Sunday, August 02, 2009

Kos DI Baitul Izzah...

awal kenapa saya bisa masuk kos baitul izzah karena saat daftar ulang saya ketemu sama mbak ana orang magelang yang waktu itu kalau tidak salah sudah dua tingkat di atasku. saya sebenarnya berharap bertemu dengan teman-teman imm karena kebetulan saya pengurus irm dari kelas satu smu. tapi karena ketemunya mbak ana ya sudah saya mengikutinya ketika dia menawarkan kos kepada saya. saya diajak ke patemon agak jauh dari kampus tapi masih terjangkau jika jalan kaki kurang lebih sekitar setengah kilo lebih, dan lebihnya berapa saya lupa, hehe.

ada beberapa hal yang membuat saya terkesan ketika kos di baitul izzah, dan akan saya coba rangkai dari cerita saya ini:

1. Masak bersama-sama

saya tidak tahu ini budaya dari mana, karena sewaktu smu saya tidak pernah ngekos. saya awalnya kaget ketika ada jadwal untuk masak, dan masaknya untuk semua anak kos yang jumlahnya sekitar dua belas orang. saya kaget karena tidak bisa masak dan karena iurannya sangat murah dibandingkan kita harus makan tiap hari di warung makan. meski tidak bisa masak akhirnya saya percaya diri karena masaknya bareng-bareng sama teman-teman yang lainnya, dan saya paling bertugas belanja atau mengiris-iris bahan yang mau di masak. lama-lama saya semakin sibuk di pw irm dan saya juga agak males karena memang saya benar-benar tidak bisa masak, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut masak bersama.

2. Sholat berjamaah

sholat maghrib, isya', dan subuh diusahakan dilakukan secara berjamaah. bahkan bagi yang mau disarankan untuk sholat malam sekitar pukul 03.00 pagi dini hari. saya meskipun agak males sholat berjamaah karena itu sudah aturan kos mau tidak mau ikut sholat berjamaah. imam selalu bergantian dan biasanya yang menjadi imam adalah mbak-mbak yang sudah senior, kalau seperti saya yang masih baru hanya menjadi makmum saja untuk sementara. mbak-mbak yang menjadi tanggung jawab mengimami juga bacaannya sudah lumayan bagus, dan dia punya kewajiban untuk selalu meningkatkan hafalan dan meningkatkan bacaannya.

3. Umi kos

umi kos adalah semacam ketua kos dan yang menjadi ibu pengganti dari anak-anak yang memang sedang jauh dari orang tua kandungnya. umi kos biasanya diambil dari yang paling tua dan paling bijaksana, meskipun mbak-mbak disana saya lihat hampir semuanya bijaksana. umi kos juga bertugas memantau seisi kos barangkali ada yang bermasalah secara pribadi, kuliah, maupaun keuangan. umi kos juga bertanggung jawab terhadap hal-hal lain seperti memimpin rapat dan mengur bagi anak kos yang pulang terlambat. semua penghuni kos menyayangi dan menghormati umi kos hampir seperti kakak sendiri.

4. Tadarus dan membaca al-ma'syurot

tadarus bareng dilakukan tiap hari setelah sholat maghrib, sedangkan al-ma'syurot dibaca rutin setelah sholat subuh. tadarus dilakukan sebagai kewajiban agar anak-anak kos semakin fasih bacaan ngajinya dan agar anak-anak kos lebih senang lagi untuk mengaji. sedangkan al-ma'syurot dibaca untuk keselamatan dan kesehatan anak-anak kos. sehingga karena alasan itu hampir tidak ada yang tidak ikut acara itu kecuali sedang tidak ada di kos.

5. Piket pekerjaan rumah

hampir semua hal sekecil apapun di kos tersebut sangat terjadwal dengan rapi, bahkan piket untuk menyapu lantai, menyapu halaman depan dan belakang, dan mengepelpun ada jadwalnya. meski sangat bosan dan tidak begitu suka diatur, saya tetap harus menjalankan aturan yang ada di kos tersebut. karena bagaimanapun saya harus komitmen dengan keputusan bersama, meski berat untuk melakukannya.

6. Guru untuk mengaji

saya bingung lama-lama, bahkan saya juga dicarikan guru untuk mengaji. bukan masalah saya sudah pinter mengaji, kalau untuk sekedar baca dan tajwid saya sudah agak paham. kalaupun masalah pelajaran-pelajaran agama, saya smu di muhammadiyah dan saat itu juga saya sedang aktif di organisasi dakwah yaitu pw irm jawa tengah. kalau gurunya adalah orang yang lebih tua jauh dalam artian memang biasa mengisi acara-acara pengajian sih tidak apa-apa. masalahnya menurut saya, guru ngajinya adalah senior saya yang juga masih kuliah di kampus, mohon maaf saja saya pikir saya dan dia juga masih sama-sama belajar agama islam. jadi alasan apa yang mengharuskan saya belajar mengaji sama dia?

karena banyak benturan dan ketidakcocokan saya dengan teman-teman kos, saya hanya bertahan selama setahun dan setelah itu saya memutuskan untuk pindah kos. meskipun dilarang saya tetap bersikeras dan tidak mempedulikan pelarangan dari mbak-mbak kos saya. apalagi waktu itu saya sedang patah hati gara-gara ditinggal meninggal oleh hartoyo teman dekat saya. sehingga saya merasa butuh suasana baru untuk menenangkan kembali pikiran saya yang sempat agak goyah dan kacau. saya berharap akan mendapatkan pencerahan dan kebahagiaan di kos baru saya.

oya saya lupa, saya punya teman satu kos sebut saja namanya siti, dia selain satu kos juga satu jurusan sama saya. orangnya pendiem, baik, sopan, lembut, dan suaranya sangat pelan. dia pernah mengeluh sama saya, bahwa dia pengen pindah jurusan tetapi harus menunggu sampai semester tiga. saya tanya kenapa siti mau pindah jurusan? dia tidak suka belajar di PPKn karena pelajaran-pelajaran di PPKn tidak islami. saya sangat kaget dengan jawaban siti yang menurut saya sangat aneh, kok bisa tidak islami? dari mana dia mempunyai pikiran sepicik itu? saya lebih bisa menerima ketika ada teman sejurusan juga yang ingin pindah ke ekonomi karena alasan tidak suka pelajaran PPKn bukan karena PPKn tidak islami. tapi biarlah, itu kan cara pandang siti bukan cara pandang saya, dan saya kita itu adalah hak siti sebagai individu. tapi secara pribadi dan juga sangat berharap, semoga tidak ada lagi orang-orang yang berfikir bahwa pelajaran PPKn tidak islami.
Continue Reading...

Acara Di Gedung Juang Nasional...

Siang itu sekitar pukul 11.30 wib hari rabu tanggal 29 Juli 2009, saya telah sampai di Gedung Juang Nasional daerah senin jakarta pusat. Hari itu ada seminar tentang menakar kepemimpinan bangsa indonesia di masa yang akan datang. Pembicaranya tidak diragukan lagi dan sangat ahli di bidangnya yaitu:
1. Bapak Frans Magnis Suseno
2. Bapak Azumardi Azra
3. Bapak Rizal Ramli
4. Bapak Syafi'i Ma'arif sebagai pengantarnya

Bukan hanya pembicaranya yang keren, pesertanya juga saya lihat keren-keren dan dari berbagai latar belakang seperti:
1. Aktivis organisasi
2. Dosen
3. Mahasiswa
4. Masyarakat
5. Pejabat
6. Dan beberapa cucu pejuang Indonesia

Saya pertama masuk ke Gedung Juang tersebut sedikit memaki diri sendiri dan sebel sama diri sendiri, hampir empat tahun saya di Jakarta tapi baru tahu bahwa ada Gedung Juang yang sangat sarat dengan suasana perjuangan. Saya hampir menangis dan trenyuh ketika melihat tingginya bangunan yang menjulang, apalagi setelah masuk ke aula tempat acara dimana di dinding-dinding terpasang photo-photo para pahlawan nasional Indonesia. Saya jadi teringah ketika menanyakan ke murid saya:
Saya: "Bagaimana pahlawan menurut kalian anak-anak?"
Murid: "Pahlawan adalah orang yang rela mati untuk negara Indonesia."
Saya: "Yang lainnya?"
Murid: "Pahlawan adalah orang yang berani dan tangguh serta berjuang sampai titik darah penghabisan".
Saya: "Yang lain lagi?"
Murid: "Pahlawan adalah orang yang tidak bisa dinilai jasa-jasanya."
Saya: "Sekarang saya tanya, jika tiba-tiba Indonesia di serang oleh musuh apa yang bisa kalian lakukan untuk Indonesia tercinta?"
Murid-murid: "Saya akan ikut membela Indonesia, saya akan berperang, saya akan mengatur rencana, saya akan bergabung dengan tentara Indonesia, saya akan rela mati untuk Indonesia."
Saya: "Jawaban kalian sungguh luar biasa anak-anak, saya salut sama kalian semuanya, kalau demikian berarti kalian siap untuk perang kan?"
(sunyi tidak ada yang menjawab)

Dari acara tersebut ada beberapa hal yang akhirnya mengganjal benak saya:
1. Politisi yang Negarawan atau Negarawan yang Ahli Politik

Bapak Syafi'i Ma'arif menyampaikan betapa orang telah memisahkan antara negarawan dengan politisi, sehingga politisi kerjanya hanya ngurusi politik sedangkan hanya negarawan saja yang saat ini bisa diandalkan oleh negara untuk membenahi negara menjadi lebih baik lagi. Beliau seperti ingin mengatakan bahwa masyarakat dan negara tidaklah perlu berharap banyak dari para politisi Indonesia saat ini, bukan karena tidak percaya tapi realitasnya memang mengatakan demikian. Dari pendapat beliau tersebut saya lebih berfikir secara agak khayal, bagaimana seandainya ada politisi yang negarawan? atau seorang negarawan yang juga ahli dalam bidang politik? Dalam benak subjektif saya, saya sangat mengharapkan ada orang-orang yang paham akan manajerial teknis negara sehingga bisa kita percaya untuk membangun negara dan dia juga seorang yang mempunyai sifat yang mulia sehingga hanya mementingkan urusan rakyat dibandingkan dengan urusannya sendiri.

Tentu itu bukan hanya harapan saya dan pastinya menjadi harapan semua orang, apalagi di tengah kondisi Indonesia yanga sangat terpuruk saat ini. Saya masih yakin dengan sepenuh hati, bahwa sebenarnya masih banyak orang-orang baik dan jujur yang layak memimpin negeri Indonesia tercinta. Orang baik dan jujur adalah orang yang benar-benar punya prinsip kuat sehingga tidak akan terpengaruh oleh sistem yang telah terbangun di Indonesia. Tapi saya tidak tahu, barangkali baik dan jujur menurut saya berbeda maknanya dengan baik dan jujur menurut orang lain. Karena saat ini orang hampir-hampir muak menafsir tentang kebaikan dan kejujuran.

2. Pasal yang di Khianati Oleh Negara

Saya ketika Bapak Syafi'i Ma'arif membacakan makalahnya sebagai pengantar acara saya menikmatinya dengan seksama, sampai pada paragraf terakhir saya baru kaget dan tersentak tentang beberapa kalimat yang ditegaskan oleh beliau yaitu: bahwa sila ke lima dari pancasila adalah pasal yang dikhianati oleh pemerintah Indonesia. Di khianati karena sila ke lima tentang: keadilan sosial bagi rakyat Indonesia tidak bisa terwujud dengan baik bahkan sama sekali tidak ada niat dari pemerintah untuk mewujudkan sila ke lima tersebut. Keadilan hanya seolah menjadi simbol kata yang hanya bisa didengungkan sebagai janji-janji bukan sebagai bukti nyata. Dan hampir semua orang menjanjikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, meski realitasnya keadilan belum memihak kepada orang-orang miskin. Hanya orang-orang tertentu yang mengecam keadilan, dan itupun jumlahnya sangat sedikit.

3. Tentang Ketuhanan yang Maha Esa

Dulu sila satu pancasila pernah agak ekstrim yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Saya bilang agak ekstrim karena Indonesia adalah negara dengan banyak agama dan dengan latar belakang dijajah yang cukup lama, sehingga akan sangat berat jika diberlakukan pasal tersebut. Bukan akan mendamaikan tetapi sepertinya justru akan lebih mengacaukan Indonesia. Saya lebih setuju dengan Ketuhanan yang maha esa karena maknanya lebih universal dan melindungi semua agama yang ada di Indonesia.

Kemudian selain dari masalah sila ketuhanan yang maha esa, saya juga berfikir tentang bagaimana keagamaan masyarakat Indoensia yang mayoritas Islam dan hampir semuanya memiliki agama. Baiknya tentu masyarakat beragama dan agamis kelakuannya, meskipun dalam realitasnya banyak orang-orang beragama yang tingkah lakunya tidak agamis. Bukan berarti saya sepakat dengan masyarakat yang tidak beragama tapi agamis ya? Saya hanya berfikir saja, kok bisa ada ya masyarakat yang tidak beragama secara teks tetapi tingkah lakunya sangat agamis dan mulia. Saya kita itu patut untuk di diskusikan lebih jauh dan lebih detail lagi, supaya semua orang bisa paham bahwa agama itu tidak hanya secara tekstual tetapi juga harus kontekstual.

4. Tentang Seniman yang Merasa Terpinggirkan

Saya bukan seniman dan saya juga belum lama kenal dengan beberapa seniman, mereka pernah cerita ke saya betapa kadang pemerintah seperti mencampakkan keberadaan para seniman. Mereka merasa bahwa pemerintah kurang peduli dan membantu mereka dalam mengembangkan karya-karyanya. Padahal karya yang mereka ciptakan benar-benar tulus untuk membangun negeri Indonesia tercinta. Saya bilang aja ke teman saya itu, bahwa pemerintah terlalu banyak kerjaan dan terlalu sibuk sehingga tidak mungkin mengurusi semua masalah yang ada di Indonesia. Atau jangan-jangan karena di Indonesia terlalu banyak masalah, sehingga pemerintah kebingungan mau menyelesaikan yang mana dulu.

5. Rendahnya Semangat Nasionalisme anak Muda

Saya tidak tahu kenapa anak-anak smu begitu tidak peduli dengan masalah-masalah di negerinya. Negeri yang seharusnya dicintainya dengan segenap hati dan jiwa. Apakah karena orang tua mereka tidak pernah mengajari untuk mencintai Indonesia? Saya kira tidak mungkin ada orang tua yang mengajarkan anaknya untuk membenci Indonesia. Atau memang mereka telah melihat sendiri bagaimana buruknya tatanan sistem di Indonesia dan kemudian mereka memunculkan sendiri pandangannya tentang Indonesia? Bisa jadi, karena smu memang bukan anak kecil lagi bahkan mereka sudah sangat dewasa. Apapun alasannya, saya melihat betapa rendahnya semangat nasionalisme anak-anak smu sekarang. Dan karena alasan itu, semua orang tua dan semua guru berkewajiban mengarahkan anak-anaknya dan murid-muridnya agar lebih bisa menghargai negeri Indonesia. Bukan hanya menghargai tetapi juga berfikir untuk memberikan yang terbaik bagi negerinya tercinta.

Selesai acara saya mencoba melihat beberapa orang yang masih tinggal sama seperti saya. Betapa semangatnya mereka dengan seminar ini, dan saya melihat ketulusan-ketulusan mereka untuk membangun negeri Indonesia yang sudah kehilangan banyak kepercayaan bahkan dari rakyatnya sendiri. Tapi dengan lantang saya katakan: saya masih percaya dengan negara Indonesia dan saya tetap semangat memberikan cinta saya untuk Indonesia tercinta. Sebelum mulai acara saya sempat ditawari panitia untuk jadi dirijen lagu Indonesia raya, saya benar-benar tidak bisa sehingga saya menolak tawaran panitia. Saya kaget ketika dia bilang: "berarti tidak nasionalis dung?" Saya kaget bukan karena marah tetapi saya malah mencoba untuk mereview diri sendiri, jangan-jangan meskipun saya guru PPKn saya memang benar-benar belum nasionalis?
Continue Reading...

Tuesday, July 28, 2009

Terorisme...

secara kasat mata dan secara kasat telinga pasti tidak ada yang sepakat dengan kata terorisme. karena hampir semua orang ngeri dan tidak enjoy mendengar kata-kata terorisme didengungkan di telinga semua orang. gimana mau nyaman kalau terorisme sendiri adalah kelompok/komunitas yang punya kerjaan meneror orang-orang, atau negara yang bersalah menurut mereka tapi sama sekali tidak bersalah menurut orang-orang yang berfikir secara logis dan dengan hati.

tidak usah saya jelaskan secara gamblang, semua sudah tahu tentang kejadian pengeboman di indonesia yang terjadi tidak hanya satu kali tetapi sudah berkali-kali. semua mata terbelalak dan semua telinga mendengarkan. bahkan orang-orang alim yang pernah mengajarkan makna jihadpun ikut tersentak kaget dengan tindakan para terorisme.

ada beberapa perkiraan kenapa terorisme melakukan pengeboman:
1. jihad
mereka beranggapan bahwa bunuh diri untuk kemaksiatan adalah jihad dan akan masuk syurga. sementara kemaksiatan bagi mereka berbeda dengan kita secara umum. mereka menganggap orang luar negeri itu layak diperlakukan dengan hina sementara mereka tidak paham bahwa orang luar negeri yang ada di indonesia juga mempunyai banyak fungsi untuk indonesia misalnya: pengusaha asing, investor, orang yang mempelajari budaya indonesia, atau wisatawan asing.

2. cita-cita masuk syurga
beberapa dari pelaku bom memiliki cita-cita mati masuk syurga, dan mereka menganggap bahwa bunuh diri dengan bom adalah syahid dan syahid bisa membawanya ke syurga.

3. kebencian terhadap orang asing dan usaha-usaha punya asing
kebencian terhadap orang asing tidak berdasar dan terhadap usaha-usahanya pun sangat tidak berdasar, karena bangunan asing yang ada di indonesia hanya hak guna bangunan, sedangkan karyawannya hampir mayoritas orang indonesia asli.

4. rasa nasionalisme yang rendah
jika orang tersebut mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi, dia pasti akan berfikir ulang untuk mengorbankan diri dengan kesia-siaan. nasionalisme tentunya seharusnya semua wni mencintai indonesia dengan tulus dan tanpa pamrih. seburuk apapun indonesia pasti akan dibela di depan umum dan di depan negara lain. bahkan yang ekstrimnya, wni rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara meski dalam hal yang sepele. ini boro-boro berkorban, bahkan dia rela menyakiti hati orang-orang yang tidak bersalah tanpa ampun dan kompromi.

5. campur tangan orang asing
saya heran jika ada orang indonesia yang mau diperbudak oleh orang asing, maksudnya kita itu bangsa yang besar dan punya harga diri sehingga tidak pantas disetir oleh orang asing. bangsa yang besar adalah bangsa yang warga negaranya mandiri dan punya prinsip. punya prinsip berarti wni yang tangguh dan tidak mudah tergoda oleh rayuan dan bujukan dari orang luar yang tidak bertanggung jawab.

untuk mengatasi terorisme, semua komponen harus bahu-membahu bekerjasama. tidak bisa berdiri sendiri dan saling menyalahkan. pemerintah, aparat, dan masyarakat harus saling mendukung dan memberi motivasi untuk memberantas terorisme. supaya terorisme bisa dihapuskan dan di buang dari muka bumi.
Continue Reading...

Monday, July 27, 2009

Ayah Tidak Berhati...

Ada anak kecil usia sekitar 3tahun namanya tegar, dia adalah korban kebiadaban sang ayah tiri. sang ayah tiri sedang merasa bermasalah dengan istrinya, tiba-tiba sang ayah tiri membawa tegar ke rel kereta api dan meletakkan tegar di rel. dan karena ulah ayah tiri tersebut, tegar kehilangan kaki kanannya. untung tegar masih selamat meski kaki kanannya telah diamputasi.

saya sedang mikir saja, kira-kira bapak tiri tegar tersebut manusia atau bukan ya? karena kalau dia manusia dia pasti tidak akan tega melakukah hal tersebut. karena akibat dari kelakuannya tersebut telah menghancurkan masa depan tegar yang masih sangat panjang.

kata teman saya sang bapak tersebut sedang khilaf dan minta kepada saya untuk mendoakannya. saya bilang saja gak mungkin kalau khilaf, karena tegar itu kan anak yang masih sangat kecil. jika sang bapak punya mata hati, dia tidak akan tega ketika melihat anak kecil yang masih sangat polos. apapun alasan sang bapak tersebut, perbuatannya adalah perbuatan biadab dan tidak bisa dibenarkan.

oleh karena itu saya berharap agar kesalahannya bisa diganjar dengan ganjaran yang setimpal. sehingga tegar bisa puas melihat bapak tirinya yang sangat kejam. selain itu juga agar menjadi pelajaran bagi para bapak atau ibu yang begitu tega menyiksa anak yang tidak berdosa sama sekali.

bapak tiri tegar juga menurut saya terlalu sombong dan merasa bahwa dirinya adalah seorang suami. sehingga seolah-olah dia punya kuasa atas istri dan anak tirinya sekalipu. dengan tanpa hati dan kepekaan dia begitu teganya menghancurkan masa depan can cita-cita tegar. bukan apa-apa, saya heran aja kalau ada orang yang seperti itu. apakah dia tidak membayangkan jika itu terjadi pada dirinya, tiba-tiba dirinya dilindaskan di kereta dan kakinya tinggal satu. kenapa dia tidak membayangkan penderitaan yang akan dirasakan oleh tegar. hatinya begitu kejam dan busuk, hampir tidak punya belas kasihan sama sekali. manusia seperti itu tidak layak dimaafkan dan harus menerima penderitaan yang lebih dari tegar.
Continue Reading...

Sunday, July 26, 2009

Filosofi Hidup Seorang Kawan

saya tadi pagi ketemu seorang teman namanya hary. dia pernah bekerja di jepang selama 3 tahun. saya ketemu hary di pernikahan ike. ike adalah adek mbak eny. mbak eny adalah teman saya dan juga teman hary. karena lama menunggu ike yg sedang akad di kua, dan mbak eny sedang mandi, saya berbincang agak serius dengan hary.

dia menceritakan betapa bangganya melihat orang-orang jepang yang sangat baik dan berdedikasi kerja. di jepang agama tidak begitu terlihat secara nyata, tapi perilaku orang-orangnya sangat agamis. saya tanya sama hary: ketika ada orang beragama dan tidak beragama dan keduanya sama-sama baik, salah atau tidak untuk orang yang tidak beragama? hari menjawab: tidak salah, karena itu hak dia, tapi hary merasa kasihan karena orang baik harusnya mengerjakan ibadah, supaya kebaikannya tidak sia-sia.

dia jg berfikir bahwa sebaik apapun orang, dia tetep harus beribadah. meskipun akan menjadi sia-sia jika orang beribadah tapi nyusahin orang dan tidak memberi manfaat untuk orang lain. kalau soal kemanfaatan untuk orang lain saya sepakat, karena prinsip saya juga hidup harus selalu bermanfaat untuk orang lain.

saya melihat, temen saya mas hary sangat terinspirasi dengan kelebihan-kelebihan orang jepang seperti: disiplin, jujur, mempunyai jiwa pahlawan, dan bekerja keras.

ada satu kejadian yg jarang saya lakukan kecuali saya sedang insyaf. saat saya ngeluarin hp dari tas, tysu selembar saya jatuh ketanah, dan saya tidak mengambilnya karena alasan sudah kotor. tiba-tiba mas hary mengambil tysu tersebut dan langsung bilang: sayang mbak tysunya. upz, saya bengong dan bingung, kira-kira kenapa mas hary sampai melakukan hal itu. karena sayang sama tysu yang jatuh atau karena itu adalah sampah? sampai sesore ini saya belum menanyakannya ke hary. sungguh saya belajar banyak dari hary, juga dari mbak eny.

saya juga belajar dari mbak eny yang memiliki jiwa yang begitu mulia. dia bahkan tidak begitu tertarik dengan imej masyarakat tentang dirinya. saat itu yang menikah adeknya, dan orang-orang kerajinan mempermasalahkan tentang kenapa mbak eny dilangkahin adeknya? mbak eny bilang ke saya: hidup ini harus terus berjalan, jadi jalani saja dengan keramahan dan senyuman.
Continue Reading...

Thursday, July 23, 2009

Hari Anak 2009...

waktu saya smp, saya suka dengan guru pkk namanya bu sugiharti. dia sangat imut, cantik, lembut, dan sabar ketika sedang mengajar. awalnya saya menyukainya karena dia begitu menarik dan namanya sama dengan nama ibu saya. karena suka, saya bilang sama beliau bahwa saya sangat suka sama ibu. bibirnya yang mungil menyunggingkan senyum yang begitu tulus, dan beliaupun seperti tidak keberatan dengan pernyataan saya.

karena saya suka, saya berusaha menarik perhatian di pelajaran pkk. hampir setiap kali ulangan pkk nilai saya selalu bagus dan hampir mendekatis sempurna. beliaupun senang karena saya semangat belajar mata pelajaran pkk. saya selalu mencari beliau dan selalu merindukan beliau ketika beliau tidak hadir. bahkan saya sering mencari beliau ke kantor untuk sekedar melihat mukanya yang sangat ayu.

saya hampir tidak tahu kenapa saya begitu memujanya, mungkin alasan dasarnya benar bahwa saya menyukainya karena nama beliau sama dengan nama ibunda saya. tapi sayang, beliau mengajar saya cuma satu tahun dan setelah itu beliau pindah tidak tahu ke sekolah mana. saya sedih dan hampir kehilangan semangat untuk belajar, meskipun akhirnya saya bisa sedikit melupakan beliau.

sewaktu smea muhammadiyah lagi-lagi saya jatuh hati kepada guru perempuan saya namanya bu nariyah. bu nariyah mengajar mata pelajaran akuntansi biaya. kebetulan saya jurusannya akuntansi sehingga saya sering bertemu dengan bu nariyah. saya sayang banget sama bu nariyah karena bu nariyah adalah guru yang sangat baik, lembut, dan sabar mengajari murid yang tidak paham akuntansi.

karena saking dekatnya dan karena kebetulan beliau tahu saya pengurus irm/osis, beliau juga respon sama saya. beliau juga bisa ngertiin saya seandainya saya tidak masuk karena kegiatan dan seandainya saya ulangannya susulan. saya sangat senang belajar mata pelajaran akuntansi biaya, meski sebenarnya saya tidak begitu suka pelajaran berhitung.

waktu kuliah di unnes, lagi-lagi saya mengidolakan dosen saya kali ini dosennya laki-laki. beliau adalah pak yahmo dosen filsafat dan logikan. saking senengnya dengan pak yahmo saya selalu serius setiap kali ada mata kuliah pak yahmo. bahkan nilai saya tidak pernah b atu c tetapi selalu a. saya juga selalu merindukan kedatangan pak yahmo dan bersiap mengajak beliau diskusi tentang dinamika kehidupan yang banyak dengan pertanyaan-pertanyaan.

selain pak yahmo, saya juga dengan dosen yang bernama pak marno. beliau dosen muda yang sangat apresiatif dengan mahasiswa yang aktif di kampus maupun di luar kampus. beliau rumahnya di kudus dan saya beberapa kali main kerumahnya untuk sekedar berdiskusi tentang wacana-wacana kampus atau wacana-wacana kehidupan yang dekat dengan politik.

saat s2 di uhamka saya kenal dosen namanya bapak nur abu bakar, beliau juga termasuk dosen yang sangat menyenangkan menurut saya. beliau terasa sangat menyenangkan karena beliau sangat sabar dan benar-benar membantu thesis saya. beliau juga mensuport saya untuk terus melanjutkan kuliah hingga menjadi seorang doktor. kata beliau saya masih muda sehingga harus optimis menjalani hidup dan kehidupan ini.

saya sering mengidolakan orang yang menurut saya memang layak saya idolakan. bahkan iwan fals termasuk tokoh yang saya idolakan. saya sangat bangga dengan sosok orang yang lebih tua dengan saya dan sosoknya memang layak untuk diteladani. meskipun kebaikan yang saya lihat terkadang sangat subjektif dan belum tentu orang sepakat dengan cara pandang saya.

misalnya kesukaan saya terhadap ibu sugiharti yang berlebihan bagi teman-teman saya sangat tidak wajar dan tidak masuk akal. tapi saya merasa bahwa saya memang benar-benar ingin menyayangi ibu sugiharti. sama halnya ketika saya menyukai iwan fals, bagi orang yang tidak suka iwan fals mereka menganggap kesukaan saya terlalu berlebihan. tapi lagi-lagi saya berfikir bahwa menyukai iwan fals adalah hak saya.

dari beberapa orang yang saya idolakan diatas, saya sempat berfikir kenapa saya begitu rupa mengidolakan orang? saya sempat heran dengan diri saya sendiri yang begitu cepat suka sama orang yang memang bisa saya contoh. ternyata jawabannya satu, bahwa bapak saya meninggal sejak saya usia 7 tahun, dan karena ibu saya sibuk bekerja untuk menghidupi saya dan adek saya, maka saya diasuh oleh mbah saya namanay mbah juminah.

teman, ini refleksi buat diri saya pribadi bahwa ternyata saya sadar dengan sepenuh hati, bahwa saya sangat merindukan kasih sayang dari kedua orang tua saya yang utuh. tapi karena keadaanlah saya tidak mendapatkan itu. saya hanya disayangi oleh mbah ju dan beliaupun hidup seorang diri karena suaminya jarang ada di rumah. apalagi suami mbah ju yang juga mbah kakung saya, mempunyai istri lain selain mbah ju. sehingga mbah kakungku harus berbagi waktu dan cintanya dengan istri pertamanya.
Continue Reading...

Sunday, July 19, 2009

Keakuan Orang...

saya kadang mengamati orang ketika sedang asyik ngobrol, mungkin kadang kita tidak sadar bahwa keakukan kita juga tidak disukai oleh orang, tapi saya sering melihat dan mengamati keakuan orang yang sedang ngobrol dengan kita. itulah jeleknya manusia, mengamati orang tapi tidak suka diamati.

saya agak kesel ketika orang dengan bangganya menunjukkan kelebihan dirinya tanpa mau tahu bahwa orang lain juga punya kelebihan. mungkin orang ini tidak sadar akan apa yang dilakukannya, tapi yang bikin kesel seandainya orang ini sadar dan terus melakukannya. dia terus berbicara dengan gayanya yang seolah-olah orang begitu memperhatikannya.

kasus syeh puji terungkap kembali, gara-garanya dia tidak mau absen ke kepolisian. syeh puji merasa bahwa dirinya telah bebas dan punya hak untuk tidak dikekang oleh aturan yang ada. dirinya malah menjadi pembicara di beberapa seminar dan acara-acara lain. syeh puji merasa bahwa dirinya orang yang kuat dan tidak takut hanya kepada aparat. maaf jika salah menafsirkan, tapi saya heran saja seandainya ada orang salah tapi tidak merasa bersalah dan malah sesumbar.

malah yang saya heran mui jateng malah membela syeh puji, beliau mengatakan bahwa pernikahan syeh puji denga ulfa telah sah secara hukum dan agama. mungkin memang sah secara agama, tapi kemudian ada aspek-aspek lain yang juga tidak boleh dinafikkan begitu saja. saya pribadi masih belum yakin bahwa ulfa mengerti hakikat pernikahan secara utuh. bahkan saya tidak yakin, ulfa telah tahu tanggung jawab dalam sebuah pernikahan.

bagi saya, ulfa masih sangat muda untuk menjalani kehidupan sebagai seorang istri. dia harusnya masih bersenang-senang di sekolah bersama dengan teman-temannya. dia belum pantas menjadi seorang ibu karena memang dia masih terlalu muda. masa depan ulfa juga masih sangat panjang. dan seharusnya dirinya masih harus sekolah hingga perguruan tinggi.

saya tidak habis pikir kenapa ada orang yang tega menikahi anak kecil, padahal dirinya sudah sangat berumur. ditambah dirinya juga sudah mempunyai istri, yang saya heran lagi istrinya malah mengijinkan suaminya menikah lagi. bagi saya, istri cukup satu dan cukup setia dengan satu pasangan itu jauh lebih mulia dan jauh lebih baik. karena istri juga manusia biasa yang bisa sakit hati ketika melihat suaminya dengan perempuan lain.

sebenarnya jika dari awal pernikahan sudah dibuat komitmen bersama, masing-masing tidak akan saling melukai satu sama lainnya. karena pernikahan itu kan inti dari kerjasama dan saling mengerti satu sama lainnya. sayang ya, kadang peremuan tidak mau dibela. dia lebih yakin dan lebih tertarik dengan iming-iming syurga ketika suaminya menikah lagi. padahal jalan menujur syurga itu sangat banyak dan tidak hanya lewat poligami. masuk syurga bisa dengan: amal, membangun masjid, menyantuni anak yatim, menolong orang, bekerja keras, memberi beasiswa, dan lain-lainnya.
Continue Reading...
 

Site Info

Welcome to my blog, this blog after upgrade theme.

Text

Berjuang Untuk 'Nilai' Copyright © 2009 imma is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template @rtNyaDesign Design My Blog