Tuesday, February 09, 2010

Ragunan....

Hari minggu saya beserta mahasiswa saya Stai Bina Madani melakukan penelitian sosial ke Ragunan. Kami hanya menyewa satu bus kecil lantaran jumlah kami hanya 21 orang sudah termasuk saya. Saya dan teman-teman mahasiswa berangkat pukul 09.00 dan sampai lokasi pukul 11.30 wib. Sesampai di Ragunan kami kumpul sebentar untuk koordinasi tentang objek penelitian, baru kemudian kami masuk bersama-sama setelah salah seorang mahasiswa membeli tiket masuk.

Seperti biasa saya bersuka ria mengambil gambar saya dengan minta tolong mahasiswa saya, yah lumayan menarik karena pemandangan lokasinya sangat hijau dan alami. Saya yakin foto saya sejelek apapun pasti akan bagus hasilnya, karena alamnya sungguh luar biasa indahnya. Tidak ada polusi, masih asri, masih ada angin segar, dan terkesan sungguh alami tanpa campur tangan manusia.

Kemudian saya dan para mahasiswa saya jalan muter-muter keliling Ragunan, mahasiswa saya sembari jalan sembari mencari objek penelitian yaitu:
1. Pedagang makanan
2. Pedagang asesoris
3. Pengunjung
4. Pengemis atau pengamen

Saat mahasiswa saya mencari responden, saya leyeh-leyeh sambil mengamati hal-hal yang terjadi di Ragunan diantaranya:
1. Banyaknya pedagang buah di luar pagar sebelum pintu masuk.
2. Banyaknya pedagang boneka dengan bentuk hewan yang bermacam-macam.
3. Adanya penjual di dalam yang resmi maupun yang tidak resmi, yang resmi biasanya aman dari kejaran aparat, sedangkan yang tidak ijin pasti akan menjadi sasaran empuk aparat (satpam dalam).
4. Pengamen dan pengemis yang sedang dikejar-kejar aparat, padahal mereka bekerja demi membahagiakan orang tuanya yang sedang sakit.
5. Fenomena maraknya anak-anak sma yang pacaran di ragunan selepas pulang sekolah, atau ketika dia bolos sekolah, menjadi sangat strategis dan nyaman karena lokasinya tepat banget.
6. Fenomena pengunjung yang memberi makan hewan padahal sudah dilarang, bagaimanapun hewan itu mempunyai jenis makanan sendiri dan tidak boleh dikasih makan sembarangan.
7. Jarak antar hewan yang lumayan jauh, kasihan anak-anak kecil pasti akan kecapean.
8. Persewaan sepeda double dan single.

Dari sekian fenomena yang saya amati, saya sebenarnya sangat tertarik untuk menyewa sepeda dan kemudian berputar-putar Ragunan. Tapi saya mengurungkan niat karena tidak enak sama mahasiswa saya. Bagaimanapun saya dan mereka datang secara bersama-sama. Tapi ngomong-ngomong soal sepeda, alhamdulillah saya sekarang sudah mempunyai sepeda. Tinggal mengatur waktunya saja kapan saya akan menggunakan sepeda untuk beraktivitas. Jakarta adalah ibu kota negara makanya tidak boleh kotor dan banyak polusi, sehingga menggunakan sepeda adalah merupakan solusi yang tepat. Karena dengan bersepeda akan dapat mengurangi polusi-polusi, selain bersepeda juga bisa untuk menyehatkan badan, karena bersepeda adalah bagian dari olah raga.
Continue Reading...

Thursday, February 04, 2010

Pak Polisi Jilid II.......

Mbak Sofie pernah cerita bahwa kampus saya bekerjasama dengan polisi air Tanjung Priuk, artinya bahwa polisi Tanjung Priuk jadi mahasiswa di kampus saya jurusan ekonomi syariah. Saya pernah ditawari mengajar di pol air tersebut, tapi saya belum mengiyakan. Beberapa waktu kemudian saya mengiyakan karena alasan sepertinya menarik mengajar pol air yang basicnya adalah polisi biasa yang bertugas menjaga keamanan negara Indonesia.

Beberapa waktu setelah itu saya ditelephone oleh mbak Sofie bahwa hari selasa depan saya mulai mengajar di pol air dengan mata kuliah metodologi penelitian sebanyak dua sks. Tiba-tiba saya hampir tertawa ketika ingat mau mengajar polisi, itu sama saja saya menjadi guru/dosen bagi mereka. Bukan tidak percaya diri bagaimanapun saya punya kapasitas dan memang itu adalah hak saya. Tapi terasa lucu dan menggelikan ketika ingat jaman dahulu, ketika saya sering berurusan dengan yang namanya pak polisi.

Saya ketika kuliah di Semarang berkali-kali ketilang polisi karena banyak alasan diantaranya: belum punya sim, tidak bawa stnk, tidak pakai helm, atau melanggar rambu-rambu lalu lintas jalan raya. Saya tidak punya sim karena waktu itu tidak punya duit untuk membuat sim, kadang tidak pakai helm karena helm cuma ada satu sementara saya berdua sama teman saya. Kalau masalah melanggar lalu lintas seringnya karena saya sangat ceroboh ketika dijalanan. Anehnya meski salah saya sangat sebel ketika polisi menilang saya, padahal sesungguhnya saya yang salah dan polisi itu memang benar karena menjalankan tugasnya.

Saya sebel dan bahkan benci karena saya merasa polisi terlalu berlebihan, banyak sebenarnya pelanggaran tapi banyak yang lolos dari pengamatan polisi. Tapi secara tiba-tiba polisi melakukan operasi seolah-olah tidak pernah ada pelanggaran di negeri yang bernama Indonesia. Saya sih inginnya kalau pengen tegas harus komitmen, tapi kalau pengen santai yaudah tidak usah terlalu sering mengadakan operasi di jalan.

Pernah ada kejadian lucu ketika saya sedang bersama dengan almarhum mabak Lela, waktu itu helm kami cuma ada satu dan kami lewat jalur tikus supaya tidak ketahuan pak polisi. Ternyata keluar dari jalur tikus sedang ada operasi gabungan, karena panik saya langsung kabur dan mencari jalan tembus. Pas saya keluar dari jalan tembus ternyata pak polisi sudah berdiri untuk menghadang saya. Saya hampir kabur lagi dan akhirnya tidak jadi setelah mbak Lela bilang: "mbak tidak usah kabur, bagaimanapun kita salah karena tidak membawa dua helm." Spontan saya langsung trenyuh dan tidak enak hati sama sahabat baikku itu, akhirnya kita berdua kena tilang dan harus nitip uang untuk sidang.

Saya tidak tahu kenapa saya sangat sebel dan benci sama polisi, saya sepertinya sebel karena saya tidak punya banyak uang, sehingga ketika mengeluarkan uang untuk sidang atau nitip sidang saya merasa bahwa uang itu seharusnya bisa digunakan untuk keperluan yang lainnya. Selain itu klaim masyarakat terhadap polisi juga sudah sangat buruk, seolah-olah polisi adalah manusia yang menyebalkan terutama polisi lalu lintas.

Teman kuliah saya di Semarang malah pernah mengalami kejadian lucu, berikut petikan dialog teman saya dengan pak polisi tersebut:

Polisi: permisi mas, anda melanggar rambu lalu lintas yaitu menabrak lampu merah.

Hadi: iya to pak? maaf pak saya sedang buru-buru. saya kan baru sarjana pak, nah hari ini saya dapat panggilan kerja, karena buru-buru saya tidak memperhatikan lampu lalu lintas pak.

Polisi: saya mengerti tetapi tetap saja anda bersalah dan harus ditilang.

Hadi: ditilangnya diapain pak? kalau sidang saya takut tidak bisa, kalau nitip sidang terus terang saya tidak punya uang pak.

Polisi: lho anda maunya bagaimana? anda kan salah jadi ya harus tahu dir dunk?

Hadi: yaudah saya nitip sidang saja pak.

Polisi: yaudah nitip sidang 30.000.

Hadi: uang didompet saya cuma ada 20.000 pak.

Polisi: mana uangnya?

Hadi: saya tidak punya uang lagi pak, dan bensin saya ternyata habis banget pak.

Polisi: yaudah ne saya kembalikan 10.000 untuk beli bensin, lain kali hati-hati ya jangan ngebut dan melamun saat bermotor.

Hadi: siap pak polisi.

Kembali ke cerita saya di atas, saya hari itu berangkat dari Kebayoran sekitar pukul 13.30 wib dan harus mengajar di pol air sekitar pukul 15.00 wib. Saya belum tahu tempatnya tapi alamat yang diberikan kepada saya sudah cukup jelas, dan alhamdulillah saya tahu sedikit daerah ancol. Kebetulan kantor pol airnya berada ditepian pantai, sehingga terlihat begitu indah dan menarik perhatian saya. Sesampai di kantor pol air saya sempat beberapa kali bertanya dimana tempat perkuliahannya? Dan ternyata perkuliahan dilakukan di gedung deket masjid pol air.


Kembali ke cerita saya di atas, saya hari itu berangkat dari Kebayoran sekitar pukul 13.30 wib dan harus mengajar di pol air sekitar pukul 15.00 wib. Saya belum tahu tempatnya tapi alamat yang diberikan kepada saya sudah cukup jelas, dan alhamdulillah saya tahu sedikit daerah ancol. Kebetulan kantor pol airnya berada ditepian pantai, sehingga terlihat begitu indah dan menarik perhatian saya. Sesampai di kantor pol air saya sempat beberapa kali bertanya dimana tempat perkuliahannya? Dan ternyata perkuliahan dilakukan di gedung deket masjid pol air.

Karena masih ada dosen di dalam, saya menunggu di ruang tunggu sambil menyaksikan pantai yang lumayan indah dan membawa angin laut yang begitu segar. Saya sempat terlonjak oleh suara dentingan pintu yang menutup sendiri karena terkena angin. Dan alhamdulillah datanglah seorang bapak-bapak yang sepertinya adalah OB nya, pintu ditutup dan anginpun hembusan kerasnya mulai berkurang. Kata si bapak, sudah biasa seperti itu karena kantor tersebut benar-benar ditepian pantai lepas.

Akhirnya dosen yang di dalampun keluar dan saya masuk kelas, bayangan saya polisi yang kuliah adalah polisi yang masih muda-muda ternyata sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, sepertinya usia mereka sekitar 45-55 tahun. Karena agak canggung saya langsung bilang:

Saya: hebat ya bapak dan ibu, masih saja semangat saja untuk kuliah.

Polisi: iya dunk bu, ilmu itu kan sepanjang hayat.

Saya: iya betul pak, oya ngomong-ngomong biasanya kan polisi kalau kuliah ambilnya jurusan hukum, ini kok ambil ekonomi syariah?

Polisi: kan tidak harus hukum bu, kita lagi berselera saja sama ekonomi syariah.

Saya: oke kalau begitu, mari kita mulai mata kuliah pada sore hari ini, kita akan belajar tentang metodologi penelitian ilmiah.

Saya kemudian memperkenalkan diri, dan setelah itu saya mengajak mahasiswa saya yang polisi itu untuk juga memperkenalkan diri. Mata kuliah berlangsung selama dua sks dan setelah selesai saya ditawari makan mie ayam yang sudah dibungkus rapi dan teh hangat manis. Sebenarnya tidak lapar, tapi karena tidak enak saya pun akhirnya makan bareng dengan mereka.

Ketika mau pulang saya berhenti dulu di ruang tamu dan ketemu sama dua orang polisi yang juga mahasiswa saya:

Polisi: mbak duduk dulu sini, maaf ne saya panggil mbak karena di luar kelas.

Saya: oya tidak apa-apa pak, iya ada apa pak?

Polisi: kayaknya masih muda sekali ya mbak, kelihatan gitu, hehehe.

Saya: ah tidak juga pak, saya kebetulan senang kuliah makanya sudah ambil s3.

Polisi: wah hebat ya, muda-muda sudah ambil doktor, semoga cepat jadi doktor dech, amien.

Saya: terima kasih atas doanya.

Polisi: pulang pakai apa? motor ya? kalau pakai motor hati-hati ya, soale daerah sini agak rawan, sering ada penjambretan sambil jalan.

Saya: kan ini masih sore pak, lagipula saya sudah biasa pakai motor kok, tapi terima kasih pemberitahuannya.

Polisi: sore, siang, atau malam tidak pengaruh mbak, banyak korban yang dijambret pada siang bolong.

Saya: modusnya gimana pak?

Polisi: dia pakai motor dan mengejar motor yang diincar, setelah itu tasnya ditarik paksa, kadang sampai melukai pengendara motornya.

Saya: ada yang sampai meninggal gak pak?

Polisi: banyak mbak, makanya hati-hati.

Saya: oke dech pak, terima kasih ya pak, saya pamit dulu pak.

Polisi: hati-hati ya mbak di jalan.

Saya langsung menuju ke parkiran motor dan siap-siap untuk pulang ke Kebayoran Lama, kebetulan malam itu saya ada janji sama murid saya untuk menemani mereka latihan band. Latihan band untuk lomba se Dejabotabek di Senayan pada pertengahan februari. Sampai Kebayoran pukul 19.30 wib dan saya langsung menhubungi anak-anak band dosqi. Jam 21.00 wib baru bisa masuk studio dan kita keluar sekitar jam 22.00 wib, kita nongkrong dulu sebentar dan jam 22.30 wib baru pulang.

Hari itu terasa aneh karena mengajar polisi, sosok yang kurang saya sukai karena pengalaman subjektif saya terhadap polisi. Tapi alhamdulillah keanehan itu terbayar bahagia saat meliaht semangat anak-anak dosqi yang serius latihan musik untuk memperjuangkan nama sekolah tercinta.
Continue Reading...

Monday, February 01, 2010

Polisi....

Hari itu malam sehingga jalan raya sekalipun terlihat gelap, dan akibatnya rambu-rambu lalu lintas sekalipun hampir tidak terlihat dengan jelas untuk saya yang menggunakan kaca mata alias minus. Mahasiswa saya yang di depan sudah ngacir dengan motornya dan menabrak rambu lalu lintas tersebut, saya dan mahasiswa yang membonceng saya karena panik ikut-ikutan menabrak rambu lalu lintas dilarang lurus karena one way. Tiba-tiba tukang ojek di sebelah kanan teriak-teriak dan meminta kami dengan dua motor kami untuk berhenti, karena kaget dan sadar akan kesalahan kamipun berhenti. Saya berhenti di sebelah kanan sedangkan motor satunya berhenti di sebelah kiri.

Saya baru sadar bahwa ternyata yang mendatangi saya adalah seorang polisi yang tidak terlalu tua dan berwajah tampan. Mahasiswa saya panik karena dia tidak punya sim, saya langsung mengeluarkan stnk dan sim saya. Berikut dialog saya dengan bapak polisi tampan tersebut:

Saya: maaf pak kami memang salah, kami buru-buru karena besok anak-anak mau uas.

Polisi: iya mbak, lain kali hati-hati ya, tapi bagaimanapun mbak tetap kena tilang apalagi yang mengendarai tidak punya sim.

Saya: tapi saya punya sim pak, saya juga membawa stnk, tadi saya yang mengendarai terus karena saya lelah saya minta digantikan untuk sementara saja.

Polisi: mbak kan pasti tahu hukum, tilang itu berlaku untuk yang mengendarai motor, lagipula kalau mbak tahu dia tidak punya sim kenapa di ijinkan mengendarai motor?

Saya: iya pak saya salah dan minta maaf.

Polisi: hari kamis sidang ya mbak, stnk sementara saya tahan.

Saya: saya tidak bisa pak kalau hari kamis, soale saya kerja pak.

Polisi: yaudah nitip buat sidang saja, untuk pelanggaran rambu Rp. 55.000 dan untuk tidak adanya sim Rp. 75.000, total semuanya Rp. 125.000.

Saya: mahal banget pak? kayaknya enggak sampai segitu deh?

Polisi: di jakarta beda sama di bogor mbak? tapi kalau tidak mau yah silahkan sidang saja.

Saya: kita gabung saja sama mahasiswa saya yang disana pak, jadi jangan dipisah kayak gini.

Polisi: yaudah kita kesana saja.

Waktu saya kesana, saya melihat dua mahasiswa saya sedang disuruh menyanyi oleh polisi yang satunya lagi, tapi mereka tidak mau menyanyi. Saya melihat salah satu mahasiswa saya itu sedang hampir menangis karena kaget dan kelihatan kaget. Dan ternyata benar dia benar-benar menumpahkan air matanya. Saya kaget dan tidak enak sama polisi tersebut, tapi saya juga kaget karena tiba-tiba polisi membatalkan uang sidang yang seharusnya bisa dititipkan kepadanya, dan stnk saya akhirnya dikembalikan kepada saya. Saya sungguh-sungguh tidak tahu penyebabnya, berikut petikan dialog saya dengan bapak polisi tersebut:

Polisi: besok-besok lagi kalau jalan hati-hati dan tidak usah ngebut, kalau tidak tahu jalan jangan segan untuk bertanya, terus kalau tidak punya sim yah harus buat sim.

Saya: iya pak terima kasih, saya juga mohon maaf karena telah berbuat kesalahan, masalah sim mungkin umur mahasiswa saya belum mencukupi pak, dia baru berusia 17 tahun menuju 18 tahun.

Polisi: membuat sim itu sekarang bisa usia 16 tahun, jadi seharusnya mahasiswa mbak sudah punya sim.

Saya: iya pak, saya mohon maaf dan setelah ini mahasiswa saya biar membuat sim.

Polisi: iya begitu kan bagus, saya kadang bingung juga mbak, orang salah ditilang tidak mau, kalah saya tidak menilang saya juga salah.

Saya: iya pak saya tahu kok.

Polisi: jangan dikira gaji saya besar mbak, saya jaga malam tidak dapat uang makan, gaji saya cuma Rp. 2.000.000.

Saya: iya pak saya paham.

Polisi: oke terima kasih dan mohon maaf, sekali lagi kalau tidak paham jalan jangan malu untuk bertanya pada orang yang ada disekitar situ.

Saya: terima kasih pak.

Saya dan ketiga mahasiswa saya berpamitan dengan bapak polisi tersebut, dan bapak polisi satunya sedang mengejar pengendara motor yang juga melakukan kesalahan seperti yang saya lakukan. Kami berempat menjabat tangan bapak polisi tersebut dan mengucapkan terima kasih. Kami jalan dan saya masih saja berfikir kenapa polisi tersebut tiba-tiba membatalkan tilangnya? Yah bagaimanapun mungkin dia memang orang baik dan orang yang masih punya belas kasihan terhadap orang-orang yang nyasar seperti kami.

Tapi ngomong-ngomong kasihan juga yah jadi polisi? Selalu diklaim buruk oleh sebagian masyarakat, meski sesungguhnya belum tentu dia seburuk itu, kalaupun ada polisi yang menyebalkan saya yakin itu hanya oknum saja. Dan tentunya masyarakat juga harus lebih komitmen lagi, misalnya tidak menawarkan damai ketika ditilang oleh pak polisi, sehingga polisi juga tidak menawarkan nitip uang untuk sidang.
Continue Reading...

Thursday, January 28, 2010

Kejadian...........

Malam itu saya sudah memutuskan untuk tidak tidur melainkan mengerjakan tugas makalah tentang pendidikan berbasis teknologi sampai kelar dan tuntas, karena keesokan harinya saya harus tampir dipanel dengan teman saya yang mengambil judul pendidikan budi pekerti. Saya sudah membuka laptop di kasur sambil tiduran, maklum seharian full activities sehingga untuk duduk serasa sangat berat karena sudah kelelahan. Saya sudah mulai mencari data dan sudah mulai mengetik makalah kurang lebih sudah dapat empat halaman.

Saya malam itu menginap di rumah teman saya dan malam itu kita bertida di kamar, karena melihat dua teman saya tidur dengan pulas tiba-tiba saya tergelitik untuk tidur sebentar dan kemudian berjanji akan bangun lagi untuk melanjutkan membuat tugas. Namanya juga manusia tempatnya lupa dan salah, saya keenakan tidur dan baru bangun pukul 05.15 wib pagi dini hari. Menyesal dan merasa bersalah sehingga setelah bangun saya langsung sholat subuh dan kemudian melanjutkan mengerjakan makalah sampai pukul 09.00 wib.

Karena teman saya hendak kerja saya langsung beresin laptop dan buku-buku dan bermaksud melanjutkan pekerjaan tugas di rumah. Di rumah saya masih mengedit, mencari data, dan membuat power point untuk presentasi. Setelah semua selesai saya buru-buru ke kampus unj dengan sedikit ngebut karena takut terlambat. Meskipun sudah ngebut tetap saja saya terlambat, pukul 14.00 wib baru tiba di kampus padahal masuk kuliah jam 13.00 wib.


Saya langsung lari ke lantai tiga karena kebetulan dapat ruangnya di lantai tiga, setiba di atas teman-teman saya bilang bahwa kuliah jam pertama dan kedua kosong semuanya karena dosennya ada acara penting. Sebenarnya senang karena belum siap banget untuk presentasi, tetapi agak sebel karena sudah jauh-jauh dari Bintaro dan ketika di jalan ada kejadian yang menyedihkan juga.

Waktu berangkat di daerah veteran saya hampir menabrak penyebrang jalan, saya sangat menyesal dan merasa bersalah karena ternyata yang hampir saya tabrak adalah orang yang cacat. Saya langsung beristighfar dan langsung membuang kesedihan dari dalam pikiran saya. Saya tidak tahu kenapa dengan diri saya, setiap melihat kejadian yang menyedihkan saya suka terbawa emosi dan merasa sedih berkepanjangan.

Selain kejadian hampir menabrak, saat foto copy tugas sebelum naik ke lantai tiga saya juga sebel sama tukang foto copy. Sebenarnya dia cakep dan menarik tapi sayang dia sangat jutek dan tidak murah senyum. Karena sebel saya godain dia terus dan saya ajak ngobrol dia sampai dia akhirnya mau senyum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya.

Karena kosong saya langsung berniat ke gedung muhammadiyah untuk mengikuti diskusi pluralisme yang dipandu oleh orang Amerika Serikat. Acara diskusi dimulai pukul 16.00 wib sampai 18.00 wib dan dihadiri oleh elemen-elemen organisasi kepemudaan di lingkungan muhammadiyah. Lumayan menarik apa yang dibicarakan oleh penyaji materi, dan bagaimanapun perbedaan seharusnya tidak menjadi persoalan untuk tetap jalan bersama.


Saat menuju gedung muhammadiyah saya melihat orang jualan kacang goreng di lampu merah kebun sirih (tugu tani), tiba-tiba saja saya merasa sangat iba terhadap penjual kacang tersebut. Saya sedih melihat jualannya banyak yang belum terjual apalagi ditambah disitu matahari sangat terik. Saya yakin penjual kacang tersebut sudah sangat kehausan dan kepanasan. Saya sebenarnya pengen beli tetapi posisi lampu merah menurut saya tidak aman untuk berhenti lama.

Setelah dari menteng gedung muhammadiyah saya langsung menuju ke utan kayu (jil) untuk mengikuti diskusi tentang mukjizat. Diskusi malam itu menurut saya akan sangat menarik karena salah satu pembicaranya Jalaludin Rahmat, orang yang sangat cerdas dan luar biasa, bisa tetap hidup dalam beberapa pengasingan oleh sistem sosial masyarakat yang cenderung kaget dengan sesuatu yang berbeda.

Pukul 22.00 wib acara baru kelar dan saya bersiap-siap untuk pulang ke Bintaro, sebenarnya lelah sekali tetapi karena paginya saya harus mengajar pukul 06.30 wib saya memutuskan untuk tetap ke Bintaro. Saat tiba di bundaran dekat Senayan arah menuju ke Pakubuwono, tiba-tiba saya hampir dijegat sama polisi, untuk saya bisa kabur alias meloloskan diri dari jegatan bapak polisi. Saya sendiri bingung masalahnya apa, ternyata saya sedang melamun dan menyelonong padahal sudah lampu merah. Menyesal karena kabur dari bapak polisi, tapi saya lihat yang melanggar tidak hanya saya tetapi ada beberapa motor lagi yang juga menerobos lampu merah.


Pukul 22.30 wib saya tiba di daerah Ceger Pondok Aren deket Bintaro, saya berhenti di alfamart bermaksud membeli makanan ringan dan minuman dingin. Dan ketika melihat martabak saya langsung memesan martabak manis keju, saya baru sadar ternyata seharian saya baru makan satu kali dan itu pagi hari pukul 06.30 wib. Dan ketika sampai rumah saya langsung makan martabak manis tersebut, mandi, dan mengerjakan tugas lagi sambil menulis blogs ini.
Continue Reading...

Tuesday, January 26, 2010

LP...

Saat mendengar istilah lembaga permasyarakatan (LP) orang pasti sudah ngeri dan tidak berharap untuk masuk kesitu, bukan takut tapi lebih pada persoalan tidak mau diklaim buruk karena pernah menjadi nara pidana. Semua orang tentunya tidak berharap untuk masuk ke lembaga permasyarakatan, karena pasti sangat tidak enak jika kita berada di dalam sana. Berada dalam tempat yang begitu terbatas dan dalam keadaan tidak bebas melakukan apapun.

Jangankan untuk merasakan di dalamnya, melihat dari luar saja sudah sangat ngeri dan angker. Saya tadi sore tiba di depan gedung LP pria dewasa Tangerang, saat berdiri di depan gerbang perasaan saya sudah sangat ngilu dan hampir tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di dalam sana. Tentu tidak bermaksud ingin merasakan tinggal di dalam lapas dengan status sebagai tahanan. Status yang masyarakat hampir tidak suka alias berprasangka buruk terhadap status tersebut.

Saya mencari petugas untuk bertanya tentang birokrasi jika ingin melakukan penelitian, tetapi ternyata penjaga kosong dan dalam keadaan sepi. Akhirnya ada orang disitu dan sayapun bertanya kepada orang tersebut, ternyata LP wanita adanya bukan disitu tetapi masih jauh dari situ. Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari LP wanita. Saya memang sengaja mencari LP wanita karena permintaan mahasiswa saya.

Sampai di depan gerbang LP wanita saya langsung mengetuk gerbang dengan pintu besinya, saya dipersilahkan untuk masuh dan akhirnya kitapun berbincang banyak tentang masalah tahanan. Mereka memberitahukan kepada saya bahwa untuk penelitian saya harus ijin terlebih dahulu ke Kanwil Provinsi Banten, tempatnya di daerah Serang. Saya pikir surat ijin bisa langsung di bawa ke LP Tangerang ternyata tidak bisa. Saya sebenarnya mamaklumi birokrasi tetapi untuk ke Serang rasanya terlalu jauh dan takut tidak punya banyak waktu.

Saya ingin bisa masuk ke dalam dan ingin berdiskusi dengan para nara pidana, tetapi saya dilarang oleh petugas, karena yang boleh masuk ke dalam hanyalah petugas yang berwenang. Saya bergurau ingin masuk ke lapas tetapi bukan karena saya melanggar hukum, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi nara pidana. Saya ingin merasakan suka dan duka di dalam penjara, yang tentunya pasti sangat tidak enak dan menyebalkan.

Meskipun mungkin menyenangkan untuk tahanan yang berstatus sebagai orang berduit, dia pasti akan dihargai sama teman-temannya serta bisa mendapatkan fasilitas yang lebih layak dan lebih sempurna dari tahanan lainnya. Gimana masyarakt mau percaya dengan penegak hukum, jika realitas ketidak adilan ada di depan mata. Bagaimana ceritanya penjara Arthalita bisa bagus dan sangat mewah bak hotel bintang lima? Kenapa itu bisa terjadi dan kenapa itu hanya memihak kepada orang-orang kaya saja? Karena kalau dipikir secara logika, semua napi pasti ingin merasa nyaman dan bahagia di dalam penjara.

Jika demikian mending orang-orang kaya yang bersalah tidak usah di penjara sekalian, biarkan saja hanya orang-orang miskin yang dipenjara. Karena orang kaya pasti mengaku tidak betah jika harus tidur di tempat yang semestinya, dia merasa bahwa dirinya punya uang yang bisa digunakan untuk menyenangkan hidupnya, meski sedang dalam penjara.

So saya tidak pernah berharap untuk masuk lapas, dan tentunya semua orangpun pasti berharap demikian. Bagaimanapun orang mengklaim buruk terhadap mantan nara pidana, meskipun pasti ada alasan kenapa orang melakukan kejahatan. Selamat mencoba untuk selalu menjadi baik, sehingga kita tidak perlu merasakan hidup di dalam LP, amien.
Continue Reading...

Sunday, January 24, 2010

Pedagang di Pojokan...

Di gerbang PJMI bagian belakang dekat gereja ada pojokan sepetak tanah yang lumayan luas. Sepetak tanah itu jika dibiarkan pasti bisa menjadi taman indah atau sekedar sepetak tanah yang hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput saja. Tetapi yang ingin saya sampaikan yaitu bahwa sepetak tanah tersebut sering menjadi tempat bisnin tidak tetap. Saya tidak tahu siapa pelakunya tetapi sepertinya bukan orang betawi dan juga bukan orang komplek. Saya memang tidak pernah bertanya kepada penjualnya yang terlihat sepasang suami istri. Saya sebagai orang yang sering lewat situ hanya mengamati saja.

Saya mengamati dan saya berfikir bahwa ternyata tempat itu digunakan untuk jualan barang-barang seperti berikut: layang-layang, bendera merah putih menjelang kemerdekaan, terompet menjelang tahun baru, dan kambing-kambing menjelang kurban. Awalnya saya pikir penjualnya ganti-ganti orang ternyata penjualnya selalu tetap. Itu artinya bahwa pejual tersebut adalah orang yang sangat kreatif dan imajinatif. Dia juga termasuk orang yang mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan untuk berusaha.

Saya melihat dan mengamati ternyata suami istri tersebut sampai tidur di tempat lokasi, dan saya tidak pernah tahu mereka tinggal dimana. Suami istri tersebut juga terlihat agak kumal, sehingga kesimpulan saya mereka bukan orang kaya. Berarti jika mereka bukan orang mampu berarti dagangan mereka tidak begitu maksimal. Karena memang saya sering melihat barang dagangan yang mangkal di pojok tersebut masih banyak sisanya.

Sebenarnya sih kasihan tapi mau bagaimana lagi? Toh saya juga tidak bisa membantu banyak untuk kedua orang tersebut. Saya sih pengen banget beli tapi kadang saya memang tidak butuh barang dagangan yang ada disitu. Seperti kambing misalnya, saya memang belum butuh kambing banget untuk tahun ini, tapi untuk tahun depan akan saya usahakan untuk beli kambing, tentu buat kurban.

Tapi saya sangat apresiasi terhadap pasangan suami istri tersebut, saya sangat hormat untuk keduanya yang gigih dan kreatif menciptakan peluang yang ada. Mereka adalah manusia tangguh yang tidak mengeluh atas keadaan hidup yang sangat pahit. Selayaknya orang-orang yang susah harus mencontoh mereka berdua, bukan pasrah pada keadaan yang ada. Karena hidup ini akan bahagia atau sedih tergantung masing-masing orangya.
Continue Reading...

Wednesday, January 20, 2010

Bodoh Itu Pilihan...

Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dalam keadaan bodoh, tetapi Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan penuh dengan kesucian dan kelebihan-kelebihan. Bahkan Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan baik dan berhati mulia. Otak yang melekat dalam badan manusia adalah bukti bahwa Tuhan melengkapi manusia dengan kecerdasan dan kecerdikan. Karena tugas manusia sangat berat dan penuh dengan rintangan-rintangan.

Saat dewasa atau ketika remaja, manusia hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Dia diberi pilihan-pilihan oleh manusia lain tersebut untuk terus menjadi baik atau berubah menjadi manusia yang tidak baik. Tidak ada yang memaksa dalam menentukan pilihan tersebut, karena semuanya diserahkan kepada masing-masing orang. Bagaimana tidak, pertanggung jawabannya pun diserahkan kepada masing-masing individu tersebut.

Baik itu memang kadang multi tafsir dan masing-masing orang punya standar penilaian. Sedangkan jahat adalah sifat yang mutlak dan bisa dirasakan karena merugikan orang lain. Pintar itu juga relatif karena masing-masing orang mempunyai bakat dan minat yang tidak sama. Sedangkan bodoh itu sering terlihat karena bodoh berefek pada perilaku dan hasil belajar.

Menurut saya orang pintar tidak harus berbasic cerdas tetapi bisa juga karena ketekunan dan keseriusan dalam belajar. Sedangkan orang bodoh juga bukan bawaan tetapi lebih pada kemalasan dan pesimisme yang dipelihara dengan sempurna. Lagi-lagi kembali kepada masing-masing individunya dalam menjalani hidup dan kehidupan yang kompleks dan banyak cobaan ini.


Waktu Madrasah Ibtidaiyah/SD kata teman-teman saya, saya termasuk siswa yang bodoh bahkan sering dihukum sama guru gara-gara tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas. Waktu itu saya merasa bukan karena saya keturunan bodoh, karena ibu saya ternyata sangat pintar waktu sekolah. Saya bodoh waktu MI karena saya memang jarang sekali belajar dan mengerjakan PR. Saya lebih senang main sama anak-anak cowok, dan saya sibuk dengan teman-teman saya itu. Boro-boro belajar dan mengerjakan PR, malam haripun saya main sama teman-teman saya di lapangan.

SMP saya mulai merubah cara pandang saya tentang pendidikan, saya alhamdulillah berteman dengan teman-teman yang rajin belajar dan pintar. Akhirnya saya termotivasi penuh untuk pintar seperti teman-teman saya. Saya tidak merasa cerdas sehingga untuk pintar saya perlu bekerja keras, dan alhamdulillah lagi nilai saya meningkat dan saya selalu masuk 10 besar selama SMP. Mungkin saya termotivasi karena waktu SMP saya sudah aktif di organisasi Pramuka dan anggota Osis. Bagi saya organisasi sangat mempengaruhi semangat saya untuk lebih rajin lagi dalam belajar.

Meningkat ke SMK saya lebih rajin dan lebih semangat lagi dalam belajar, selain karena dapat teman yang baik saya juga menemukan seorang guru yang sangat perhatian dengan saya. Perhatian dalam banyak hal baik masalah organisasi maupun masalah pelajaran. Guru tersebut adalah guru Al-Islam, guru yang benar-benar memberikan inspirasi dan memberikan banyak pelajaran tentang ilmu agama. Saya sangat salut dan bangga mempunyai guru sepertinya, sosok yang sangat saya hormati dan teladani. Selain dapat guru baik tersebut, saya juga mempunyai teman dekat yang cukup memotivasi saya. Teman saya tersebut aktif di organisasi Pramuka dan IRM bareng saya, dan dia adalah orang yang terpandai di sekolah saya. Dia orang luar biasa yang pernah saya kenal: dia cantik, anak orang terhormat, pintar, aktivis, dan peduli dengan temannya. Sayang dia tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena alasan jenis kelamin perempuan. Ortunya menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, sedangkan laki-laki wajib sekolah sampai tinggi.

Kuliah sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, karena iklim belajar di kampus berbeda dengan di sekolah SMP dan SMA. Saya lebih semangat lagi belajar di perguruan tinggi, karena belajar di perguruan tinggi jauh lebih santai dan menyenangkan. Yah meski tidak pintar banget minimal saya bisa lulus kuliah tepat waktu. Lumayan bisa meringankan beban orang tua, maklum ibu saya hidup seorang diri tanpa suami lagi.

Jadi sekali lagi bodoh itu bukan takdir, dan pintar juga menurut saya bukan takdir. Semuanya bisa diupayakan dan diusahakan dengan niat dan kesungguhan kita. Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dalam keadaan bodoh, karena Tuhan maha menyukai kecerdasan dan kepintaran. Selamat mencoba menjadi pintar dan cerdas, dan selamat mencoba untuk meninggalkan kedunguan dan dunia kebodohan, dengan ilmu tentunya.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog