan dibantu oleh bidan.

Dia mengalami pendarahan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Karena rumah sakit terlalu jauh, mbak Lela kehabisan darah dan akhirnya meninggal dunia.

Ya Allah, seperti mimpi disiang bolong.

Pagi itu juga saya langsung berangkat ke Pekalongan dengan ditemani oleh karib saya Mbak Eni.



Teman Pramuka

Sore itu saya sedang latihan pramuka di sekolah saya.

Saya sedang melatih adek-adek kelas saya, kebetulan saya Pradana ambalan.

Sore itu perasaan saya kurang enak.

Tiba-tiba teman saya dari STM Muhammadiyah mengabari ke sekolah saya.

Dia memberi kabar bahwa Tadin teman kami meninggal dunia dalam kecelakaan motor.

Dia berdua dengan temannya dan alhamdulillah temannya selamat.

Saya langsung lari ke STM Muhammadiyah dengan teman-teman saya.

Dan ternyata benar, teman-teman Tadin sedang berduka.

Pembina pramuka STM Muhammadiyah sedang ke lokasi kecelakaan untuk mengurusi jenazahnya.


Tadin adalah anak tunggal.

Dia berasal dari keluarga yang biasa saja.

Dia adalah harapan dan tumpuan keluarga.

Maklum, ibu dan bapaknya sudah sepuh.

Keesokan harinya saya dari SMEA Muhammadiyah gabungan dengan teman-teman STM Muhammadiyah,

datang ke ruamh Tadin untuk bertakziah.


Dua minggu sebelum meninggal.

Kami sempat berkemah bersama selama tiga hari.

Dia termasuk dekat dengan saya dan sering ngeledekin saya.

Malah dia pernah menyatakan cinta sama saya, hehehe.

Anak yang lucu dan baik hati, dia selalu membuat teman-temanya tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak.



Kak Hartoyo


Kami bareng di pelatihan nasional di Tawang Mangu Jawa Tengah.

Dia sangat baik dan perhatian sama saya, maklum dia senior saya di organisasi.

Sebelumnya dia memang dekat dengan saya, bahkan sangat dekat.

Kak Har selalu memperhatikan saya baik lewat surat maupun lewat silaturahmi langsung ke Semarang.

Jarak kami cukup jauh, dia kuliah di Magelang sedangkan saya di Semarang.

Tapi meskipun jauh, kami sering ketemu di acara organisasi kami.

Banyak buku-bukunya yang dipinjamkan ke saya.

Tentu saya sangat senang, karena membaca adalah salah satu hobby saya.


Dia adalah anak terakhir dari banyak bersaudara.

Bapak dan ibunya sudah meninggal dunia.

Dia tinggal di Panti Asuhan Yatim Muhamamdiyah Magelang sejak kecil.

Dia bisa kuliah karena mendapat beasiswa dari Muhammadiyah, kebetulan dia cerdas dan berprestasi.

Saya sama dia berhubungan atau pacaran tapi secara Islami.

Kami pacaran tapi jarak jauh dan selalu menjaga hati kami.

Kami berusaha untuk tetap komitmen dengan ajaran Islam supaya pacaran kami tidak mudzorot.


Malam senin saya sedang rapat organisasi di kantor Wilayah Muhamamdiyah.

Ada kabar duka bahwa Kak Har meninggal dunia jam 15.00 sore dalam kecelakaan motor.

Dia meninggal dunia persis di depan gedung Muhamamdiyah Magelang.

Setelah kembali dari pernikahan temannya.

Dia naik motor sendirian sedangkan teman-temannya yang lain naik mobil rombongan.

Sore itu juga Kak Har langsung dikebumikan.

Saya dan teman-teman saya baru bisa datang keesokan harinya.


Seminggu setelah itu, saya menerima surat dari Kak Har.

Isi suratnya pamitan kalau dia akan pergi ke Jakarta liburan ke rumah kakaknya.

Dan bulan depan kakaknya akan menikahi gadis Kebumen dan saya diminta untuk datang.

Dan dia juga menitipkan salam buat keluarga saya.

Karena memenuhi keinginannya yang terakhir, saya menyempatkan diri datang ke pernikahan kakaknya.

Kebetulan ada teman saya yang rumahnya di Kebumen.

Sehingga saya nginep dan diantar teman saya tersebut.




Adekku Tercinta


Maaf saya tidak sanggup untuk menceritakannya dengan detail.

Yang pasti dia sangat saya sayang.

Dia adalah permata hati saya.

Dia adalah orang yang saya cintai dengan segenap hati dan jiwa saya.

Saya sangat kehilangan dia, meski saya sadar ini sudah jalannya.

Dia selalu menasehati saya dan selalu support aktivitas saya.

Terlalau cepat kepergiannya buat saya.

Tapi mau diapakan lagi, ini sudah menjadi takdir hidupnya.


Alhamdulillahnya, sebelum dia pergi saya sempat bareng dia selama 10 hari.

Saya pulang kampung saat puasa ramadhan, dan diapun pulang kampung dari Purwokerto tempat kuliahnya.

Selama 10 hari itu sangat berarti buat saya.

Saya bersama dia selalu, dan kamipun terlibat diskusi seru seperti biasa.

Dia termasuk mahasiswa yang cinta berdebat.

Dia suka menantang saya untuk mendiskusikan banyak hal termasuk yang aneh-aneh.

Logika dia sangat jalan, dan analisis dia begitu mendalam dalam mengkaji masalah.


Sehari setelah saya pulang ke Jakarta, dia meninggal dunia dalam kecelakaan motor.

Dia kecelakaan saat akan menuju kampusnya untuk menuntaskan kuliahnya.

Kebetulan kuliahnya sudah kelar dan tinggal sidang skripsi.

Bahkan di dalam ranselnya ada proposal skripsi.

Dia meninggal pada hari jum'at setelah dia menjalankan ibadah sholat jum'at.

Dia meninggalkan kebaikan dan senyum di keluarga saya.

Saya dan keluarga yakin bahwa itulah yang terbaik buat adek saya tercinta.

Meninggal setelah puasa ramadhan dan setelah idul fitri.

Meninggal pada hari jum'at dan ketika hendak menuntut ilmu.



Bu Fat & Nunung


Bu fat adalah pendatang di kampung saya.

Dia ikut suaminya yang bertugas mengajar di SMP N Gringsing.

Kebetulan suami bu Fat adalah guru PKN saya.

Bu Fat asli Pemalang sedangkan suaminya dari Wonogiri.

Bu Fat sangat cantik, baik, dan ramah dengan tetangganya.

Bu Fat dekat dengan keluarga saya, dia sering mengirimi keluarga saya makanan.

Sebaliknyapun, keluarga saya sering mengirimi bu Fat makanan.

Saya sering maen ke rumah bu Fat, bahkan saya sempat suka sama adeknya bu Fat, hehehe.


Beberapa bulan yang lalu bu Fat meninggal dunia setelah melahirkan anaknya yang kelima.

Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat.

Sebelum meninggal saya sempat ketemu saat adek saya meninggal dunia.

Dia sempat senyum begitu manis di depan saya.

Senyumnya menyejukkan hati saya.

Saya begitu menyayanginya seperti saudara sendiri.


Nunung adalah teman saya ketika saya sekolah di SMEA Muhammadiyah.

Dia kebetulan sekolah di STM Muhammadiyah yang tidak jauh dari sekolah saya.

Saya satu organisasi di IRM Cabang Gringsing.

Dia teman seperjuangan saya di IRM Gringsing.

Maklum IRM Gringsing waktu itu baru rintisan jadi perjuangannya sangat panjang.

Dan nunung adalah teman yang begitu setia menemani saya.

Dia sering ikut rapat sampe malam hari dan ide-ide dia begitu cerdas.

Kadang dia juga mengisi acara di Ranting IRM yang kami bina.


Sebelum meninggal dunia, dia sempat kontak ma saya.

Dia curhat sedikit tentang dirinya tapi tidak tentang kesehatannya.

Secara kebetulan, Isomah juga curhat sama saya.

Isomah adalah teman saya dan juga teman Nunung.

Isomah sempat suka dengan Nunung sejak duduk di bangku SMA dulu.

Tapi Nunungnya sangat pendiam sehingga Isomah tidak berani menyampaikan perasaannya.


Sebulan sebelum meninggal Isomah jalan dengan Nunung.

Dan Nunung mengungkapkan perasaannya kepada Isomah setelah dipendam selama bertahun-tahun.

Tapi sayang saat itu Isomah sudah merencanakan pernikahan dengan laki-laki lain.

Akhirnya dengan berat hati, Isomah menolak cintanya Nunung.

Pernikahan Isomahpun dilangsungkan, dan Nunung sempat datang ke pernikahan Isomah.

Isomah tidak menyangka Nunung akan meninggal dunia.

Sama seperti saya yang kaget karena kepergian Nunung.

Sahabat baik saya.




Bu Mun & Eriza


Selamat jalan Bu Mun, Wakasek tempat saya mengajar.

Bu Mun sudah seperti ibu saya sendiri.

Bu Mun begitu baik dan perhatian sama saya.

Bahkan Bu Mun begitu perhatian sama murid-murid dan kegiatan eskul di sekolah.

Saya masih ingat saat Bu Mun membantu lobby ke Kasek untuk pengadaan baju-baju tari saman.

Bu Mun juga support anak saman untuk berangkat ke Surakarta dalam acara Muktamar IPM.

Bu Mun selalu menasehati saya ketika saya salah arah.

Keberadaan Bu Mun selalu menghadirkan senyum dan tawa.

Ada saja yang diguraukan di ruang guru.

Lawakannya menyenangkan dan tidak pernah menyinggung.

Tatapannya terasa galak tapi lucu.


Eriza muridku sayang, usiamu masih terlalu muda.

Tapi takdirmu sampai disini sayang.

Alhamdulillah sekolahmu telah tuntas hingga UN.

Insya Allah ini yang terbaik buat Eriza sayang.

Allah sayang sama Eriza sehingga Eriza dipanggil sama Allah.

Doa kami selalu menyertai Eriza.

Senyum manismu tak akan pernah kami lupakan.

Kebaikan dan kesantunan Eriza memberikan isnpirasi buat kami semuanya.

I love you Eriza sayang.
Continue Reading...

Saturday, April 23, 2011

BAIK itu Tekstual dan Kontekstual...

Apa sebenarnya pengertian dari BAIK?

Memberi uang kepada pengemis/

Memberi makan fakir miskin/

Menolong teman yang sedang susah/

Meminjami uang kepada teman yang butuh/

Mengajari anak jalanan dengan tanpa biaya/

Menghormati guru dan orang tua/

Tidak membantah perintah orang tua/

Menjalankan ibadah dengan taat dan benar/


Sepertinya sedara TEKSTUAL semua orang tahu apa arti dari kata BAIK.

BAIK itu adalah;

- sesuatu yang bagus,

- sesuatu yang bernilai,

- sesuatu yang menyenangkan,

- sesuatu yang dinanti,

- sesuatu yang diharapkan,

- sesuatu yang mendamaikan


KASUS SATU

Memberi kepada orang yang tidak mampu adalah BAIK.

Apalagi memberinya dengan ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih.

Tetapi jika yang diberikan itu adalah hasil curian, apakah itu BAIK?


KASUS DUA

Ibu kita salah bicara, kemudian kita membenarkan kesalahan omongan ibu kita.

Membenarkan kesalahan omongan itu benar, supaya tidak terjadi salah tafsir.

Tetapi jika kita membenarkannya dengan kata-kata keras/ngotot, apakah itu BAIK?


KASUS TIGA

Membantu teman itu perbuatan sangat mulia.

Tetapi membantu mengabsenkan teman yang tidak masuk sekolah/kuliah apakah itu BAIK?


KASUS EMPAT

Menjadi ahli ibadah itu suatu keharusan dan kemuliaan dalam beragama.

Dan pastinya semua agama mengajarkan agar umatnya taat beribadah.

Tetapi jika si taat beragama tersebut masih menyalahkan agama lain, dan menganggap agamanya paling benar,

apakah itu BAIK?


KASUS LIMA

Mengantar teman ke suatu tempat itu perbuatan menyenangkan hati teman.

Apalagi tempat yang dituju sangat jauh dan hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor.

Tetapi jika si pengantar meminta imbalan bensin dan uang rokok, apakah itu BAIK?


KASUS ENAM

Menginginkan muridnya lulus 100% itu harapan semua guru.

Karena muridnya juga pasti tidak mau jika tidak lulus sekolah.

Memberi tambahan PM itu juga sudah seharusnya.

Apalagi jika orang tuanya sampai mengikutkan anaknya les di bimbel atau les privat.

Tetapi bagaimana jika guru melakukan banyak cara termasuk cara yang tidak benar,

demi kelulusan murid-muridnya, apakhttp://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9035952910135907489ah itu BAIK?

Tetapi bagaimana jika murid melakukan banyak cara termasuk cara yang tidak benar,

demi kelulusan dan demi nama baik sekolahnya, apakah itu BAIK?



Jadi apa sesungguhnya BAIK itu?

Menurut saya, baik itu tidak hanya secara TEKSTUAL tetapi juga KONTEKSTUAL.

Baik TEKSTUAL yaitu baik secara teks/lisan/tertulis/kasat mata/ucapan.

Sedangkan baik KONTEKSTUAL yaitu baik secara akhlak/perilaku/perbuatan/aplikasi nyata.

Jadi BAIK yang BENAR itu adalah BAIK yang secara ucapan dan perbuatan.
Continue Reading...

Sunday, April 17, 2011

UN, hihi serem.....

Disebelin ataupun dijengkelin, Ujian Nasional tetap datang menghampiri siswa kelas akhir.

Siap tidak siap, ketika Ujian Nasional datang, siswa tersebut harus siap.

Mau tidak mau, jika ingin lulus sekolah, siswa tersebut harus mau.



Sebenarnya tidak ada alasan tidak siap bagi siswa kelas akhir dalam menghadapi UN.

Setahu saya, masing-masing sekolah sudah membuat paket belajar untuk menghadapi UN seperti: PM/Pendalaman Materi, belajar materi UN full pasca UAS, latihan-latihan soal dan try out berkali-kali.

Ditambah tidak jarang siswa yang ikut les/privat di luar sekolah.



Ketidaksiapan siswa sebenarnya pada ketakutannya yang terlalu berlebihan.

Ketakutan jika dirinya tidak lulus dan harus mengikuti paket C.

Dia merasa malu karena ijazahnya tidak sama dengan teman-temannya yang lulus.

Dia juga takut jika ijazah paket C nya tidak bisa digunakan untuk kuliah.



Padahal ijazah paket C bisa digunakan untuk mencari kerja dan untuk kuliah.

Ijazah paket C juga tidak begitu berpengaruh ketika siswa tersebut kuliah.

Karena jika dia kuliah misalnya Sarjana, maka untuk mencari kerja yang ditanyakan bukan ijazah paket C nya tetapi ijazah pendidikan terakhirnya yaitu Sarjana.



Ujian Nasional seharusnya jangan menjadi momok yang berlebihan.

Pasti akan ada jalan kemudahan bagi orang-orang yang belajar, berusaha, dan berdo’a.

Allah juga pasti tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang yakin dan mempunyai niat tulus.



Tidak usah terpengaruh dengan omongan-omongan kakak kelas.

Tidak perlu was-was dan takut tidak lulus.

Tidak perlu grusah-grusuh.

Dan tidak perlu histeris menghadapi UN.

Hadapilah UN dengan senyuman manis dan kalimat bismillah.



Jangan sekali-kali menyalahkan pemerintah dalam hal ini Mendiknas.

Bagaimanapun Indonesia adalah negara yang tidak hidup sendiri.

Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara tetangganya.

Dan Indonesia akan diakui oleh negara tetangga salah satunya jika kualitas pendidikan di Indonesia bagus.



Ukuran bagus atau tidaknya pendidikan di Indonesia secara nasional dan internasional pastilah dengan nilai tekstual.

Sehingga wajar jika akhirnya pemerintah memberikan standar kelulusan bagi siswa kelas akhir.

Standar itu dari tahun ketahun tidak boleh turun dan harus selalu naik.

Tentu dibarengi dengan sarana pendukung agar nilai siswa selalu naik dan tidak menurun.



Tips-tips menjelang Ujian Nasional:

1. Kurangi nongkrong/begadang.
2. Istirahat/tidur yang cukup.
3. Makan makanan yang bergizi supaya tidak sakit.
4. Hindari masalah-masalah.
5. Jangan spaneng.
6. Belajar dengan latihan soal.
7. Membuat kisi-kisi/rumus.
8. Berdo’a kepada Allah.
9. Minta do’a dari orang tua dan guru.
10. Jangan terpengaruh bocoran-bocoran.
11. Yakin dengan kemampuan sendiri.
12. Hadapi UN dengan senyuman dan niat tulus.

Jangan sampai kalah sebelum berperang.

Jangan sampai down sebelum dijalani.

Jangan sampai pingsan sebelum masuk ruangan kelas.

Tidak ada yang sulit bagi orang-orang yang yakin akan kemudahan.



Selamat menjalankan Ujian Nasional.

Semoga diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah SWT.

Amien.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog