Tuesday, January 26, 2010

LP...

Saat mendengar istilah lembaga permasyarakatan (LP) orang pasti sudah ngeri dan tidak berharap untuk masuk kesitu, bukan takut tapi lebih pada persoalan tidak mau diklaim buruk karena pernah menjadi nara pidana. Semua orang tentunya tidak berharap untuk masuk ke lembaga permasyarakatan, karena pasti sangat tidak enak jika kita berada di dalam sana. Berada dalam tempat yang begitu terbatas dan dalam keadaan tidak bebas melakukan apapun.

Jangankan untuk merasakan di dalamnya, melihat dari luar saja sudah sangat ngeri dan angker. Saya tadi sore tiba di depan gedung LP pria dewasa Tangerang, saat berdiri di depan gerbang perasaan saya sudah sangat ngilu dan hampir tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di dalam sana. Tentu tidak bermaksud ingin merasakan tinggal di dalam lapas dengan status sebagai tahanan. Status yang masyarakat hampir tidak suka alias berprasangka buruk terhadap status tersebut.

Saya mencari petugas untuk bertanya tentang birokrasi jika ingin melakukan penelitian, tetapi ternyata penjaga kosong dan dalam keadaan sepi. Akhirnya ada orang disitu dan sayapun bertanya kepada orang tersebut, ternyata LP wanita adanya bukan disitu tetapi masih jauh dari situ. Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari LP wanita. Saya memang sengaja mencari LP wanita karena permintaan mahasiswa saya.

Sampai di depan gerbang LP wanita saya langsung mengetuk gerbang dengan pintu besinya, saya dipersilahkan untuk masuh dan akhirnya kitapun berbincang banyak tentang masalah tahanan. Mereka memberitahukan kepada saya bahwa untuk penelitian saya harus ijin terlebih dahulu ke Kanwil Provinsi Banten, tempatnya di daerah Serang. Saya pikir surat ijin bisa langsung di bawa ke LP Tangerang ternyata tidak bisa. Saya sebenarnya mamaklumi birokrasi tetapi untuk ke Serang rasanya terlalu jauh dan takut tidak punya banyak waktu.

Saya ingin bisa masuk ke dalam dan ingin berdiskusi dengan para nara pidana, tetapi saya dilarang oleh petugas, karena yang boleh masuk ke dalam hanyalah petugas yang berwenang. Saya bergurau ingin masuk ke lapas tetapi bukan karena saya melanggar hukum, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi nara pidana. Saya ingin merasakan suka dan duka di dalam penjara, yang tentunya pasti sangat tidak enak dan menyebalkan.

Meskipun mungkin menyenangkan untuk tahanan yang berstatus sebagai orang berduit, dia pasti akan dihargai sama teman-temannya serta bisa mendapatkan fasilitas yang lebih layak dan lebih sempurna dari tahanan lainnya. Gimana masyarakt mau percaya dengan penegak hukum, jika realitas ketidak adilan ada di depan mata. Bagaimana ceritanya penjara Arthalita bisa bagus dan sangat mewah bak hotel bintang lima? Kenapa itu bisa terjadi dan kenapa itu hanya memihak kepada orang-orang kaya saja? Karena kalau dipikir secara logika, semua napi pasti ingin merasa nyaman dan bahagia di dalam penjara.

Jika demikian mending orang-orang kaya yang bersalah tidak usah di penjara sekalian, biarkan saja hanya orang-orang miskin yang dipenjara. Karena orang kaya pasti mengaku tidak betah jika harus tidur di tempat yang semestinya, dia merasa bahwa dirinya punya uang yang bisa digunakan untuk menyenangkan hidupnya, meski sedang dalam penjara.

So saya tidak pernah berharap untuk masuk lapas, dan tentunya semua orangpun pasti berharap demikian. Bagaimanapun orang mengklaim buruk terhadap mantan nara pidana, meskipun pasti ada alasan kenapa orang melakukan kejahatan. Selamat mencoba untuk selalu menjadi baik, sehingga kita tidak perlu merasakan hidup di dalam LP, amien.
Continue Reading...

Sunday, January 24, 2010

Pedagang di Pojokan...

Di gerbang PJMI bagian belakang dekat gereja ada pojokan sepetak tanah yang lumayan luas. Sepetak tanah itu jika dibiarkan pasti bisa menjadi taman indah atau sekedar sepetak tanah yang hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput saja. Tetapi yang ingin saya sampaikan yaitu bahwa sepetak tanah tersebut sering menjadi tempat bisnin tidak tetap. Saya tidak tahu siapa pelakunya tetapi sepertinya bukan orang betawi dan juga bukan orang komplek. Saya memang tidak pernah bertanya kepada penjualnya yang terlihat sepasang suami istri. Saya sebagai orang yang sering lewat situ hanya mengamati saja.

Saya mengamati dan saya berfikir bahwa ternyata tempat itu digunakan untuk jualan barang-barang seperti berikut: layang-layang, bendera merah putih menjelang kemerdekaan, terompet menjelang tahun baru, dan kambing-kambing menjelang kurban. Awalnya saya pikir penjualnya ganti-ganti orang ternyata penjualnya selalu tetap. Itu artinya bahwa pejual tersebut adalah orang yang sangat kreatif dan imajinatif. Dia juga termasuk orang yang mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan untuk berusaha.

Saya melihat dan mengamati ternyata suami istri tersebut sampai tidur di tempat lokasi, dan saya tidak pernah tahu mereka tinggal dimana. Suami istri tersebut juga terlihat agak kumal, sehingga kesimpulan saya mereka bukan orang kaya. Berarti jika mereka bukan orang mampu berarti dagangan mereka tidak begitu maksimal. Karena memang saya sering melihat barang dagangan yang mangkal di pojok tersebut masih banyak sisanya.

Sebenarnya sih kasihan tapi mau bagaimana lagi? Toh saya juga tidak bisa membantu banyak untuk kedua orang tersebut. Saya sih pengen banget beli tapi kadang saya memang tidak butuh barang dagangan yang ada disitu. Seperti kambing misalnya, saya memang belum butuh kambing banget untuk tahun ini, tapi untuk tahun depan akan saya usahakan untuk beli kambing, tentu buat kurban.

Tapi saya sangat apresiasi terhadap pasangan suami istri tersebut, saya sangat hormat untuk keduanya yang gigih dan kreatif menciptakan peluang yang ada. Mereka adalah manusia tangguh yang tidak mengeluh atas keadaan hidup yang sangat pahit. Selayaknya orang-orang yang susah harus mencontoh mereka berdua, bukan pasrah pada keadaan yang ada. Karena hidup ini akan bahagia atau sedih tergantung masing-masing orangya.
Continue Reading...

Wednesday, January 20, 2010

Bodoh Itu Pilihan...

Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dalam keadaan bodoh, tetapi Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan penuh dengan kesucian dan kelebihan-kelebihan. Bahkan Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan baik dan berhati mulia. Otak yang melekat dalam badan manusia adalah bukti bahwa Tuhan melengkapi manusia dengan kecerdasan dan kecerdikan. Karena tugas manusia sangat berat dan penuh dengan rintangan-rintangan.

Saat dewasa atau ketika remaja, manusia hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Dia diberi pilihan-pilihan oleh manusia lain tersebut untuk terus menjadi baik atau berubah menjadi manusia yang tidak baik. Tidak ada yang memaksa dalam menentukan pilihan tersebut, karena semuanya diserahkan kepada masing-masing orang. Bagaimana tidak, pertanggung jawabannya pun diserahkan kepada masing-masing individu tersebut.

Baik itu memang kadang multi tafsir dan masing-masing orang punya standar penilaian. Sedangkan jahat adalah sifat yang mutlak dan bisa dirasakan karena merugikan orang lain. Pintar itu juga relatif karena masing-masing orang mempunyai bakat dan minat yang tidak sama. Sedangkan bodoh itu sering terlihat karena bodoh berefek pada perilaku dan hasil belajar.

Menurut saya orang pintar tidak harus berbasic cerdas tetapi bisa juga karena ketekunan dan keseriusan dalam belajar. Sedangkan orang bodoh juga bukan bawaan tetapi lebih pada kemalasan dan pesimisme yang dipelihara dengan sempurna. Lagi-lagi kembali kepada masing-masing individunya dalam menjalani hidup dan kehidupan yang kompleks dan banyak cobaan ini.


Waktu Madrasah Ibtidaiyah/SD kata teman-teman saya, saya termasuk siswa yang bodoh bahkan sering dihukum sama guru gara-gara tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas. Waktu itu saya merasa bukan karena saya keturunan bodoh, karena ibu saya ternyata sangat pintar waktu sekolah. Saya bodoh waktu MI karena saya memang jarang sekali belajar dan mengerjakan PR. Saya lebih senang main sama anak-anak cowok, dan saya sibuk dengan teman-teman saya itu. Boro-boro belajar dan mengerjakan PR, malam haripun saya main sama teman-teman saya di lapangan.

SMP saya mulai merubah cara pandang saya tentang pendidikan, saya alhamdulillah berteman dengan teman-teman yang rajin belajar dan pintar. Akhirnya saya termotivasi penuh untuk pintar seperti teman-teman saya. Saya tidak merasa cerdas sehingga untuk pintar saya perlu bekerja keras, dan alhamdulillah lagi nilai saya meningkat dan saya selalu masuk 10 besar selama SMP. Mungkin saya termotivasi karena waktu SMP saya sudah aktif di organisasi Pramuka dan anggota Osis. Bagi saya organisasi sangat mempengaruhi semangat saya untuk lebih rajin lagi dalam belajar.

Meningkat ke SMK saya lebih rajin dan lebih semangat lagi dalam belajar, selain karena dapat teman yang baik saya juga menemukan seorang guru yang sangat perhatian dengan saya. Perhatian dalam banyak hal baik masalah organisasi maupun masalah pelajaran. Guru tersebut adalah guru Al-Islam, guru yang benar-benar memberikan inspirasi dan memberikan banyak pelajaran tentang ilmu agama. Saya sangat salut dan bangga mempunyai guru sepertinya, sosok yang sangat saya hormati dan teladani. Selain dapat guru baik tersebut, saya juga mempunyai teman dekat yang cukup memotivasi saya. Teman saya tersebut aktif di organisasi Pramuka dan IRM bareng saya, dan dia adalah orang yang terpandai di sekolah saya. Dia orang luar biasa yang pernah saya kenal: dia cantik, anak orang terhormat, pintar, aktivis, dan peduli dengan temannya. Sayang dia tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena alasan jenis kelamin perempuan. Ortunya menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, sedangkan laki-laki wajib sekolah sampai tinggi.

Kuliah sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, karena iklim belajar di kampus berbeda dengan di sekolah SMP dan SMA. Saya lebih semangat lagi belajar di perguruan tinggi, karena belajar di perguruan tinggi jauh lebih santai dan menyenangkan. Yah meski tidak pintar banget minimal saya bisa lulus kuliah tepat waktu. Lumayan bisa meringankan beban orang tua, maklum ibu saya hidup seorang diri tanpa suami lagi.

Jadi sekali lagi bodoh itu bukan takdir, dan pintar juga menurut saya bukan takdir. Semuanya bisa diupayakan dan diusahakan dengan niat dan kesungguhan kita. Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dalam keadaan bodoh, karena Tuhan maha menyukai kecerdasan dan kepintaran. Selamat mencoba menjadi pintar dan cerdas, dan selamat mencoba untuk meninggalkan kedunguan dan dunia kebodohan, dengan ilmu tentunya.
Continue Reading...

Wednesday, January 13, 2010

Merah Putih Saykoji...

merah putih berkibar begitu gagah
cerminan akan bangsa yang perkasa
kuhormati dengan penuh rasa bangga
indonesiaku bersatu sepanjang masa

merah putih, hormaat grakkk!
buat semua bangsa lain tersentak
kibarkan sang saka dengan serentak
harumkan nama ibu pertiwi serempak

di bawah langit biru berkibar tertiup angin
bangga jadi orang indonesia ku semakin
terpacu tuk memajukan bangsa
tunjukkan kita kuat kita bukan mangsa

berbeda suku, beda golongan dan agama
bhinneka tunggal ika kami yang pertama
bahu membahu bimbing saling membimbing
berat sama dipikul ringan sama dijinjing

ini nusantara kita satu darah
satu nusa bangsa bahasa dan satu arah
takkan kulupakan selama lamanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!

merah putih berkibar begitu gagah
cerminan akan bangsa yang perkasa
kuhormati dengan penuh rasa bangga
indonesiaku bersatu sepanjang masa

apapun mereka bilang tekadku takkan hilang
jalanku masih panjang garis akhir kupandang
jangan lupa kita macan asia
pancasila kita yang menjadi rahasia

untuk bisa bersatu dalam satu semangat
untuk membela tanah air semua berangkat
tak lupakan keringat dan darah yang tertumpah
dari para pahlawan negriku aku bersumpah

memegang erat bendera merah putihku
singsingkan lengan baju jauh lebihi siku
untuk bang-sa-ku, aku berkarya
sumber a-lam-ku begitu kaya

kami tidak takut, garuda di dadaku
semangat empat puluh lima, ada padaku
aku tergugah untuk berani rasanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!

merah putih berkibar begitu gagah
cerminan akan bangsa yang perkasa
kuhormati dengan penuh rasa bangga
indonesiaku bersatu sepanjang masa

Syair lagu Saykoji di atas sungguh luar biasa dan membuat saya menitikkan air mata dengan tulus. Sebuah lagi semangat dan cinta tanah air. Sebuah lagu persembahan berharga buat para generasi muda yang tengah pesimis menghadapi kondisi bangsa yang selalu terpuruk dalam berbagai bidang kehidupannya.

Masing-masing orang punya hak untuk mengklaim Indonesia ini, meskipun sebenarnya klaim tidak layak kita tujukan kepada negeri sendiri. Tapi apa mau dikata jika keadaannya memang demikian, bahwa Indonesia memang layak diklaim dan di justifikasi.

Indonesia memang negara dengan beragam persoalan, Indonesia memang negara yang saat ini belum begitu layak untuk dibanggakan secara sempurna. Terlalu malu rasanya untuk mengakui kelebihan-kelebihan bangsa Indonesia yang sesungguhnya memang ada. Kelebihan-kelebihan itu tertutupi oleh banyaknya kekurangan-kekurangan.

Tetapi benar yang dikatakan Saykoji, seperti apapun Indonesia kita, kita tetap harus bangga menjadi warga negara Indonesia. Kita harus salut dan tetap optimis dalam menyongsong masa depan. Kita harus terus maju menggapai cita-cita dan asa. Tidak ada alasan untuk terpuruk dalam pesimisme dan kemandulan berfikir. Teruslah berkarya dan berbakti untuk memajukan negeri ini. Karena jika bukan kita sebagai generasi muda, siapa lagi yang akan peduli??

Bukan salah pancasila atau hukum yang ada, bukan pula salah generasi muda yang tengah layu dan terpuruk melihat kondisi bangsa Indonesia. Ada satu kesalahan besar yang mustinya disadari secara bersama-sama, bahwa sistem yang ada di Indonesia telah mendarah daging dan hampir membusuk. Bahkan sudah hampir mengeluarkan belatung dari kebusukan tersebut.

Bukan tidak bisa dirubah, karena tidak ada yang mustahil di dunia ini. Semua bisa diperbaiki menjadi lebih baik lagi. Tentu dengan usaha yang keras dan proses yang tidak cepat. Semua harus saling bekerjasama dan saling bahu-membahu. Singkirkan ego masing-masing individu dan satukan ego kelompok. Bangkitlah atas nama masa depan bangsa Indonesia tercinta.

Terima kasih Saykoji telah memberi saya inspirasi yang luar biasa, syair-syair lagumu begitu menggetarkan jiwa saya sebagai seorang pengajar PPKn. Saya memang tidak begitu mengenalmu Saykoji, saya mengenalmu lewat lagu jomblo dan kecoak. Kala itu saya sedang main di tempat teman yang kebetulan penjaga persewaan novel dan komik. Dia menawarkan mengirim lagu itu kepada saya, awalnya saya menolak karena saya tidak mengenal lagu-lagu Saykoji. Tapi teman saya tetap maksa mengirim lagu tersebut, akhirnya lagu tersebut masuk ke HP saya.

Saya dengarkan berulang-ulang ketika mengendarai sepeda motor, ternyata lagu jomblo dan kecoak cukup unik dan lucu. Saya jadi agak tertarik untuk melihat-lihat koleksi lagu-lagu Saykoji, dan saat itu tiba-tiba saya yakin bahwa lagu-lagu Saykoji yang lain pasti tidak kalah bagusnya dari jomblo dan kecoak. Mulailah saya mendownload lagu-lagu lain seperti: merah putih, andai aku bisa, online, so waht gitu loh, pengen kurus, dan lain-lainnya. Luar biasa kawan, lagu-lagu Saykoji sungguh luar biasa dan menggugah semangat saya untuk berekspresi lebih baik dan lebih sempurna lagi.
Continue Reading...

Tuesday, January 12, 2010

Jalan Menuju Syurga...

Jalan menuju syurga tentu sangat banyak dan bermacam-macam, sehingga poligami yang dianggap sebagai jalan menuju syurga menurut saya sangat berlebihan dan hanya sebagai alasan semata-mata. Beberapa jalan menuju syurga diantaranya yaitu: membangun masjid, membangun musholla, menyantuni anak yatim, menyantuni para jompo, memberi beasiswa untuk pelajar pandai, memberi bantuan buat pelacur, memberi bantuan kepada pengemis dan jalan lainnya yang masih banyak lagi.

Sore itu saya menuju rumah Pak Nusa dosen Filsafat Ilmu Lanjutan untuk menyerahkan tugas makalah yang terlambat saya serahkan. Saya ke rumah Pak Nusa bersama dengan teman sekelas yaitu Pak Kerdit, beliau adalah dosen universitas kristen indonesia yang juga belum menyerahkan tugas makalah. Saya dan Pak Kerdit menggunakan dua motor, dan sekitar pukul 19.00 saya tiba di Bekasi Timur. Kami berdua menemui masalah yaitu alamat yang dikasih teman kami ternyata salah, dan kami berdua sempat muter-muter untuk mencari alamat Pak Nusa. ALlhamdulillah setelah lelah mencari akhirnya kami berdua menemukan rumah Pak Nusa.

Saya pribadi bangga dengan koleksi rumah Pak Nusa yang sangat meriah dengan segala pernak-perniknya, ternyata rumah Pak Nusa bergandengan dengan Play Group pribadinya. Pak Nusa juga mempunyai TK di beberapa tempat, juga membangun masjid untuk sholat warga sekitar masjid. Beliau bercerita bahwa hidup harus berguna untuk banyak orang, karena hidup hanya satu kali. Masih kata beliau tidak harus alim secara fisik, tetapi alim secara substansial sudah sangat bernilai dan cukup.

Beliau juga menceritakan tentang natal, perbedaan dan cara mengajari anak-anaknya agar menghargai pluralitas. Beliau mengajarkan bahwa hidup berdampingan tidak perlu melihat latar belakang agama tetapi lebih baik melihat persamaan-persamaan yang dimiliki. Beliau bercerita bahwa beliau suka bagi-bagi vcd natal bagi tetangga yang merayakan natalan. Sungguh akan membahagiakan jika semua orang berprinsip sama seperti Pak Nusa.

Pada prinsipnya saya sepakat bahwa hidup ini harus berguna dan bermanfaat untuk banyak orang, karena hidup kita memang hanya satu kali saja. Tentu berguna itu pasti sama secara makna, bahwa semua orang pasti membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa melibatkan orang lain. Sehingga menolong dan memberikan manfaat untuk banyak orang adalah bukan lagi pilihan tetapi hampir seperti kewajiban.

Terima kasih Pak Nusa telah memberikan makna tanpa sengaja kepada saya secara pribadi, saya tahu dan pasti semua orang tahu bahwa di Jakarta sebagai ibu kota masih banyak persoalan-persoalan kemiskinan yang harus diselesaikan. Persoalan kemiskinan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi dalam realitasnya pemerintah seolah lepas tangan dan tidak mampu menyelesaikan persoalan itu dengan sempurna.
Continue Reading...

Banjir...

Jam 15.00 wib saya selesai kuliah Metode Penelitian oleh Dr. Kadir, rencana saya akan langsung meluncur ke kampus Pasar Rebo untuk mengajar kelas intensif geografi. Turun dari lantai tiga saya menuju ke pintu depan kampus pasca sarjana UNJ. Saya baru sadar bahwa ternyata hujan sangat deras sehingga saya memutuskan untuk menunggu hujan reda hingga pukul 15.45 wib. Saya tahu saya pasti terlambat ke Pasar Rebo, tapi batin saya bicara apa salahnya mencoba untuk tetap datang meskipun terlambat. Saya menghubungi mahasiswa saya untuk tetap menunggu meskipun saya terlambat, dan mahasiswa sepakat untuk tetap menunggu saya hingga sampai kampus Pasar Rebo.

Setelah agak reda saya meluncur dengan menggunakan mantel baju saya yang tidak menutupi kaki, mantel itu hanya sampai lutut dan jika dipakai pun pasti rok saya tetap basah kuyup. Tapi bayangan saya dari pada tidak memakai apa-apa mending mantel itu tetap saya pakai. Saya meluncur lewat jalan Cawang lurus ke Uki kemudian melewati Clilitan, Pasar Kramat Jati dan terakhir di Pasar Rebo. Boro-boro sampe Pasar Rebo jalanan direndam oleh banjir yang hampir selutut. Saya awalnya nekat menerobos banjir tersebut dan tidak ada bayangan akan mogok, ternyata prediksi saya salah dan hari itu saya belum beruntung. Motor saya mogok dan sama sekali tidak mau jalan, alhamdulillah ada bapak-bapak yang berhenti dan menolong memebetulkan motor saya.

Ternyata saya baru sadar bahwa yang mengalami kemogokan bukan hanya saya, motor-motor dibelakang saya juga banyak yang mogok. Setelah dibetulkan kurang lebih selama 15 menit saya mencoba melanjutkan perjalanan dan sebelum itu saya menghubungi mahasiswa saya untuk pulang dan mencari tugas di rumah. Bukan tidak yakin tapi jam sudah menunjukkan pukul 16.30 wib, saya takut saja jika di depan banjir lebih parah lagi. Karena saat itu hujan belum berhenti dan masih mengucur dengan derasnya.

Ternyata dugaan saya benar, di depan mata saya selang 300 meter air menggenang cukup tinggi dan lagi-lagi saya harus menerobos air tersebut. Kontan motor saya mogok lagi dan sayapun harus menghentikan motor sebentar untuk memperbaikinya. Lagi-lagi motor yang lainpun banyak yang mogok, sehingga jalanan ketika itu sudah seperti bengkel berjalan. Masing-masing orang saling tolong-menolong dan bahu-membahu satu sama lain, persis seperti yang diajarkan dalam konsep pancasila.

Saya sempat jatuh karena licin dan jalanan begitu macet, saya terjatuh waktu mau naik ke jalur bus way. Motor saya tidak kuat ngangkat bodynya dan saya terpeleset dengan cepat, kaki kanan saya lecet-lecet dan agak sedikit ketekuk. Tidak ada yang menolong dan saya memaklumi ditengah kondisi macet dan panik seperti saat itu. Saya tetap sabar melanjutkan perjalanan, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib dan saya masih terjebak ke dalam kemacetan.

Normal perjalanan Rawa Mangun Bintaro paling lama hanya satu jam, saat itu saya sudah dua jam dan masih berada di daerah Uki. Ternyata kemacetan sudah mengelilingi Jakarta, dan untuk bisa sampai ke Bintaro saya membutuhkan waktu sekitar empat jam. Sungguh luar biasa Jakarta, persoalan jalan tidak hanya macet dan polusi tetapi juga persoalan banjir dan sampah. Seingat saya hujan tidak terlalu lama tetapi akibatnya sudah sungguh luar biasa yaitu banjir yang tinggi dan cukup lama.

Sepertinya Gubernur DKI Jakarta harus cepat melakukan strategi yang jitu dan tepat guna untuk mengatasi banjir di Jakarta. Proyek pembuatan taman dan sejuta bunga adalah proyek yang sangat mulia dan harus segera diwujudkan, termasuk membuang sampah pada tempat yang disediakan, meski terkadang susah mencari tempat sampah di Jakarta. Tentu masalah banjir bukan hanya masalah Gubernur semata, tetapi menjadi masalah bersama yang juga harus diselesaikan secara bergotong-royong dan bahu-membahu. Karena harus diakui secara jujur bahwa terkadang masyarakat sendiri belum memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
Continue Reading...

Sunday, January 10, 2010

Full Activities...

Pagi hari saya sudah harus sampe sekolah, dan pagi itu ternyata sangat pagi bagi bagiku karena saya harus mengajar di smu pukul 06.30. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlambat meskipun malam harinya saya pulang malam dan kecapean. Alhamdulillah hari itu saya tidakt terlambat dan bahkan termasuk datang kepagian kurang lebih 15 menit. Saya langsung absen dan langsung meluncur naik ke lantai tiga ruang guru. Ternyata di ruang guru ada yang lebih pagi lagi yaitu bu yani dan pak rusdiono.

Pukul 06.30 saya langsung masuk kelas dan mulai mengajar, seperti biasa saya berbasa-basi dulu dengan murid saya dan sedikit bercerita tentang hal-hal yang menurut saya layak untuk diperbincangkan bersama teman-teman smu saya. Usai mengajar dua kelas sekita pukul 09.30 Wib dan saya harus segera menuju ke LG untuk mengecek apakah hp saya sudah kelar di servise. Kelar dari LG Blok M saya langsung ke Rawa Mangun untuk ketemu dan berkonsultasi dengan Dokter Erna, yaitu Dokter spesialis kulit (kecantikan).

Pukul 11.00 saya sudah duduk di bangku panjang khusus untuk pelanggan setia Dokter Erna. Saya mengambil nomor antrian dan membayar uang untuk faical dan vitamin jerawat. Saya agak panik karena pukul 13.00 saya sudah harus sampai ciledug untuk mengajar di STAI Bina Madani Tangerang. Sementara antrian saya nomor urut 135 dan yang dipanggil baru setengahnya. Sambil sedikit panik saya memutuskan untuk tidak membayar terlebih dahulu dan hanya mengantri untuk ditusuk jarum di wajah oleh Dokter Erna. Alhamdulillah Dokter Erna menyarankan saya agar mengikuti dia, dia yang akan langsung menangani saya tanpa saya harus antri terlebih dahulu. Ini terjadi bukan kong kalikong tetapi lebih pada saya adalah pasien lama yang sebenarnya sudah tidak berjerawat dan tiga bulan terakhir ini sedang menanggung musibah berupa jerawat.

Saya langsung mengikuti Dokter Erna menuju ruangan lain yang berbeda bersama dengan tiga pasien lainnya yang juga ditangani oleh Dokter Erna. Saya langsung masuk dan ambil posisi aman di kasur pasien, kasur pesakitan tempat pasien yang berjerawat akan disiksa oleh jarum jerawat. Bagi yang tahan dia akan diam saja, bagi yang tidak tahan dijamin dia akan berteriak karena kesakitan saat jerawatnya dipencetin oleh sang Dokter. Saya mendapat bagian kedua dan Dokter bilang bahwa jerawat saya harus dibakar, tidak hanya sekedar dimasker atau di faical saja. Karena jerawat saya yang sekarang berbeda dengan jerawat yang kemaren-kemaren.

Sambil sedikit panik saya memutuskan untuk tidak membayar terlebih dahulu dan hanya mengantri untuk ditusuk jarum di wajah oleh Dokter Erna. Alhamdulillah Dokter Erna menyarankan saya agar mengikuti dia, dia yang akan langsung menangani saya tanpa saya harus antri terlebih dahulu. Ini terjadi bukan kong kalikong tetapi lebih pada saya adalah pasien lama yang sebenarnya sudah tidak berjerawat dan tiga bulan terakhir ini sedang menanggung musibah berupa jerawat.

Saya langsung mengikuti Dokter Erna menuju ruangan lain yang berbeda bersama dengan tiga pasien lainnya yang juga ditangani oleh Dokter Erna. Saya langsung masuk dan ambil posisi aman di kasur pasien, kasur pesakitan tempat pasien yang berjerawat akan disiksa oleh jarum jerawat. Bagi yang tahan dia akan diam saja, bagi yang tidak tahan dijamin dia akan berteriak karena kesakitan saat jerawatnya dipencetin oleh sang Dokter. Saya mendapat bagian kedua dan Dokter bilang bahwa jerawat saya harus dibakar, tidak hanya sekedar dimasker atau di faical saja. Karena jerawat saya yang sekarang berbeda dengan jerawat yang kemaren-kemaren.

Sambil di faical saya berfikir bahwa rutin ke Dokter juga pasti akan memberatkan bagi orang-orang yang tidak mampu, apalagi bagi perempuan rumah tangga yang tidak bekerja sama sekali. Pasien Dokter Erna jumlahnya sangat banyak dan saya mengamati tidak semua dari kalangan orang berduit. Masih mending kalau suaminya mendukung dengan memberi uang, akan sangat menyedihkan jika suami menuntut istrinya cantik tetapi dia tidak memberi uang sepeserpun untuk ke Dokter kulit wajah.

Pasien Dokter Erna beragam usianya, dari yang masih SMP, mahasiswa, karyawan, artis, dan ibu-ibu rumah tangga biasa. Dokter Erna buka full seminggu penuh, dan meski sudah seminggu dibuka pasien Dokter Erna tiap harinya bisa mencapai angka seratus lebih. Masing-masing pasien kurang lebih habis 100.000-150.000. Sebenarnya harga yang relatif agak terjangkau oleh kantong manapun, apalagi obat-obatnya bisa dipakai selama sebulan penuh.

Sambil di faical saya berfikir bahwa rutin ke Dokter juga pasti akan memberatkan bagi orang-orang yang tidak mampu, apalagi bagi perempuan rumah tangga yang tidak bekerja sama sekali. Pasien Dokter Erna jumlahnya sangat banyak dan saya mengamati tidak semua dari kalangan orang berduit. Masih mending kalau suaminya mendukung dengan memberi uang, akan sangat menyedihkan jika suami menuntut istrinya cantik tetapi dia tidak memberi uang sepeserpun untuk ke Dokter kulit wajah.

Pasien Dokter Erna beragam usianya, dari yang masih SMP, mahasiswa, karyawan, artis, dan ibu-ibu rumah tangga biasa. Dokter Erna buka full seminggu penuh, dan meski sudah seminggu dibuka pasien Dokter Erna tiap harinya bisa mencapai angka seratus lebih. Masing-masing pasien kurang lebih habis 100.000-150.000. Sebenarnya harga yang relatif agak terjangkau oleh kantong manapun, apalagi obat-obatnya bisa dipakai selama sebulan penuh.

Sambil difaical saya mencoba berspekulasi kepada Dokter Erna tentang jerawat saya yang tiga bulan terkhir ini tumbuh subur. Saya bilang ke Dokter mungkin penyebabnya karena: debu jalan, kurang tidur, atau karena cuci muka tidak bersih. Kata Dokter Erna mungkin penyebabnya faktor makanan atau stress. Bicara stress saya jadi ingat jangan-jangan saya memang lagi stress karena ambil s3. Dokter Erna tertawa dan akhirnya bercerita bahwa pasiennya yang kebetulan presenter televisi juga sedagn jerawatan, dan katanya dia stress gara-gara sedang ngambil s3 juga.

Selesai dirawat alias dibakar jerawat saya, saya langsung berpamitan kepada Dokter Erna untuk segera meluncur ke Kampus STai Bina Madani Tangerang. Jam menunjukkan pukul 12.30 sedangkan saya harus ngajar pukul 13.00, saya tahu tidak akan sampai tepat waktu dan akhirnya saya menghubungi TU ijin datang terlambat. Saya jalan dan ketika baru sampai Dukuh Atas tiba-tiba hujan sangat deras dan saya terpaksa berhenti dulu untuk ngiyup sambil makan pecel lele dan es dawet durian. Tidak mengecewakan, ternyata sambal pecel lele di daerah Dukuh Atas sangat enak dan gurih saya sampai ketagihan ingin datang kesitu lagi. Selesai makan waktu sudah pukul 13.00 dan saya paham dengan sepenuh hati bahwa saya pasti benar-benar terlambat.

Saya jalan dan berusaha untuk ngebut agar tidak begitu terlambat sampai kampusnya, pukul 14.00 saya tiba di kampus Bina Madani Tangerang. Saya langsung masuk kelas dan segera meminta maaf kepada mahasiswa yang telah menunggu dengan ikhlasnya. Dan seperti biasa, mahasiswa pasti tidak akan marah dengan dosen. Karena bagaimanapun dosen bagi mahasiswa adalah manusia yang layak untuk dihormati. Tapi bagi saya, bagaimanapun saya harus tetap meminta maaf kepada mahasiswa saya atas keterlambatan itu. Bagaimanapun mereka punya hak untuk tidak didzalimi oleh saya sebagai dosen.

Selesai mengajar pukul 16.00 wib seharusnya saya masih harus bimbingan skripsi ke Mampang, tetapi saya merasa sudah tidak sanggup lagi meluncur ke Mampang. Bukan karena jauh tetapi lebih pada saya sudah tidak sanggup lagi melawan ngantuk saya ketika mengendarai motor. Fisik saya terlalu lelah dan mata sayapun kadang tidak bisa diajak kompromi. Sehingga saya akhirnya memutuskan untuk menghubungi mahasiswa saya, bimbingan saya alihkan hari senin sore. Alhamdulillah lagi-lagi otoritas dosen berkuasa dan mahasiswa langsung setuju dengan usulan saya. Saya terus terang bukannya bangga sebagai dosen, cuma saya berpesan untuk diri saya sendiri bahwa lain kali harus lebih pintar lagi mengatur waktu. Sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terkecewakan oleh saya baik sengaja maupun tidak sengaja.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog